Beranda » Nasehat » Mendulang Faedah Keteladanan Asy Syaikh Rabi’ bin Hadi hafizhahullah Dalam Sikap Rujuk Kepada Kebenaran

Mendulang Faedah Keteladanan Asy Syaikh Rabi’ bin Hadi hafizhahullah Dalam Sikap Rujuk Kepada Kebenaran

new1a

Pengantar

Kesombongan, pembangkangan, mencari-cari alasan pembenaran untuk menolak nasehat dari kesalahan dan penyimpangan yang dilakukan serta bersikukuh di atasnya dalam menentangi  kebenaran adalah sikap perilaku tercela orang-orang yang suka berbuat kerusakan.

Adalah kenyataan yang sangat-sangat menyedihkan dan memilukan bahwa hal demikian ini nampak semakin menjadi-jadi pada akhir-akhir ini pada sebagian orang yang terfitnah oleh hizbiyyin. Mereka, tak sedikit mengulang-ulang menyebut nama Asy-Syaikh Rabi’ hafizhahullah (untuk menipu orang-orang yang bodoh) seakan-akan mereka adalah orang yang berupaya keras menegakkan bimbingan beliau untuk menjaga persatuan sesama Salafiyyin padahal yang mereka programkan dan dengungkan secara terbuka adalah persatuan dengan hizbiyyun yang selama ini (dan sampai saat ini) telah dan sedang diperangi oleh Asy Syaikh Rabi’ hafizhahullah bersama para masyayikh Ahlussunnah lainnya karena kejahatan dan penyimpangannya. Tahapan mujahirinnya sudah sangat mengerikan, pada tataran sengaja berpromosi terang-terangan, mempublikasikan pada umat, memamerkan dan mendemonstrasikan serta menggalang dukungan sebanyak-banyaknya agenda persatuan dan santap malam bersama dengan pendukung besar Mubtadi’ Ali Hasan Al Halaby, Ibrahim Ar-Ruhaily dan Turatsiyyun justru pada saat para ulama kita (Asy-Syaikh Rabi’, Asy-Syaikh ‘Ubaid, Asy-Syaikh Muhammad bin Hadi, Asy-Syaikh Abdullah Al-Bukhary, Asy-Syaikh Ahmad Bazmul hafizhahumullah dan masyayikh lainnya) gencar-gencarnya menyingkap penyimpangan-penyimpangannya.  Merekapun melabeli Yazid Jawas [dan orang-orang dekatnya serta corong utama dakwahnya (Rodja)] yang menjadi pendukung utama dan pembela sengit Al-Halaby cs, Abul Hasan Al-Ma’riby, Irsyadi As-Surkati As-Sudani (yang direkomendasi oleh Ali Hasan Al-Halaby sebagai Syaikh Salafy!) sebagai Salafy, Ahlussunnah. Padahal Asy-Syaikh Ahmad An-Najmi rahimahullah, Asy-Syaikh Rabi’ dan Asy Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiry hafizhahumallah dengan tegas menyatakan bahwa As-Surkati bukanlah Salafy, sesat dan menyesatkan.

gbr1

Gambar 1. Screenshot Promosi & Demontrasi Harapan yang saling gayung bersambut. Press Rilis Santap Malam bersama gembong Hizbi yang di ustadz Salafy Ahlussunnah-kan, Mode ON. Nampak acungan jempol Overload dan ratusan suporter persatuan dengan salah satu gembong Rodja (lihat kembali fatwa tahdzir Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali, Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiri hafizhahumallah terhadap radio/TV ini) sebelum diamputasi, Mode OFF.

Jadi ya ikhwah, yang mereka maksud persatuan bukanlah persatuan dengan Salafiyyin Ahlussunnah tetapi persatuan dengan musuh-musuh Ahlussunnah yang selama ini memerangi Ahlussunnah dan dakwahnya. Oleh karena itulah manakala slogan persatuan yang diteriakkan (atas nama Syaikh Rabi’) dikumandangkan bersamaan hal itu juga diiringi dengan serangan khabitsnya terhadap Ahlussunnah, pembelaan dan penggalangan dukungan serta pujiannya terhadap Hizbiyyin.

