Beranda » Manhaj » Menukil Kebenaran dari Ahlul Bid’ah, Bolehkah?

Menukil Kebenaran dari Ahlul Bid’ah, Bolehkah?

(Menyingkap Syubhat Kebatilan Saudara Abu Muawiyah Hammad)

Oleh: dr. M Faiq Sulaifi

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه، أما بعد

Alhamdulillah, penulis sudah menghentikan penyebaran beberapa edisi (beberapa bulan) dari Majalah Akhwat di kalangan Salafiyyin Tuban dan Lamongan. Beberapa sebabnya adalah karena syubhat-syubhat yang dimuat dalam majalah ini. Syubhat terakhir adalah kerancuan dan kebatilan yang dikandung oleh Saudara Abu Muawiah dalam tulisannya yang dimuat oleh situs Al-Atsariyyah.com yang berjudul Menukil Kebenaran Dari Selain Ahlussunnah.

Saudara Abu Muawiah menyimpulkan dalam tulisan tersebut:

“Adapun dari sisi hukum syar’i keagamaan, maka jawabannya sebenarnya juga sudah jelas,yakni boleh menukil ucapan selain ahlussunnah selama itu merupakan kebenaran dan itu tidak menunjukkan ahlussunnah tersebut mentazkiyah (merekomendasi) selain ahlussunnah tersebut.”

Ucapan Saudara Abu Muawiah di atas adalah sesuatu yang besar di kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ

 “(Ingatlah) di waktu kalian menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kalian katakan dengan mulut kalian apa yang tidak kalian ketahui sedikit juga, dan kalian menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (QS. An-Nur: 15).

Untuk itu perlu dibedah dan diterangkan kepada ummat tentang bahayanya .

ANTARA MENERIMA KEBENARAN & MENCARI KEBENARAN

Mengambil kebenaran haruslah dari ahlinya yaitu para ulama rabbani yang lurus manhajnya. Allah U berfirman:

اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepada kalian; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Yasin: 21).

Allah U juga berfirman:

أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ

 “Mereka (para nabi) itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (QS. Al-An’am: 90).

Rasulullah e juga memberitakan tanda-tanda hari kiamat, yang di antaranya adalah banyaknya orang mengambil (baca: copas/copy paste) ilmu agama dari ahlul bid’ah. Beliau bersabda:

إن من أشراط الساعة ثلاثة إحداهن أن يلتمس العلم عند الأصاغر

“Sesungguhnya termasuk tanda hari kiamat ada 3, salah satunya adalah diambilnya ilmu dari orang-orang kecil.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Kabir: 18760 (22/361), Abu Nu’aim dalam Ma’rifatus Shahabah: 6077 (19/392) dan lain-lain. Di-shahih-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah: 695).

Al-Imam Ibnul Mubarak ? ditanya:

من الأصاغر؟ قال: أهل البدع

“Siapakah orang-orang kecil itu?” Beliau menjawab: “Ahlul bid’ah.” (Atsar riwayat Al-Khathib dalam Al-Jami’ li Akhlaqir Rawi wa Adabis Sami’: 161 (1/180)).

Dan masih banyak teks dalam Al-Quran maupun As-Sunnah yang sejenis. Semuanya membawa kepada satu kesimpulan yaitu wajibnya pilih-pilih di dalam mencari kebenaran. Kebenaran hanyalah dicari dan diteladani dari mereka yang mengikuti manhaj para nabi dan salafush shalih baik dalam bidang aqidah, ibadah, akhlaq, muamalah dan sebagainya. Kita dilarang mencari kebenaran dari semua orang yang kita kenal.

Oleh karena itu Al-Imam Ibnu Sirin ? berkata:

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka hendaknya kalian melihat dari siapa kalian mengambil ilmu agama kalian.” (Atsar riwayat Muslim dalam Shahihnya: 1/33 dan Ad-Darimi dalam Sunannya: 419).

Dan menukil keterangan atau kebenaran dari pengusung hawa nafsu adalah termasuk dalam Bab mengambil kebenaran dari mereka.

Oleh karena itu para ulama melarang kita membaca dan melihat-lihat isi kitab-kitab ahlul bid’ah apalagi menukilnya dan menjadikannya sebagai sumber rujukan.

Sa’id bin Amr Al-Bardza’i ? berkata:

شهدت أبا زرعة وسئل عن الحارث المحاسبي وكتبه فقال للسائل إياك وهذه الكتب هذه كتب بدع وضلالات عليك بالأثر فإنك تجد فيه ما يغنيك عن هذه الكتب

“Aku menyaksikan Al-Imam Abu Zur’ah dan beliau ditanya tentang Al-Harits Al-Muhasibi (tokoh sufi) dan kitab-kitabnya. Beliau berkata kepada penanya: “Jauhilah kitab-kitab ini! Ini adalah kitab-kitab bid’ah dan kesesatan. Wajib atasmu berpegang pada atsar (As-Salaf)! Karena kamu akan mendapatkan sesuatu yang mencukupi dari kitab-kitab tersebut.” (Tarikh Baghdad: 8/215, Siyar A’lamin Nubala’: 12/112).

Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi ? berkata:

ومن السنة: هجران أهل البدع ومباينتهم، وترك الجدال والخصومات في الدين، وترك النظر في كتب المبتدعة، والإصغاء إلى كلامهم، وكل محدثة في الدين بدعة

“Dan termasuk dari As-Sunnah adalah memboikot dan menjauhi ahlul bid’ah, tidak mengadakan perdebatan dalam Ad-Dien, tidak melihat (apalagi menukil, pen) dalam kitab-kitab ahlul bid’ah, dan tidak mendengarkan ucapan mereka. Setiap perkara baru dalam Ad-Dien adalah bid’ah.” (Lum’atul I’tiqad: 32).

Jika melihat dan membaca-baca kitab tokoh-tokoh sesat saja terlarang, maka menukil dan menjadikannya sebagai rujukan adalah lebih terlarang lagi.

Dan inilah yang tampak dari maksud “menukil” dalam artikel Saudara Abu Muawiah. Yaitu meng-copas tulisan “orang-orang yang bermasalah” kemudian disejajarkan dengan keterangan ulama As-Sunnah dalam suatu bab pembahasan kebenaran.

Sebagai contoh adalah penukilan Saudara Abu Muawiah terhadap keterangan Ali Hasan Abdul Hamid Al-Halabi Al-Murji’i dalam situs Kullal Salafiyyin[1] dalam Bab ini. Begitu juga majalah Akhwat yang menjadi binaannya juga menukil keterangan Salim Al-Hilali hadahullah tetapi dengar “gelar” kemuliaan hafizhahullah.

Khusus untuk Ali Hasan Al-Halabi, Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts Al-Ilmiyyah wal Ifta’ dalam fatwanya nomor: 21517 yang ditandatangani oleh Asy-Syaikh Abdul Aziz Alusy Syaikh (ketua), Abdullah Ghudayyan (anggota), Shalih Fauzan (anggota) dan Bakar Abu Zaid (anggota) menyatakan:

لهذا فإن اللجنة الدائمة ترى أن هذين الكتابين لا يجوز طبعهما ولا نشرهما ولا تداولهما ؛ لما فيهما من الباطل والتحريف ، وننصح كاتبهما أن يتقي الله في نفسه وفي المسلمين ، وبخاصة شبابهم ، وأن يجتهد في تحصيل العلم الشرعي على أيدي العلماء الموثوق بعلمهم وحسن معتقدهم ،

“Oleh karena itu (alasan berisi pemahaman Murjiah, pemutarbalikan ucapan ulama, dsb, pen), Al-Lajnah Ad-Daimah berpendapat bahwa kedua kitab tersebut  (Shaihatu Nadzir dan At-Tahdzir min Fitnatit Takfir tulisan Ali Hasan Al-Halabi, pen) tidak boleh dicetak, tidak boleh disebarkan dan diedarkan, karena di dalamnya terkandung kebatilan dan pemutarbalikan (dalil). Dan kami menasehati penulisnya (Ali Al-Halabi) untuk bertakwa kepada Allah dalam urusan dirinya dan urusan kaum muslimin, khususnya para pemuda mereka. Dan hendaknya ia (Ali Al-Halabi) bersungguh-sungguh untuk belajar ilmu syar’i melalui tangan para ulama yang tsiqat keilmuannya dan bagus aqidahnya…” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah Al-Majmu’ah Ats-Tsaniyah nomor: 21517 (2/137)).

Ternyata peringatan dari Al-Lajnah Ad-Daimah ini tidak membuat Ali Hasan bertaubat dari bid’ah murji’ahnya. Ia justru menggalang dukungan dari Markiz Al-Albani untuk membantah Al-Lajnah Ad-Daimah. Akhirnya Markiz Al-Albani menerbitkan buku yang berjudul “Mujmal Masa’il Al-Iman” yang disusun secara patungan oleh Masyayikh Yordania seperti: Muhammad Musa Nashr, Ali Hasan, Salim Al-Hilali, Masyhur Hasan Salman, Husain Al-Awaisyah, dll.

Oleh karena itu ketika Al-Allamah Ahmad bin Yahya An-Najmi ? (Mufti Negara Saudi Arabia bagian Selatan) ditanya tentang bolehnya mengambil ilmu dari Masyayikh Yordania (Markiz Al-Albani), maka beliau ? menjawab:

لا يؤخذ منهم العلم لمخالفتهم منهج السلف

“Tidak boleh mengambil ilmu dari mereka karena mereka menyelisihi manhaj As-Salaf!”(Hiwar ma’a Ali Al-Halabi: 8).

 MENERIMA KEBENARAN

Adapun menerima kebenaran, maka kita menerima kebenaran dari manapun datangnya. Apakah yang membawanya itu syetan, orang kafir dan sebagainya. Jika ada yang menasihati kesalahan kita maka kita harus menerimanya jika memang isinya sesuai dengan kebenaran.

Thufail saudara Aisyah t berkata:

قال رجل من المشركين لرجل من المسلمين نعم القوم أنتم لولا انكم تقولون ما شاء الله وشاء محمد فسمع النبي صلى الله عليه و سلم فقال لا تقولوا ما شاء الله وشاء محمد ولكن قولوا ما شاء الله ثم شاء محمد

“Seseorang dari kaum musyrikin berkata kepada seseorang dari kaum muslimin: “Kalian adalah sebaik-baik kaum seandainya kalian tidak mengucapkan: “Atas kehendak Allah dan kehendak Muhammad.” Maka Nabi e bersabda: “Janganlah kalian mengatakan: “Atas kehendak Allah dan kehendak Muhammad” tapi katakanlah: “Atas kehendak Allah kemudian kehendak Muhammad.” (HR. Ad-Darimi: 2699, Ibnu Majah: 2109 dan di-shahih-kan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah: 1721).

Begitu pula ketika Abu Hurairah t menerima keutamaan ayat kursi (yang bisa mengusir syetan) dari seorang syetan. Ia langsung mengkroscek kebenaran nasehat syetan ini kepada Rasulullah r. Rasulullah e menjawab:

أَمَا إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ تَعْلَمُ مَنْ تُخَاطِبُ مُنْذُ ثَلَاثِ لَيَالٍ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ لَا قَالَ ذَاكَ شَيْطَانٌ

“Kali ini ia benar (tentang ayat Kursi yang bisa mengusir syetan, pen). Akan tetapi ia adalah seorang pendusta. Tahukah kamu orang yang kamu ajak berbicara selama 3 malam itu, wahai Abu Hurairah?” Ia adalah syetan.” (HR. Al-Bukhari: 3033 dan 8/102 dan At-Tirmidzi: 2805).

Kedua hadits di atas memberikan pelajaran bahwa siapa pun yang memberikan nasehat kepada kita baik itu orang kafir, syetan dsb maka nasehat tersebut harus kita terima jika sesuai dengan kebenaran.

Dan bab ‘menukil kebenaran’ tidak sama dengan bab ‘menerima kebenaran’. Seandainya sama, tentulah Rasulullah e akan menukil ucapan orang kafir tersebut untuk disampaikan di dalam majelis beliau. Akan tetapi beliau e hanyalah berkata: “Janganlah kalian mengatakan: “Atas kehendak Allah dan kehendak Muhammad” tapi katakanlah: “Atas kehendak Allah kemudian kehendak Muhammad.” Beliau tidaklah berkata: “Seorang kafir berkata: “Kalian adalah sebaik-baik kaum seandainya kalian tidak mengucapkan: “Atas kehendak Allah dan kehendak Muhammad.”

Begitu pula Abu Hurairah t, ketika menjelaskan keutamaan ayat kursi. Beliau t hanyalah menisbatkan ilmu tentang keutamaan ayat kursi kepada Rasulullah e saja. Beliau tidak berkata dalam majelis beliau: “Syetan Al-Kadzdab berkata…..” Wallahu a’lam.

Begitu pula seandainya Saudara Abu Muawiah dinasehati oleh seorang dukun agar tetap beristiqamah di atas As-Sunnah, maka Saudara Abu Muawiah tidak akan menukil ucapan dukun tadi baik dalam majelis ataupun tulisan. Ini karena bab ‘menukil nasehat’ dan bab‘menerima nasehat’ adalah berbeda.

Maka jika Rasulullah e bersabda bahwa sombong adalah menolak Al-Haq dan meremehkan manusia (HR. Muslim: 131, Abu Dawud: 3569, At-Tirmidzi: 1922),  sebaliknya bahwa tawadlu’ adalah menerima kebenaran dari siapa pun datangnya.

Oleh karena itu, dalam bab ‘menerima kebenaran’ berlaku pepatah:

اُنْظُرْ إِلَى مَا قَالَ وَلَا تَنْظُر إِلَى مَنْ قَالَ

“Lihatlah kepada apa yang diucapkan dan janganlah melihat siapa yang mengucapkan!” (Hasyiah As-Sindi ala Ibni Majah: 8/26).

Sedangkan dalam bab ‘penukilan’‘periwayatan’‘talaqqi (pengambilan atau pencarian ilmu)’ berlaku ucapan Al-Imam Al-Barbahari ?:

إن هذا العلم دين فانظروا ممن تأخذون دينكم ولا تقبلوا الحديث الا ممن تقبلون شهادته فانظر إن كان صاحب سنة له معرفة صدوق كتبت عنه وإلا تركته

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka hendaknya kalian melihat dari siapa kalian mengambil agama kalian. Janganlah kalian menerima hadits kecuali dari orang yang kalian terima persaksiannya! Maka lihatlah, jika ia adalah ahlus sunnah yang mempunyai ilmu yang benar maka tulislah (baca: nukillah) darinya. Dan jika tidak, maka tinggalkanlah!” (Syarhus Sunnah lil Barbahari: 118 (55)).

MENUKIL UNTUK MENEGAKKAN HUJJAH 

Ketika Saudara Abu Muawiah mencari pembenaran untuk artikelnya dari penjelasan Asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alusy Syaikh حفظه الله, Saudara Abu Muawiah melakukan 2 kesalahan:

Pertama: Menukilkan ucapan Asy-Syaikh Shalih  melalui perantaraan situs Kullal Salafiyeen milik Ali Hasan Al-Halabi, salah seorang yang bermasalah.

Kedua: Memotong tulisan Asy-Syaikh Shalih  sehingga maksud dan tujuan penjelasan beliau tidak diketahui oleh Saudara Abu Muawiah (dan tentu saja tidak diketahui oleh pembaca artikel “Pembelaan Diri”nya). Semoga ini bukan sebuah kesengajaan untuk memalingkan dan menipu umat dari penjelasan -yang sebenarnya- seorang ulama besar Ahlussunnah.

Untuk bagian pertama sudah jelas bahwa kita harus berhati-hati dari orang yang dituduh suka memutarbalikkan ucapan ulama seperti Ali Hasan ini sebagaimana tahdzir dari Al-Lajnah Ad-Daimah di atas.

Untuk yang kedua, Asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alusy Syaikh menjelaskan tujuan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ? menukil ucapan banyak tokoh dari sekte-sekte bid’ah tentang asma’ wash shifat dalam Al-Aqidah Al-Hamawiyah Al-Kubra. Asy-Syaikh Shalih berkata:

…..وأيضا تكثير النقول عن الناس على اختلاف مذاهبهم هذا يفيد في أن الحق ليس غامضا؛ بل هو كثير، شائع، بيِّن.

“….Lagipula, memperbanyak penukilan (sebuah kebenaran, pent.) dari orang-orang bersamaan dengan berbeda-bedanya mazhab dan pemikiran mereka, hal ini menunjukkan bahwa kebenaran (yang dinukil) itu bukanlah hal yang tersembunyi, namun kebenaran tersebut sudah banyak tersebar luas.” (Syarh Al-Aqidah Al-Hamawiyah Al-Kubra: 263).

(Sampai di sini Saudara Abu Muawiah memotong ucapan Asy-Syaikh Shalih Alusy Syaikh)

Padahal Asy-Syaikh Shalih belum menyelesaikan penjelasan beliau. Beliau berkata pada halaman berikutnya:

فإذن فهذه النقول الكبيرة من مخالفين في العقيدة، ومن متكلمين، ومن أشاعرة فيما نقل شيخ الإسلام في هذه العقيدة الحموية تدلُّ على أن النقل لإقامة الحجة وللتكثير والإفادة منه عن من عليه نزعة اعتقاد باطل أنه لا بأس به إذا كانت الحاجة للنقل عنه قائمةً: إما في إقامة الحجة أو في تكثير من قال بهذا القول أو لغرض شرعي صحيح.

“Kalau begitu, penukilan yang besar (banyak) dari orang-orang yang menyelisihi dalam aqidah, dari para ahlil kalam dan juga dari orang-orang Asy’ariyyah di dalam penukilan yang dilakukan oleh Syaikhul Islam di dalam kitab Al-Aqidah Al-Hamawiyah ini, menunjukkan bahwa tujuan penukilan tersebut adalah untuk menegakkan hujjah, dan juga untuk memperbanyak pendapat. Mengambil faidah dari penukilan dari orang-orang yang mempunyai sebagian aqidah yang batil adalah tidak apa-apa jika kebutuhan atasnya telah tegak: yaitu untuk menegakkan hujjah atau untuk memperbanyak orang yang berpendapat dengan kebenaran tersebut atau karena tujuan syar’i yang benar.” (Syarh Al-Aqidah Al-Hamawiyah Al-Kubra: 265).

Sebagai contohnya adalah penukilan Syaikhul Islam ? atas ucapan Abu Sulaiman Al-Khaththabi yang membenarkan pendapat As-Salaf dalam Al-Asma’ wash Shifat dalam kitabnya“Al-Ghunyah anil Kalam wa Ahlih”. (Al-Aqidah Al-Hamawiyah Al-Kubra: 42). Al-Khaththabi adalah ulama pensyarah hadits yang bermadzhab Syafi’i dan beraqidah Asy’ari. Ucapannya dinukil oleh Syaikhul Islam  agar menjadi hujjah bagi para pengikut Asy’ariyyah Syafi’iyyah.