MAKA KETIKA DATANG NASEHAT&BANTAHAN DENGAN BUKTI-BUKTI CERMIN WAJAHNYA SENDIRI (!), YANG MEREKA BUAT SENDIRI (!), YANG MEREKA PUBLIKASIKAN SENDIRI(!), YANG MEREKA SEBARLUASKAN SENDIRI(!) DAN YANG MEREKA PERTONTONKAN SENDIRI(!) KEPADA UMAT TENTANG KEJAHATAN MEREKA SENDIRI(!), bukannya mengakui atau bahkan rujuk dan menerima kebenaran sebagaimana sikap mulia seorang Ahlussunnah tetapi secepat itu pula berkilah bahwa telah dicari-cari aibnya (kalau memang diyakininya sebagai aib, kenapa malah dipamerkan kepada umat, distatuskan, menggalang dukungan sebanyak-banyaknya dan umat disuruh membacanya?), di-inteli, dijatuhkan kehormatannya dan lain-lain ucapan tidak ilmiyah yang sebenarnya hanya menunjukkan kedunguannya dan kerasnya pembangkangannya terhadap Al-Haqq sambil sesekali memelas mengaduk-aduk perasaan pembacanya agar umat ingat bahwa mereka ini adalah da’i Ahlussunnah yang sedang dizhalimi.

Ya Subhanallah, jika memang mereka da’i Ahlussunnah yang berwala’ kepada Ahlussunnah dan dakwah Ahlussunnah, bukankah menempuh jalan kemuliaan, mengakui penyimpangannya, mengakui kesalahannya, bertaubat, mudah rujuk kepada kebenaran, tidak membela dan melindungi hizbiyyun, tidak menggalang dukungan dari kalangan hizbiyyun mumayyi’un, tidak mencari-cari alasan atas kesalahan dan penyimpangan (apalagi kesalahan yang telah tersebarluas) yang dilakukan adalah ciri-ciri da’i Ahlussunnah? Dan bahkan terus melangkah lebih jauh lagi dengan memproduksi dan mereproduksi berbagai macam khayalan, tuduhan-tuduhan dusta, zhalim, fitnah busuk tanpa ditimbang dan tanpa ditakar yang sama sekali tidak bisa dikaitkan dengan sikap dakwah Ahlussunnah. Allahul musta’an.

Jika mereka menganggap dan meyakini bahwa berbagai bukti cermin wajahnya tersebut bukanlah sebagai bentuk kejahatan terhadap Salafiyyun dan dakwahnya, bahkan adalah bentuk taqarrub ilallah, penyebaran dakwah Salafiyah dan pembelaannya terhadap Salafiyyun (sehingga dengannya tidak perlu dibahas tentang tuntutan pengakuan rujuk dan taubatnya) kenapa mereka marah dan murka dengan pemublikasian cermin-cermin wajah buatan mereka sendiri?? Bukankah selayaknya mereka malah berbangga dan mengemukakan lebih banyak lagi dalil-dalil penguat tentang kebenaran jalan yang sedang mereka tempuh dan perjuangkan sehingga akan lebih banyak lagi orang-orang yang tertarik dan terpikat dengan seruannya??!

Adapun mengakuinya sebagai aib, penyimpangan dan kesalahan (yang disebarluaskan dan dipublikasikannya sendiri) namun mengelak dan menghindar dari kewajiban syar’i untuk rujuk dan bertaubat dan malah menuduh balik pihak lain sebagai “LEBIH DARIPADA INTEL” (berarti tingkat kepiawaian khususnya di atas tingkatan intel dan tidak bisa lagi diklasifikasikan sebagai intel) dan yang satunya lagi cuma menuduh “INTELEJEN KAMPUNGAN”(lihatlah ya ikhwah betapa telah terjadi Khilaf Syadid Bak Bainas Sama’ Was Sumur yang tidak mungkin dikompromikan diantara dua tuduhan yang saling bertolak belakang ini sehingga –usul- dibutuhkan ijtima’ santap malam di Warung Bang Soleh untuk menemukan ijma’ agar tuduhannya tidak malah saling menjatuhkan kehormatan sesama penuduh dan membuat kekacauan serta kebingungan di kalangan massa supporter akar rumput. Maka mana diantara kedua tuduhan tersebut yang diterima dan mana pula yang ditolak? Atau malah kedua-duanya tertolak karerna tak memenuhi syarat secara syar’i? Yang menyamakan keduanya hanyalah satu, tuduhan tanpa selembarpun bukti ilmiyah dan akurat yang bisa dipertanggungjawabkan sebagaimana ciri minimal kelayakan orang berilmu ketika berbicara. Ingat, paduka menolak salah satu atau kedua pendapat di atas, tak luput dari beban (prinsip paduka sendiri) bahwa paduka telah menjatuhkan kehormatan si penuduh yang paduka tolak. Tetapi yang pasti, syari’at yang menjadi tolok ukur kebenaran mewajibkan bukti bagi penuduh!!! Allahul musta’an.