Syaikhul Islam  juga menukil ucapan Al-Arif billah Mu’ammar bin Ahmad Al-Ashbahani, Syaikh kaum Sufiyyah abad ke 4 di negerinya. Al-Ashbahani ini memberikan wasiat kepada para sahabatnya agar meyakini keyakinan Ahlul hadits yaitu mengimani sifat-sifat Allah dengan tanpa membahas kaifiyatnya, tanpa menyerupakan dengan makhluk, dan tanpa menakwilnya (memalingkan makna sebenarnya). (Al-Aqidah Al-Hamawiyah Al-Kubra: 44). Ucapan ini dinukil agar menjadi hujjah bagi kaum Shufiyyah.

Dan masih banyak tokoh yang dinukil oleh Syaikhul Islam  seperti Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dengan tujuan menegakkan hujjah bagi kaum Shufiyyah. Cara atau manhaj yang ditempuh oleh Syaikhul Islam ini telah dibenarkan dalam agama Islam.

Allah U menegakkan hujjah kepada orang kafir ahlul kitab dengan ucapan ulama ahlul kitab yang beriman. Allah U berfirman:

وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَسْتَ مُرْسَلًا قُلْ كَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَمَنْ عِنْدَهُ عِلْمُ الْكِتَابِ

“Berkatalah orang-orang kafir: “Kamu bukan seorang yang dijadikan Rasul”. Katakanlah: “Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kalian, dan antara orang yang mempunyai ilmu Al Kitab.” (QS. Ar-Ra’d: 43).

Contoh yang lainnya adalah dijadikannya Sa’ad bin Mu’adz t sebagai hakim dan hujjah bagi Yahudi Bani Quraizhah karena mereka sangat menghormati Sa’ad. Ketika Sa’ad memutuskan agar Bani Quraizhah dibunuh dan anak-anak serta wanita mereka ditawan maka Rasulullah e bersabda:

قَضَيْتَ بِحُكْمِ اللَّهِ

“Engkau telah memutuskan perkara dengan hukum Allah.” (HR. Al-Bukhari: 3812, Muslim: 3314, At-Tirmidzi: 1508).

Demikian pula yang dilakukan oleh Asy-Syaikh Rabi’ حفظه الله  dalam Manhajul Anbiya’ fid Da’wati ilallah. Beliau mengutip ucapan At-Tilmisani dan Sayyid Quthb dalam rangka menegakkan hujjah. Kitab Manhajul Anbiya’ ditulis oleh beliau untuk mengobati kaum muslimin secara umum serta para da’i dan pemuda yang terjangkiti virus harakah –seperti gerakan Ikhwanul Muslimin dan sejenisnya- secara khusus. Dan kebanyakan mereka itu menggandrungi Sayyid Quthb dan pemikirannya. Sehingga hujjah perlu ditegakkan melalui ucapan tokoh yang mereka gandrungi itu.

Adapun apa yang dilakukan oleh Saudara Abu Muawiah dengan menukil situs Kullal Salafiyeen binaan Ali Al-Halabi tentang bolehnya menukil kebenaran dari selain Ahlussunnah maka tujuannya bukanlah untuk menegakkan hujjah, akan tetapi hanya untuk mencari pembenaran atas pendapat Saudara Abu Muawiah yang batil. Wallahu a’lam.

MENUKIL UNTUK MEMPERBANYAK PENDAPAT

YANG SESUAI DENGAN KEBENARAN

Adapun menukil pendapat ahlul batil dengan tujuan memperbanyak pendapat yang mendukung kebenaran, maka ini seperti yang dicontohkan oleh Al-Imam Al-Bukhari ? –dalam Shahihnya- ketika membawakan kisah Heraklius, pembesar Romawi yang berdialog dengan Abu Sufyan tentang perihal Rasulullah e. Dalam kisah tersebut terdapat ucapan Ibnun Nazhur:

وَكَانَ هِرَقْلُ حَزَّاءً يَنْظُرُ فِي النُّجُومِ فَقَالَ لَهُمْ حِينَ سَأَلُوهُ إِنِّي رَأَيْتُ اللَّيْلَةَ حِينَ نَظَرْتُ فِي النُّجُومِ مَلِكَ الْخِتَانِ قَدْ ظَهَرَ فَمَنْ يَخْتَتِنُ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ

“Heraklius adalah seorang peramal (paranormal) yang percaya dengan astrologi (ilmu nujum). Ketika ditanya (tentang perihal Rasulullah e), ia berkata: “Sesungguhnya ketika meramal dengan astrologi, tadi malam aku telah melihat  bahwa seorang raja yang berkhitan (yakni Rasulullah e, pen) telah muncul. Siapakah yang berkhitan di kalangan umat ini?” (HR. Al-Bukhari: 6).

Al-Hafizh Ibnu Hajar ? berkata:

فإن قيل كيف ساغ للبخاري إيراد هذا الخبر المشعر بتقوية أمر المنجمين والاعتماد على ما تدل عليه احكامهم فالجواب أنه لم يقصد ذلك بل قصد أن يبين أن الإشارات بالنبي صلى الله عليه و سلم جاءت من كل طريق وعلى لسان كل فريق من كاهن أو منجم محق أو مبطل أنسى أو جنى وهذا من أبدع ما يشير إليه عالم أو يجنح إليه محتج

“Jika ditanyakan tentang apa alasan Al-Bukhari membawakan kisah yang memperkuat (mendukung) urusan ahli nujum (paranormal) dan memakai hukum-hukum astrologi? Maka jawabannya adalah bahwa beliau tidak bermaksud demikian tetapi bermaksud menjelaskan bahwa isyarat diutusnya Nabi e itu telah datang dari segala jalan dan dari segala lesan (pendapat) dari segala golongan baik itu dukun, paranormal yang benar atau yang salah, baik dari bangsa jin ataupun manusia. Dan ini adalah isyarat yang paling indah yang dipaparkan oleh seorang alim (semisal Al-Bukhari, pen) atau yang menjadi kecenderungan orang yang berhujjah.” (Fathul Bari: 1/41).

Adapun apa yang dilakukan oleh Saudara Abu Muawiah dengan menukil Kullal Salafiyeen, maka yang jelas bukanlah untuk memperbanyak pendapat yang mendukung kebenaran melainkan hanya sekedar mencari pembenaran atas pendapatnya yang batil.

 MENUKIL PENDAPAT SELAIN AHLUS SUNNAH

UNTUK MEMBANTAHNYA

Seorang ulama yang ilmunya sudah mumpuni  diperbolehkan menukil pendapat Ahlul Bid’ah dengan tujuan untuk membantah dan mentahdzirnya.

Asy-Syaikh Al-Allamah Shalih Fauzan –hafizhahullah- ditanya:

س 48 : ما هو القول الحق في قراءة كتب المبتدعة، وسماع أشرطتهم ؟ .

جـ/ لا يجوز قراءة كتب المبتدعة، ولا سماع أشرطتهم؛ إلا لمن يريدأن يَرُدَّ عليهم ويُبيِّن ضلالهم .أما الإنسان المبتدئ، وطالب العلم، أو العامي، أو الذي لا يقرأ إلا لأجل الاطلاع فقط، لا لأجل الرَّد وبيان حالها؛ فهذا لا يجوز له قراءتها؛ لأنها قد تؤثر في قلبه وتُشَبِّه عليه فيصاب بشرها. فلا يجوز قراءة كتب أهل الضلال؛ إلا لأهل الاختصاص من أهل العلم، للرَّد عليها، والتحذير منها.

“Bagaimana pendapat yang benar tentang membaca buku-buku ahlul bid’ah dan mendengarkan kaset-kasetnya?”

Beliau menjawab: “Tidak boleh membaca buku-buku ahlul bid’ah dan tidak boleh mendengarkan kaset-kaset mereka, kecuali bagi orang yang ingin membantahnya dan menjelaskan kesesatan mereka. Adapun manusia yang masih pemula, penuntut ilmu, orang awam, atau orang yang sekedar membaca saja, tidak untuk membantahnya dan menjelaskan keadaannya, maka orang-orang seperti ini tidak boleh membacanya. Karena buku-buku tersebut kadang-kadang memberikan pengaruh dan syubhat pada hati mereka sehingga tertimpa kejelekannya. Maka tidak boleh membaca buku-buku ahlul bid’ah, kecuali bagi para ulama yang memiliki kekhususan untuk membantah dan mentahdzir darinya.” (Al-Ajwibah Al-Mufidah an As’ilatil Manahijil Jadidah: 73-74).

Sehingga jika seorang ulama akan membantah suatu pendapat sesat dalam suatu kitab, maka ia harus membaca pendapat sesat tersebut dengan teliti, kemudian ia menukil pendapat tersebut dalam kitab bantahannya, baru kemudian ia membantahnya.

Allah U juga pernah menukil ucapan kaum Yahudi dan Nashara yang sesat dengan tujuan untuk dibantah. Allah U berfirman:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ

“Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS. At-Taubah: 30).

Sehingga perbuatan Saudara Abu Muawiah yang menukil situs Kulal Salafiyeen tanpa tujuan untuk menegakkan hujjah, memperbanyak pendapat yang benar atau membantah pendapat yang dinukil adalah termasuk bentuk kejahilan yang nyata. Apalagi situs ini ternyata juga telah diperingatkan bahayanya oleh Asy Syaikh Shaleh As Suhaimi hafizhahullah. Tentu saja bagi orang yang sudah terlanjur memiliki keyakinan bahwatahdziran yang disebarkan di situs-situs Ahlussunnah tersebut kurang bermanfaat maka wajar jika dia tidak lagi peduli dengan tahdziran dan peringatan ulama sehingga situs-situs bermasalah malah dijadikannya sebagai rujukan dalam beragama, seorang pencuri dimuliakan dengan do’a hafizhahullah (bukannya malah dido’akan hadahullah agar dia mendapatkan hidayahNya) dan seorang penyusup, mata-mata Ikhwanul Muslimin sekaligus pendusta Haddadi-pun diberi baju kepalsuan sebagai Al-Fadhil Hafizhahullah. Ini adalah mushibah yang sangat mengerikan, sesat dan menyesatkan. Wallahul musta’an.

 MENUKIL PENDAPAT TOKOH YANG SUDAH MATI

Adapun menukil pendapat selain Ahlussunnah yang telah meninggal maka hukumnya lebih aman daripada menukil dari mereka ketika mereka masih hidup. Karena orang yang masih hidup tidaklah aman dari fitnah.

Abdullah bin Mas’ud t berkata:

أَلاَ لاَ يُقَلِّدَنَّ رَجُلٌ رَجُلاً دِينَهُ فَإِنْ آمَنَ آمَنَ وَإِنْ كَفَرَ كَفَرَ فَإِنْ كَانَ مُقَلِّدًا لاَ مَحَالَةَ فَلْيُقَلِّدِ الْمَيِّتَ وَيَتْرُكِ الْحَىَّ فَإِنَّ الْحَىَّ لاَ تُؤْمَنُ عَلَيْهِ الْفِتْنَةُ.

“Ingatlah! Janganlah seseorang bertaqlid kepada orang lain dalam agamanya! Jika orang itu beriman maka ia ikut beriman dan jika orang itu kafir maka ia akan ikut kafir. Jika memang ia harus bertaqlid, maka bertaqlidlah kepada orang yang sudah mati. Karena orang yang masih hidup tidak aman fitnah atasnya.” (Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam Al-Kubra: 20846 (10/116), Abu Dawud dalam Az-Zuhud: 132 (1/144). Perawi Abu Dawud adalah orang-orang tsiqat kecuali Abu Shalih Al-Anthaqi. Menurut Ibnu Hajar, ia adalah shaduq. Sehingga isnad atsar ini hasan).

Al-Allamah Ibnu Utsaimin ? berkata:

(ولا تفتنا بعده) يعني لا تضلنا عن ديننا بعده لأن الحي لا تؤمن عليه الفتنة مادام الإنسان لم يخرج روحه فإنه عرضة لأن يفتن في دينه والعياذ بالله

“Sabda Nabi e (Janganlah Engkau menimpakan fitnah kepada kami sepeninggal mayit) maksudnya: “Janganlah Engkau menyesatkan kami dari agama kami sepeninggalnya, karena orang yang masih hidup rentan tertimpa fitnah dalam agamanya. Kita berlindung kepada Allah darinya.” (Syarh Riyadlush Shalihin: 1065).

Oleh karena itu, ketika seorang ahlul bid’ah meninggal, maka para ulama yang sejaman dengannya merasa lega atas kematiannya karena dampak fitnah syubhat dari orang itu mereda.

Al-Khathib Al-Baghdadi dan Ad-Dailami berkata:

إذا مات صاحب بدعة فقد فتح في الإسلام فتح

“Jika seorang ahlul bid’ah telah mati, maka terbukalah bagi Al-Islam sebuah pintu pembuka.” (Ash-Shawa’iq al Muhriqah ala Ahlir Rafdli wadl Dlalal waz Zandaqah: 1/9).

Al-Allamah Al-Munawi mengomentari ucapan Al-Khathib:

أي أغلق باب الضرر عن الناس سيما إن كان داعية ، وفتح باب النفع ،

“Maksudnya (dengan kematian ahlul bid’ah) maka tertutuplah pintu bahaya atas manusia apalagi jika ia adalah seorang  orang yang mengajak kepada bid’ahnya dan juga terbukalah pintu manfaat.” (Faidlul Qadir: /1563).

Bisyr bin Al-Harits Al-Hafi ? berkata:

جاء موت هذا الذي يقال له المريسي وأنا في السوق فلولا أن الموضع ليس موضع سجود لسجدت شكرا الحمد لله الذي أماته

“Telah datang kepadaku berita kematian seseorang yang disebut dengan (Bisyr) Al-Marisi ketika aku masih berada di pasar. Seandainya tempatku (pasar) itu adalah tempat sujud, maka aku akan melakukan sujud karena bersyukur. Segala puji bagi Allah yang telah mematikannya.” (Talbis Iblis: 16).

Untuk menyikapi tokoh-tokoh yang masih hidup yang dulunya berjalan di atas As-Sunnah kemudian menyimpang, Al-Allamah Muqbil Al-Wadi’i rahimahullah pernah ditanya:

الذين كانوا يعتبرون على المنهج الصحيح ثم زاغوا عنه هل يجوز لنا الاستماع إلى أشرطتهم أو قراءة كتبهم المؤلفة قديمًا وكذا محاضراتهم؟

“Orang-orang yang dianggap berjalan di atas manhaj yang benar kemudian menyimpang dari manhaj tersebut, bolehkah kita mendengar kaset-kaset mereka atau membaca buku-buku mereka yang ditulis sebelum mereka menyimpang atau menghadiri muhadharah mereka?

Beliau -rahimahullah-  menjawab:

أنا لا أنصح بقراءة كتبهم ولا سماع أشرطتهم، وتعجبني كلمة عظيمة لشيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله يقول فيها: لو أن الله ما أوجد البخاري ومسلمًا ما ضيع دينه.فالله سبحانه وتعالى قد حفظ الدين…الخ

Aku tidak menasehatkan untuk membaca buku-buku mereka dan juga kaset-kaset mereka. Dan aku kagum dengan ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah- dalam masalah ini. Beliau berkata: “Seandainya Allah tidak menciptakan Al-Bukhari dan Muslim, maka Allah tidaklah menyia-siakan agama-Nya. Maka Allah U sudah menjaga agama ini…dst.” (Tuhfatul Mujib: 168).

Sebagai contoh adalah kasus yang menimpa Al-Imam Abu Hanifah. Ketika ia menampakkan penyimpangan dengan pendapat murji’ahnya yaitu bahwa iman itu tidak bertambah dan berkurang dan bahwa amal itu tidak termasuk bagian dari iman, maka para ulama yang sejaman dengannya langsung memboikotnya.

Salam bin Abi Muthi’ berkata:

كنت مع أيوب السختياني في المسجد الحرام فرآه أبو حنيفة فاقبل نحوه فلما رأه أيوب قال لأصحابه قوموا لا يعدنا بجربه قوموا لا يعدنا بجربه

“Aku bersama Al-Imam Ayyub As-Sakhtiyani di Masjidil Haram. Kemudian Abu Hanifah melihat beliau, lalu mendatangi beliau. Ketika Al-Imam Ayyub melihatnya maka beliau berkata kepada para sahabatnya: “Ayo kita bangkit (untuk pergi, pen)! Jangan sampai ia (Abu Hanifah) menulari kita dengan penyakit kudisnya! Ayo kita pergi! Jangan sampai ia menulari kita dengan penyakit kudisnya!” (Atsar riwayat Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dalam As-Sunnah: 253 (1/188-189) dan rijalnya di-tsiqat-kan oleh pentahqiq kitab).

Sa’id bin Salam rahimahullah berkata:

سألت أبا يوسف وهو بجرجان عن أبي حنيفة فقال وما تصنع به مات جهميا

“Aku bertanya kepada Al-Imam Abu Yusuf (murid Abu Hanifah) –saat beliau di Jurjan- tentang Abu Hanifah, maka beliau berkata: “Apa yang kamu perbuat dengannya? Ia telah mati sebagai Jahmiyyah.” (Atsar riwayat Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dalam As-Sunnah: 231 (1/181)).

Al-Muqri’  rahimahullah berkata:

حدثنا أبو حنيفة، وكان مرجئا ودعانى إلى الارجاء فأبيت عليه

“Abu Hanifah telah memberitakan (hadits) kepada kami. Ia adalah seorang murji’ah dan mengajakku kepada pemahaman murji’ahnya maka aku menolaknya.” (Atsar riwayat Ibnu Hibban dalam Al-Majruhin: 3/72).

Sebelum menyimpang, Al-Imam Abu Hanifah  mendapat pujian dari Al-Imam Ibnul Mubarak rahimahullah. Beliau  berkata:

أبو حنيفة أفقه الناس.

“Abu Hanifah adalah manusia yang paling faqih.” (Siyar A’lamin Nubala’: 6/403).

Dan setelah melakukan penyimpangan, Abu Hanifah ditinggalkan oleh Al-Imam Ibnul Mubarak ?. Al-Imam Ibnu Abi Hatim ? berkata:

ثم تركه ابن المبارك بأخرة سمعت ابى يقول ذلك

“Ia (Abu Hanifah) ditinggalkan oleh Ibnul Mubarak di akhir hidupnya. Aku mendengarkan ayahku (Abu Hatim Ar-Razi) menyatakan demikian.” (Al-Jarh wat Ta’dil: 8/449).

Ketika Al-Imam Abu Hanifah  sudah meninggal, maka pendapat-pendapatnya dapat dipilah-pilah mana yang sesat dan mana yang benar sehingga fitnahnya pun menjadi lebih aman sepeninggalnya. Sehingga komentar para ulama yang hidup setelahnya akan berbeda dengan komentar ulama yang semasa dengannya. Para ulama sesudahnya tetap memakai fikih dan fatwanya tetapi meninggalkan hadits dan aqidah murji’ahnya.

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

الناس عيال في الفقه على أبي حنيفة

“Manusia dalam bidang fikih menjadi keluarga yang ditanggung oleh Abu Hanifah.”(Tahdzibut Tahdzib: 10/402).

Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata:

الامامة في الفقه ودقائقه مسلمة إلى هذا الامام.

“Kepemimpinan dalam bidang fikih dan segala kerumitannya diserahkan kepada Imam ini (yakni Abu Hanifah).” (Siyar A’lamin Nubala’: 6/403).

Sehingga secara umum  di dalam menukil ucapan para ulama yang sudah meninggal dan mempunyai pendapat menyimpang atau bid’ah, Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullah memberikan kaidah dengan ucapannya:

وما وقع في فتاويهم من المسائل التي خفي عليهم فيها ما جاء به الرسول، فقالوا بمبلغ علمهم والحق في خلافها، لا يوجب اطراح أقوالهم جملة، وتنقصهم، والوقيعة فيهم؛

“Dan fatwa-fatwa mereka yang berisi permasalahan (yang menyimpang) karena tersamarnya sunnah Nabi atas mereka, sehingga mereka berfatwa sesuai dengan keilmuan mereka padahal kebenaran telah menyelisihi fatwa tersebut, maka ini tidak menyebabkan ditolaknya semua ucapan mereka, (tidak pula menyebabkan) bolehnya mencela dan menelanjangi mereka.” (I’lamul Muwaqqi’in: 3/283).

Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata:

ولو أن كل من أخطأ في اجتهاده مع صحة إيمانه، وتوخيه لاتباع الحق أهدرناه، وبدعناه، لقل من يسلم من الائمة معنا

“Seandainya setiap orang yang keliru dalam ijtihadnya dalam keadaan memiliki keimanan yang benar dan usahanya untuk mengikuti kebenaran, kita batalkan dan kita bid’ahkan maka akan sedikit para imam yang selamat bersama kita.” (Siyar A’lamin Nubala’: 14/376).

Demikianlah, bahwa menukil ucapan para ulama terdahulu yang memiliki pemahaman menyimpang itu lebih aman daripada menukil para tokoh masa kini yang telah menyimpang.Sehingga tindakan Saudara Abu Muawiyah dan juga majalah Akhwat di dalam menukil ucapan Salim Al-Hilali, Khalid Al Ghirbani,[2] Ali Hasan dan semisal mereka adalah menyelisihi manhaj yang benar. Wallahu a’lam.

Kemudian untuk menjadi perhatian kita, sebelum menukil ucapan tokoh-tokoh yang telah mati  yang menyimpang tersebut, hendaknya kita menimbang dulu tingkat kesalahan tokoh tersebut.

Al-Allamah Asy-Syaikh Shalih Fauzan حفظه الله berkata:

وأما أن هذا الخطأ إذا صح صدوره من الشخص يضيع وسط خيره الكثير؛ فهذا فيه تفصيل : إن كان هذا الخطأ في الاعتقاد بأن يكون شركًا أكبر؛ فهذا يضيع معه كل خير ولا يبقى معه عمل صالح، وإن كان الخطأ دون ذلك من مسائل الاعتقاد ولا يصل إلى حد الكفر والشرك؛ فهذا نرجو أن يغفره الله لصاحبه وأن يرجح به حسناته، وإن كان الخطأ في مسائل الاجتهاد -؛ والشخص من أهل الاجتهاد -؛ فهذا خطأ مغفور ولصاحبه الأجر على اجتهاده.

“Adapun jika kesalahan ini muncul dari seorang tokoh yang bisa menyia-siakan kebaikannya yang banyak, maka ini perlu perincian. Jika kesalahan tersebut ada dalam aqidah seperti syirik besar, maka kesalahan ini dapat melenyapkan segala kebaikan miliknya dan amal shalihnya tidak akan tersisa. Jika kesalahan tersebut lebih ringan dalam masalah aqidah dan tidak sampai kepada batas kufur dan syirik, maka kita berharap semoga Allah mengampuni tokoh tersebut dan lebih memberatkan kebaikannya. Jika kesalahan tersebut dalam maslah ijtihad –dan tokoh itu termasuk ahlul ijtihad- , maka ini adalah kesalahan yang diampuni dan pemiliknya akan diberi pahala sesuai dengan ijtihadnya.” (Al-Muntaqa min Fatawa Al-Fauzan: 26/8).

Contoh tokoh yang mempunyai kesalahan berat adalah seperti Ibnu Sina, Al-Hallaj, Ibnu Arabi, Alwi Al-Maliki dan sebagainya yang memiliki kesalahan yang membatalkan kabaikannya. Maka kita tidak boleh sedikit pun menukil ucapannya kecuali untuk membantahnya.

Contoh tokoh yang memiliki kesalahan ijtihad dalam bidang aqidah tetapi tetap diampuni karena ia memiliki kebaikan dalam Islam dan As-Sunnah adalah seperti Ibnu Hajar Al-Asqalani, An-Nawawi, Al-Qurthubi, Ibnu Hazm dan sebagainya. Maka kita boleh menukil ucapan mereka yang sesuai dengan kebenaran.

Maka bedakanlah penjelasan Penulis di atas dengan pendapat Saudara Abu Muawiah yang melakukan gebyah uyah dengan membolehkan ‘mengutip’ ucapan selain Ahlussunnah dengan tanpa batasan dan perincian dengan alasan wajibnya ‘menerima kebenaran’ dari segala pihak.

MENUKIL UNTUK TARIKH ATAU SEJARAH

Kemudian Saudara Abu  Muawiah berhujjah -untuk membolehkan  menukil kebenaran dari selain ahlussunnah- dengan perbuatan Al-Allamah Shafiyyur Rahman Al-Mubarakfuri yang menjadikan Fiqhus Sirah karya Muhammad Ghazali dan Fi Zhilalil Quran karya Sayyid Quthb sebagai rujukan dalam buku Rakhiqul Makhtum (buku tentang sejarah Nabi).

Penulis katakanMenukil keterangan dalam bidang tarikh, hari-hari manusia, nasab-nasab adalah lebih longgar dan lebih ringan daripada menukil dalam bidang aqidah, hadits dan ibadah lainnya.

Allah U berfirman:

وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لَا يَسْبِتُونَ لَا تَأْتِيهِمْ كَذَلِكَ نَبْلُوهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

“Dan tanyakanlah (Wahai Muhammad) kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.” (QS. Al-A’raf: 163).

Dalam ayat di atas Rasulullah e diperintahkan untuk bertanya kepada Bani Israil tentang kisah Ashabus Sabti. Dan Bani Israil itu meliputi orang shalih dan orang fasiq dari kalangan mereka. Ini menunjukkan bahwa menukil keterangan untuk sejarah itu lebih longgar daripada menukil keterangan untuk aqidah, manhaj dan sebagainya yang harus melalui proses tabayyun.

Allah U juga mengutip ucapan saudara-saudara Yusuf u:

وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ الَّتِي كُنَّا فِيهَا وَالْعِيرَ الَّتِي أَقْبَلْنَا فِيهَا وَإِنَّا لَصَادِقُونَ

“Dan tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada di situ, dan kafilah yang kami datang bersamanya, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar”.” (QS. Yusuf: 82).

Menurut Al-Allamah Abu Hafsh Ad-Dimasyqi, negeri yang dimaksud adalah Mesir dan kafilah yang dimaksud adalah suatu kaum dari Kan’an tetangga Ya’qub u. (Al-Lubab fi Ulumil Kitab: 11/186). Dan penduduk negeri Mesir dan kafilah dari kaum Kan’an tidak semuanya orang-orang yang shalih yang ucapannya pantas dijadikan hujjah.

Demikian juga keadaan para ahli sejarah dan ahli tarikh di kalangan umat ini, tidak semua dari mereka itu orang-orang shaleh, jujur dan mengerti ilmu sanad. Ahli sejarah yang paling baik adalah ahli sejarah yang juga ahlul hadits.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ? berkata:

فكتب المؤرخين الذين لا يقصدون الكلام على الآراء والديانات فيها ما يشتمل على الصدق والكذب وهي أكثر التواريخ التي لم توزن بتمييز أهل المعرفة بالمنقولات وكذلك الكتب التي يذكر فيها مقالات الناس وآراؤهم ودياناتهم فيها ما يشتمل على الصدق والكذب وهي ما لم توزن بنقد من يخبر المقالات وكذلك تعمد الكذب قليل في أهل العقول والديانات المصنفين لتواريخ السير

“Maka kitab-kitab ahli sejarah (tarikh) yang tidak ingin membicarakan perbedaan pendapat dan aliran keagamaan, di dalamnya terdapat berita yang benar dan berita yang dusta. Dan ini adalah kebanyakan kitab tarikh yang tidak ditimbang dengan timbangan ahlul hadits yang mengerti seluk beluk periwayatan. Demikian pula kitab-kitab yang membahas pendapat dan aliran keagamaan manusia (semisal Al-Milal wan Nihal, Al-Farqu bainal Firaq, pen), di dalamnya terdapat keterangan yang benar dan keterangan yang dusta. Dan ini adalah kitab-kitab maqalat yang tidak ditimbang dengan kritik para ahlul maqalat. Demikian pula, menyengaja berdusta adalah sangat sedikit di kalangan para ahlul maqalat yang menyusun kitab-kitab sirah.” (Ar-Raddu alal Bakri: 181).

Salah satu contoh ahli tarikh adalah Muhammad bin Umar Al-Waqidi penulis kitab Al-Maghazi. Ia dinilai matrukul hadits (orang yang ditinggalkan haditsnya) oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar (Taqibut Tahdzib: 882) dan Al-Hafizh Adz-Dzahabi (Mizanul I’tidal: 3/662-3).

Sehingga  dalam periwayatan hadits, Al-Waqidi adalah sangat lemah tidak bisa dijadikan penguat riwayat (mutaba’ah). Tetapi untuk bidang tarikh dan hari-hari manusia, Syaikhul Islam rahimahullah  mempunyai komentar lain. Beliau berkata:

وَقَدْ عُلِمَ كَلَامُ النَّاسِ فِي الواقدي فَإِنَّ مَا يَذْكُرُهُ هُوَ وَأَمْثَالُهُ إنَّمَا يُعْتَضَدُ بِهِ وَيُسْتَأْنَسُ بِهِ وَأَمَّا الِاعْتِمَادُ عَلَيْهِ بِمُجَرَّدِهِ فِي الْعِلْمِ فَهَذَا لَا يَصْلُحُ

“Dan telah diketahui pendapat manusia tentang Al-Waqidi. Maka perkara yang disebutkan oleh Al-Waqidi dan semisalnya hanyalah untuk dijadikan penguat (berita) dan penghibur saja. Adapun jika hanya bersandar pada riwayat Al-Waqidi saja dalam masalah ilmu (yakni Al-Quran dan As-Sunnah, pen), maka ini tidaklah pantas.” (Majmu’ul Fatawa: 27/469).

Oleh karena itu Syaikhul Islam rahimahullah juga beberapa kali membawakan riwayat Al-Waqidi dalam beberapa kitab beliau. Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah juga banyak membawakan riwayat Al-Waqidi dalam Al-Bidayah wan Nihayah. Demikian pula Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah, beliau juga banyak membawakan riwayat Al-Waqidi dalam Siyar A’lamin Nubala’.

Dan ada satu hal yang sangat penting untuk diketahui oleh Saudara Abu Muawiah, bahwaAl-Allamah Shafiyyur Rahman hanyalah mengutip berita dan khabar dari Sayyid Quthub dan Muhammad Ghazali sebagaimana Ibnu Katsir dan Adz-Dzahabi menukil periwayatan dari Al-Waqidi. Beliau tidaklah mengutip opini dan pendapat kedua orang tersebut. Wallahu a’lam.

ANTARA MENUKIL DAN REKOMENDASI

Seseorang yang menukil pendapat ahlul bid’ah yang masih hidup tanpa tujuan yang syar’i dapat dianggap telah memberikan rekomendasi dan pengagungan kepada ahlul bid’ah tersebut. Ini karena di dalam hati si penukil tersebut terdapat kecenderungan dan keterpautan kepada Ahlul bid’ah yang dinukil pendapatnya.

Allah U berfirman:

وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

“Dan janganlah kalian cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kalian disentuh api neraka, dan sekali-kali kalian tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kalian tidak akan diberi pertolongan.”(QS. Hud: 113).

Al-Imam Fudlail bin Iyadl rahimahullah berkata:

من أتاه رجل فشاوره فدله على مبتدع  فقد غش الإسلام ،

“Barangsiapa yang diajak bermusyawarah (dimintai nasehat, pen) oleh seseorang, kemudian ia tunjukkan orang tersebut kepada ahlul bid’ah, maka ia telah menipu agama Islam.” (Atsar riwayat Al-Lalika’i dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah: 229 (1/254).

Sehingga kebiasaan dari Saudara Abu Muawiah dan Majalah Akhwat di dalam menukil pendapat ahlul batil semacam Salim Al-Hilali atau Ali Hasan menunjukkan bahwa di dalam hatinya terdapat kecenderungan dan kecintaan kepada ahlul batil.

Dan di antara do’a Al-Imam Ibnul Mubarak rahimahullah adalah:

اللهم لا تجعل لصاحب بدعة عندي يدا فيحبه قلبي

“Ya Allah! Janganlah Engkau menjadikan seorang ahlul bid’ah pun untuk mempunyai budi baik kepadaku, sehingga hatiku mencintainya.” (Atsar riwayat Al-Lalika’i dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah: 242 (1/267).

 ANTARA MENUKIL, TA’AWUN & MEMBERIKAN HUKUMAN

Jika ada seseorang yang masih menukil kebenaran dari tokoh yang semasa padahal ia telah mengetahui bahwa tokoh tersebut kini telah menyimpang, maka ini menunjukkan bahwa ia telah melakukan ta’awun dalam kebid’ahan dan penyimpangan.

Al-Imam Rafi’ bin Asyras rahimahullah berkata:

من عقوبة الفاسق المبتدع أن لا تذكر محاسنه

“Termasuk hukuman bagi orang fasik yang ahlil bid’ah adalah tidak menyebutkan segala kebaikannya.” (Syarh Ilal At-Tirmidzi li Ibni Rajab: 121).

Al-Allamah Asy-Syaikh Shalih Fauzan حفظه الله berkata:

فإذا رَوَّجت لهذا الضال المبتدع ومدحته فقد غرَّرت بالناس، وهذا فتح باب لقبول أفكار المضللين

“Jika kamu melariskan pendapat-pendapat dari ahlil bid’ah yang sesat ini dan memujinya, maka kamu telah menipu umat manusia. Dan ini akan membuka pintu diterimanya pemikiran orang-orang sesat.” (Al-Ajwibah Al-Mufidah an As’ilatil Manahijil Jadidah: 30).

Di sini ada contoh kasus. Al-Allamah Abul Walid Al-Baji Al-Maliki rahimahullah berkata tentang Al-Qadli Abu Bakar Al-Baqilani Asy-Syafi’i (seorang pemuka aliran Asy’ariyah):

لقد أخبرني أبو ذر وكان يميل إلى مذهبه فسألته: من أين لك هذا؟ قال: كنت ماشيًا مع الدارقطني فلقينا القاضي أبا بكر فالتزمه الدارقطني وقبَّل وجهه وعينيه, فلما افترقا قلت: من هذا؟ قال: هذا إمام المسلمين والذابّ عن الدين, القاضي أبو بكر بن الطيب. فمن ذلك الوقت تكررت إليه. (وفي رواية) واقتديت بمذهبه

“Abu Dzarr Al-Harawi Al-Hanbali –dan ia sekarang lebih condong kepada madzhab Al-Baqilani (Asy’ariyah)- telah menceritakan kepadaku tentang madzhabnya. Maka aku bertanya kepadanya: “Dari mana kamu membawa madzhab ini?” Ia menjawab: “Aku jalan-jalan bersama-sama Al-Imam Ad-Darquthni (seorang ahlul hadits yang bermanhaj salaf). Kemudian kami bertemu dengan Al-Qadli Al-Baqilani, lalu Ad-Darquthni menyambutnya, mencium wajah dan kedua matanya. Ketika keduanya berpisah, aku bertanya kepada Ad-Darquthni: “Siapa orang ini?” Ia menjawab: “Ini adalah imam kaum muslimin, pembela agama, Al-Qadli Abu Bakar bin Ath-Thayyib Al-Baqilani.” Sejak saat itu aku sering mondar-mandir kepadanya (Al-Baqilani) dan meniru madzhabnya.” (Tadzkiratul Huffazh: 3/202). Dan ini termasuk ketergelinciran Ad-Darquthni. Meskipun ia sendiri bermanhaj salaf, ia punya andil untuk menyesatkan Abu Dzarr Al-Harawi.

Maka perbuatan Saudara Abu Muawiah dan juga Majalahnya dalam menukil kebenaran dari ahlul batil semisal Ali Hasan, “Al Fadhil” Khalid Ghirbani “hafizhahullah” dan Salim Al-Hilali “hafizhahullah” adalah termasuk kategori ta’awun dalam kebatilan. Dan Saudara Abu Muawiah juga telah memberi contoh dan rekomendasi kepada manusia untuk mengikuti kebatilan. Wal iyadzu billah.

Dan khusus bagi orang yang membacakan salam, mengatakan “hafizhahullah” atau “Al-Fadlil” kepada ahlul bid’ah –seperti perbuatan Saudara Abu Muawiah dan Majalahnya- terdapat peringatan dari Al-Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau memperingatkan:

إذا سلَّم الرجل على المبتدع فهو يُحبُّه , قال النبيُّ صلى الله عليه وسلم : ألا أدلكم على ما إذا فعلتموه تحاببتم ؟ أفشوا السلام بينكم

“Jika seseorang membacakan salam kepada ahlul bid’ah maka ia sedang mencintai ahlul bid’ah tersebut. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu yang mana jika kalian melakukannya maka kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian!” (Thabaqat Al-Hanabilah: 1/196).

 Antara Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah dan Abu Hamid Al-Ghazali

Kemudian Saudara Abu Muawiah membolehkan ‘penukilan kebenaran’ dari selain ahlussunnah dengan berhujjah kepada perbuatan Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi ? yang menyusun kitab Minhajul Qashidin dimana Ibnu Qudamah menukil kebenaran dari kitab Ihya’ Ulumiddin karya Al-Ghazali. Saudara Abu Muawiah menyatakan:

“Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdasi rahimahullah mengumpulkan hal-hal yang baik dari kitab Ihya` Ulum Ad-Din karya Al-Ghazali rahimahullah lalu menyusunnya menjadi kitab Minhaj Al-Qashidin. Dan para ulama menyatakan bahwa Al-Ghazali rahimahullah tidak pernah menulis karya apapun setelah dia bertaubat. Sementara status kitab Al-Ihya` ini saya rasa sudah cukup jelas di kalangan para penuntut ilmu, mengenai banyaknya kekeliruan dan kesalahan yang tersebut di dalamnya, dan kitab itu jelas ditulis oleh Al-Ghazali rahimahullah sebelum dia bertaubat. Maka amalan Ibnu Qudamah ini jelas menunjukkan bolehnya menukil kebenaran dari buku yang ditulis oleh selain ahlissunnah.”

Penulis katakan: Di sini terdapat beberapa kekeliruan Saudara Abu Muawiah:

Pertama: Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah tidaklah meneliti langsung kitab Ihya’ karya Al-Ghazali –sebagaimana persangkaan Saudara Abu Muawiah-. Tetapi beliau hanyalah meringkas Minhajul Qashidin karya Al-Imam Abul Faraj Ibnul Jauzi rahimahullah. Ibnu Qudamah rahimahullah menyatakan:

وبعد: فاني كنت وقفت مرة على كتاب منهاج القاصدين للشيخ الامام العالم الأوحد جمال الدين ابن الجوزي رحمه الله فرأيته من أجل الكتب وأنفعها وأكثرها فوائد فحصل عندي بموقع ورغبت في تحصيله ومطالعته فلما تأملته ثانيا وجدته فوق ما كان في نفسي لكن رأيته كتابا مبسوطا فأحببت أن أعلق منه هذا المختصر الذي قد احتوى على أكثر مقاصده وأجل مهماته …الخ

“Dan setelahnya: Maka aku telah mempelajari –dalam sekali waktu- Kitab Minhajul Qashidin karya Asy-Syaikh Al-Imam yang alim, yang jarang tandingannya, Jamaluddin Ibnul Jauzi rahimahullah. Maka aku melihatnya sebagai kitab yang paling agung, yang paling bermanfaat, yang paling banyak faidahnya. Maka terbersit dalam diriku untuk mengulanginya dan aku senang untuk mempelajari dan menelaahnya. Ketika aku memperhatikannya –kedua kali- maka aku mendapatkannya lebih daripada apa yang terbersit dalam diriku. Akan tetapi aku melihatnya sebagai kitab yang luas, maka aku senang untuk menyusun dari kitab tersebut ringkasan ini yang telah mengandung kebanyakan tujuannya dan perkara yang terpenting dari kitab tersebut…” (Muqaddimah Mukhtashar Minhajil Qashidin: 9-10).

Adapun Ulama  yang meneliti secara langsung kitab Ihya’ adalah Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah. Oleh karena itu beliau  menyatakan:

فاعلم أن في كتاب الاحياء آفات لا يعلمها الا العلماء وأقلها الاحاديث الباطلة الموضوعة والموقوفة…الخ

“Ketahuilah bahwa di dalam kitab Ihya’ terdapat bahaya yang tidak dapat diketahui kecuali oleh para ulama. Bahaya yang paling kecil adalah hadits-hadits batil yang palsu dan mauquf…dst.” (Muqaddimah Mukhtashar Minhajil Qashidin: 11).

Kekeliruan seperti ini tidaklah pantas muncul dari seseorang semisal Saudara Abu Muawiah yang dianggap ustadz oleh para pengikutnya. Ia menyangka Ibnu Qudamah  telah menukil kitab Ihya’ padahal yang menukil langsung adalah Ibnul Jauzi , sedangkan Ibnu Qudamah  hanya meringkas karya Ibnul Jauzi  saja. Jangan-jangan Saudara Abu Muawiah juga akan menyatakan bahwa Abu Hayyan At-Tauhidi telah menulis Tafsir Al-Bahrul Muhith, padahal yang menulisnya adalah Al-Allamah Al-Qari’ Abu Hayyan An-Nahwi Al-Andalusi. Sedangkan Abu Hayyan At-Tauhidi adalah orang zindiq abad ke-4 teman Ibnu Rawandi. Atau jangan-jangan Saudara Abu Muawiah akan menyatakan juga bahwa pemilik matan kitab Nailul Authar adalah Ibnu Taimiyyah Syaikhul Islam, padahal yang menulisnya adalah Majduddin Ibnu Taimiyyah kakek Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Kita berlindung kepada Allah U dari kedangkalan ilmu seperti ini.

Kedua: Sikap para ulama terhadap Abu Hamid Al-Ghazali dan karya-karyanya adalah sama dengan sikap mereka terhadap Abu Hanifah dan karya-karyanya. Para ulama yang hidup sejaman dengan Al-Ghazali telah memperingatkan kaum muslimin darinya serta karya-karyanya. Setelah meninggalnya Al-Ghazali, para ulama bisa memilah-milah karyanya.

Di antara ulama yang hidup semasa dengan Al-Ghazali adalah Al-Imam Muhammad bin Al-Walid Ath-Thurthusyi Al-Maliki  rahimahullah, beliau berkata dalam suratnya kepada Ibnul Muzhaffar:

فأما ما ذكرت من أبي حامد، فقد رأيته، وكلمته، فرأيته جليلا من أهل العلم، واجتمع فيه العقل والفهم، ومارس العلوم طول عمره، وكان على ذلك معظم زمانه، ثم بدا له عن طريق العلماء، ودخل في غمار العمال، ثم تصوف، وهجر العلوم وأهلها، ودخل في علوم الخواطر، وأرباب القلوب، ووساوس الشيطان، ثم شابها بآراء الفلاسفة، ورموز الحلاج، وجعل يطعن على الفقهاء والمتكلمين، ولقد كاد أن ينسلخ من الدين،

“Adapun apa yang aku sebutkan dari Abu Hamid (Al-Ghazali), maka aku telah melihatnya dan berbicara dengannya. Aku lihat ia adalah seorang yang besar dari kalangan ahlul ilmi. Terkumpul padanya akal dan pemahaman. Ia  mendalami ilmu sepanjang umurnya dan ia seperti ini pada sebagian besar masanya. Kemudian ia menyimpang dari jalan para ulama dan masuk pada kelompok pengamal tarekat (suluk). Kemudian ia mendalami tasawwuf, menjauhi ilmu dan ulamanya, masuk ke dalam ilmu gerakan hati (semacam intuisi dan ilmu kasyaf yang bisa menyingkap hal gaib, pen), dan juga masuk dalam was-was syetan. Kemudian ia mencampuri ilmu-ilmu tersebut dengan pendapat para filosof dan rumus-rumus Al-Hallaj (tokoh manunggaling kawula gusti, pen). Dan ia mulai mencela para fuqaha dan ahlul kalam dan ia hampir keluar (terlepas) dari agama ini…” (Siyar A’lamin Nubala’: 19/339).

Begitu pula Al-Imam Al-Qadli Iyadl Al-Yahshubi rahimahullah –ulama negeri Maghrib yang hidup semasa dengan Al-Ghazali-, beliau memerintahkan untuk membakar kitab-kitab Al-Ghazali. Al-Allamah Ibnul Imad Al-Hanbali rahimahullah berkata:

وبالجملة فإنه كان عديم النظير حسنة من حسنات الأيام شديد التعصب للسنة والتمسك بها حتى أمر بإحراق كتب الغزالي لأمر توهمه منها

“Secara global, beliau (Al-Qadli Iyadl) adalah tiada tandingannya, sebuah kebaikan dari kebaikan jaman, sangat keras dalam berta’ashub dan memegang As-Sunnah, bahkan sampai memerintahkan untuk membakar kitab-kitab Al-Ghazali karena suatu perkara yang menjadikannya cemas atasnya…” (Syadzaratudz Dzahab fi Akhbar Man Dzahab: 4/138).

Bahkan karena begitu berbahayanya pemikiran Al-Ghazali yang masih hidup, pemikirannya sampai mempengaruhi Al-Allamah Abul Wafa’ Ibnu Aqil Al-Hanbali danAbul Khaththab Mahfuzh bin Ahmad Al-Kalwadzani yang dulunya bermanhaj salaf menjadi mu’tazilah dan sufiyah. Al-Allamah Ibnu Muflih Al-Hanbali rahimahullah berkata:

ولما ورد الغزالي إلى بغداد ودرس بالنظامية حضره ابن عقيل وأبو الخطاب وجمع

“Ketika Al-Ghazali tiba di Baghdad dan mengajar di Nizhamiyah, pelajarannya dihadiri oleh Ibnu Aqil, Abul Khaththab dan sekelompok orang.” (Al-Maqshidul Arsyad: 2/247).

Dan akhirnya Ibnu Aqil bertaubat dari pemikiran Al-Ghazali. Ibnu Muflih  berkata:

وكان يعظمهم ويترحم على الحلاج ثم بعد ذلك أظهر التوبة وكتب خطه وأن الحلاج قتل بإجماع علماء عصره وأصابوا في ذلك وأخطأ هو مع ذلك فإني أستغفر الله تعالى وأتوب إليه من مخالطة المعتزلة والمبتدعة

“Adalah Ibnu Aqil sangat mengagungkan tokoh-tokoh sufi dan membacakan rahimahullah untuk Al-Hallaj (tokoh manunggaling kawula gusti, pen). Setelah itu ia menampakkan taubatnya dan menulis dengan tulisannya (tentang taubatnya), dan menyatakan bahwa Al-Hallaj itu dibunuh atas kesepakatan para ulama di masanya. Mereka (para ulama) telah benar dalam perkara itu dan ia (Al-Hallaj) telah salah. Maka aku meminta ampun kepada Allah U dan bertaubat kepadanya dari perbuatan bergaul dengan orang-orang mu’tazilah dan ahlul bid’ah.” (Al-Maqshidul Arsyad: 2/246).

Adapun para ulama yang hidup setelah meninggalnya Al-Ghazali, maka mereka bisa memilah-milah mana pendapat Al-Ghazali yang dapat dipakai dan mana yang harus dibuang.

Di antara mereka adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Beliau  berkata:

وَالْإِحْيَاءُ فِيهِ فَوَائِدُ كَثِيرَةٌ، لَكِنَّ فِيهِ مَوَادَّ مَذْمُومَةً، فَإِنَّ فِيهِ مَوَادَّ فَاسِدَةً مِنْ كَلَامِ الْفَلَاسِفَةِ تَتَعَلَّقُ بِالتَّوْحِيدِ وَالنُّبُوَّةِ وَالْمَعَادِ – فَإِذَا ذُكِرَتْ مَعَارِفُ الصُّوفِيَّةِ كَانَ بِمَنْزِلَةِ مَنْ أَخَذَ عَدُوًّا لِلْمُسْلِمِينَ أَلْبَسَهُ ثِيَابَ الْمُسْلِمِينَ وَقَدْ أَنْكَرَ أَئِمَّةُ الدِّينِ عَلَى أَبِي حَامِدٍ هَذَا فِي كُتُبِهِ وَقَالُوا: أَمْرَضَهُ الشِّفَاءُ يَعْنِي شِفَاءَ ابْنِ سِينَا فِي الْفَلْسَفَةِ – وَفِيهِ أَحَادِيثُ وَآثَارٌ ضَعِيفَةٌ، بَلْ مَوْضُوعَةٌ كَثِيرَةٌ وَفِيهِ أَشْيَاءُ مِنْ أَغَالِيطِ الصُّوفِيَّةِ وَتُرَّهَاتِهِمْ، وَفِيهِ مَعَ ذَلِكَ مِنْ كَلَامِ الْمَشَايِخِ الصُّوفِيَّةِ الْعَارِفِينَ الْمُسْتَقِيمِينَ فِي أَعْمَالِ الْقُلُوبِ الْمُوَافِقِ لِلْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَمِنْ غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ الْعِبَادَاتِ وَالْأَدَبِ مَا هُوَ مُوَافِقٌ لِلْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مَا هُوَ أَكْثَرُ مِمَّا يَرِدُ مِنْهُ فَلِهَذَا اخْتَلَفَ فِيهِ اجْتِهَادُ النَّاسِ وَتَنَازَعُوا فِيهِ.

“Dan kitab Ihya’ Ulumiddin di dalamnya terdapat banyak faedah. Tetapi di dalamnya terdapat banyak materi yang tercela. Ini karena di dalamnya terdapat materi yang rusak yang berupa pendapat filosof tentang tauhid, kenabian dan hari akhir. Jika disebutkan wajah-wajah kaum sufiyah, maka ia (Al-Ghazali) adalah seperti orang yang memakaikan baju musuh kaum muslimin dengan baju kaum muslimin. Dan para pembesar agama ini telah mengingkari Abu Hamid (Al-Ghazali) ini dalam kitab-kitabnya dan menyatakan bahwa Al-Ghazali telah dibuat sakit oleh Asy-Syifa’, yakni kitab Asy-Syifa’ karya Ibnu Sina dalam filsafat. Di dalamnya terdapat hadits dan atsar yang dhaif bahkan maudlu’ (palsu) yang banyak. Di dalamnya juga terdapat kesalahan dan ocehan kaum sufiyah. Di dalamnya terdapat ucapan tokoh sufi yang masih beristiqamah dalam amalan hati yang sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah dan lainnya yang berupa ibadah dan adab yang sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah dalam jumlah banyak. Oleh karena itu ijtihad para manusia berbeda-beda menyikapi kitab tersebut.” (Al-Fatawa Al-Kubra: 5/86).

Demikian pula, apa yang dilakukan oleh Ibnul Jauzi rahimahullah yang hidup setelah Al-Ghazali dalam Minhajul Qashidin adalah dengan memilah-milah kitab Ihya’. Dan sebelum menulis Minhajul Qashidin, Ibnul Jauzi  juga telah menerangkan kesalahan-kesalahan yang dikandung oleh kitab Al-Ihya’. Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

وقد صنف ابن الجوزي كتابا على الاحياء وسماه علوم الاحيا بأغاليط الاحيا

“Dan Ibnul Jauzi telah menulis kitab komentar terhadap kitab Al-Ihya’ dan ia menamainya dengan ‘Ulumul Ahya bi Aghalithil Ihya’ (Ilmu Orang-orang yang Masih Hidup atas Kesalahan-kesalahan kitab Al-Ihya’).” (Al-Bidayah wan Nihayah: 12/214).

Sehingga jika Ibnu Aqil dan Abul Khaththab yang merupakan ulama besar saja bisa terpengaruh oleh pemikiran Al-Ghazali yang masih hidup, maka apalagi Saudara Abu Muawiah yang merupakan ustadz “kecil”, maka ia lebih bisa dan lebih mungkin terpengaruh oleh pemikiran Ali Hasan, Khalid Ghirbani dan Salim Al-Hilali yang masih hidup!!!!

Ketiga: Apa yang dilakukan oleh Al-Imam Ibnul Jauzi  dan Al-Imam Ibnu Qudamah  dalam Minhajul Qashidin dan Mukhtasharnya adalah menukil apa yang dinukil oleh Al-Ghazali, bukan menukil ucapan Al-Ghazali secara langsung. Sehingga kita tidak akan menjumpai satu tempat pun dalam Mukhtashar Minhajul Qashidin kata-kata “Al-Ghazali berkata demikian”atau “Abu Hamid (kunyah Al-Ghazali) berkata demikian” atau “Hujjatul Islam (julukan Al-Ghazali) berkata demikian”.

Di dalam Minhajul Qashidin hanyalah terdapat firman Allah U, sabda Nabi r serta ucapan As-Salaf yang tsabit. Adapun ucapan pribadi Al-Ghazali, para filosof, tokoh-tokoh sesat dan hadits palsu maka itu semua tidak dinukil oleh Ibnul Jauzi . Beliau  menyatakan:

وسأكتب لك كتابا يخلو عن مفاسده ولا يخلو بفوائده أعتمد فيه من النقول الأصح والأشهر ومن المعنى الأثبت والأجود وأحذف ما يصلح حذفه وأزيد ما يصلح أن يزاد

“Dan aku akan menuliskan untukmu sebuah kitab yang bersih dari kerusakan kitab Al-Ihya’ dan tidak sunyi dari faidah-faidahnya. Aku -dalam kitab ini- hanya bersandar pada penukilan-penukilan yang paling valid dan paling masyhur, dan makna yang paling tsabit dan paling bagus. Dan aku membuang yang pantas dibuang dan menambahkan apa yang pantas ditambahkan.” (Muqaddimah Mukhtashar Minhajil Qashidin: 11).

Sehingga dalam masalah ini Al-Imam Ibnul Jauzi  sudah berbuat obyektif dalam penukilan yaitu mengikuti wasiat Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Beliau ? berwasiat:

لا تقلدني ولا تقلد مالكا ولا الشافعي ولا الأوزاعي ولا الثوري وخذ من حيث أخذوا

“Janganlah bertaqlid kepadaku, jangan pula bertaqlid kepada Malik, jangan pula kepada Asy-Syafi’i, jangan pula kepada Al-Auza’i, jangan pula kepada Ats-Tsauri! Ambillah (baca: nukillah, pen) darimana mereka mengambil (baca: menukil, pen)!” (Shifat Shalat Nabi lil Albani: 53).

Dari keterangan di atas tampaklah bahwa perbuatan Saudara Abu Muawiah yang berhujjah dengan perbuatan Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah untuk membolehkan ‘menukil kebenaran dari selain ahlussunnah’ adalah bukan pada tempatnya dan hanya isapan jempol belaka.

 KESIMPULAN

  • Mencari kebenaran haruslah dari Ahlussunnah
  • Menerima kebenaran boleh dari bermacam-macam orang
  • Menukil kebenaran termasuk dalam bab mengambil kebenaran
  • Menukil kebenaran dari ahlul bid’ah yang sudah mati lebih ringan daripada menukilnya ketika masih hidup
  • Menukil kebenaran dari ahlul bid’ah yang masih hidup adalah salah satu bentuk tazkiyah dan pengagungan terhadap orang tersebut
  • Menukil kebenaran dari ahlul bid’ah yang masih hidup adalah salah satu bentuk ta’awun di atas kebatilan
  • Bolehnya menukil keterangan dari ahlul bid’ah dengan tujuan syar’i seperti untuk menegakkan hujjah, memperbanyak pendapat yang sesuai dengan kebenaran dan membantah pendapat ahlul bid’ah

Demikian tulisan ini semoga menjadi pelajaran bagi kita. Amien.

Footnote:

[1]  Sebagai bentuk amanat ilmiyah maka kami sampaikan keterangan penting di sini bahwasitus kullal salafiyeen yang diterjemahkan oleh saudara Abu Muawiah Hammad sebagai bahan penguat artikel “Pembelaan Diri”nya tersebut telah ditahdzir oleh Asy Syaikh Shalih As Suhaimi hafizhahullah. Berikut bukti suaranya (perhatikan pada menit ke-9 dst):

http://www.4shared.com/audio/SBgrvFkO/_____.html

[2]  Berikut Fatwa Asy Syaikh Rabi’ terhadap pembesar situs fitnah aloloom ini:

”Al-Ghirbani menyingkap kondisi dirinya sendiri. Dia itu Haddadi, Ikhwani, Penyusup. dia ini kadzdzab (pendusta) Si Al-Ghirbani ini, si penyusup ini, dialah yang menyimpangkan makna ucapanku dan menghilangkan/membuang ucapanku  dan mempermainkannya”

Link suara beliau: http://www.4shared.com/audio/CQhaz0O_/rabe_jarh_ghirbaniAloloom.html

 

Sumber: http://sulaifi.wordpress.com/2011/11/04/menukil-kebenaran-dari-ahlul-bid%E2%80%99ah-bolehkah

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s