Satu contoh saja. Telah berlalu waktu, hari dan bulan-pun berganti dan tersebar luasnya bukti dan iqamatul hujjah bagaimana Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiri hafizhahullah sampai turun tangan membabat habis syubhat alam kubur lalu apakah kita telah menyaksikan dan mendengarkan bukti rujuk dan taubatnya?!! Jika nasehat dan fatwa ulama saja yang sarat dengan dalil dan hujjah sedemikian “malang” nasibnya lalu nasehat siapa lagi yang akan didengar?! Bukti-bukti dan sumpah atas nama Allah Ta’ala yang membongkar tuduhan-tuduhan dusta mereka, fitnah kejinya-pun berlalu seperti berlalunya angin tanpa ada tanda penyesalan dan pertanggungjawaban, rujuk dan menarik tuduhannya sebagaimana seorang lelaki yang jantan dalam mengakui kesalahannya….Seperti inikah teladan dari orang-orang yang katanya berilmu atau yang didengungkan sebagai ulama (yang memiliki keutamaan)??! Haihata…

Memang aneh sebagian isi dunia ini, manakala teriakan-teriakan nyaring di facebook yang berurusan dengan bolehnya mengambil dana hizbiyyah Ihya’ut Turats, Radio dan TV Rodja dan kesalafiyahan para gembongnya, tak pernah paduka berteriak bahwa itu semua tidak akan ditanyakan di alam kubur!Tetapi giliran ada yang memperingatkan umat dari bahaya dan kesesatan Ihya’ut Turats, Sururiyyun (Irsyadiyyun, Halabiyyun dan ekor-ekornya) sumpah Wallahi-pun akan dilakukan bahwa itu semua tidak akan ditanyakan di alam kubur!! Dan yang lebih aneh lagi, ketika keterkaitan Sururiyyun Takfiriyun Kharijiyun dengan kelompok Salafy Goncang Hizby yang sedang getol direkonsiliasikannya dibongkar, taktik–pun sedemikian cepat dialihkan dengan bergaya memperingatkan umat dari bahayanya Sururiyun. Apa faedahnya? Apakah mereka telah lupa atau pura-pura lupa dengan sumpah Wallahi-nya bahwa masalah Ihya’ut Turats, Sururiyah dan lain-lain tidak akan ditanya oleh malaikat di alam kubur kecuali 3 pertanyaan saja??! Timbangannya yang dijungkir balik ataukah HAWA NAFSU YANG MENJADI PADUKA RAJA-nya hanya untuk membungkam mulut-mulut Ahlussunnah dengan batu agar tidak menyuarakan kebenaran?? Duhai…

…Ataukah kewajiban rujuk, bertaubat, menerima nasehat hanyalah kewajiban yang Allah Ta’ala bebankan kepada kaum muslimin yang awam saja??!

Tidak, sekali kali tidak! Sikap menerima nasehat serta mengikuti kebenaran termasuk kewajiban terbesar atas seluruh kaum muslimin dari manapun dia dan siapapun dia, tanpa kecuali. Dan tidak boleh bagi seorang muslim untuk menghina orang yang menyampaikan nasehat atau merendahkannya, bagaimanapun keadaannya.

Oleh karena itu, sebagai pembanding fenomena memprihatinkan yang kita saksikan bersama, adalah menjadi kebutuhan mendesak yang sangat penting saat ini, bimbingan bagi kita semuanya (tanpa kecuali) untuk mendulang faedah berharga, contoh bukti keteladanan dari Asy-Syaikh Rabi’ hafizhahullah (dari sekian banyak contoh keteladanan dari para ulama kita) manakala beliau terjatuh dalam sebuah kesalahan, apa yang beliau lakukan? (Dan ini sekaligus menyingkap salah satu makar hizbiyyin, dalam upayanya menipu dan menyesatkan umat serta menjauhkan umat dari para ulama rabbani adalah dengan cara menjatuhkan kehormatan ulama yaitu melemparkan tuduhan-tuduhan dengan kesalahan ucapan atau tulisan para ulama yang sebenarnya para ulama tersebut telah rujuk dan bertaubat darinya).

 

text1

Saya telah menelaah apa yang disebarkan sebagian situs internet berupa perkataan yang disandarkan kepada saya yaitu bahwasanya saya pernah mengatakan dalam sebuah ceramah: “Jika Rasulullah berlepas diri darimu melalui lisan Rabb kita.”

Saya mengatakannya ketika saya menyatakan haramnya sikap berpecah belah dengan berdalil firman Allah Tabaraka wa Ta’ala:

text2

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi bergolong-golongan, engkau bukan termasuk dari mereka sedikit pun.” (QS. Al-An’am: 159)

Kemudian saya mengatakan: “Bagaimana kita tidak merasa takut wahai saudara-saudaraku, dan lebih memilih perpecahan ini dan kita hidup di atasnya sekian generasi lamanya…”

Saya memohon ampun kepada Allah atas kalimat yang buruk dan bathil ini ratusan kali. Dan saya memohon agar dihapus dari semua kaset yang memuat kalimat tersebut dan saya bersikap keras terhadap siapa saja yang memiliki kaset yang memuat kalimat tersebut agar menghapusnya.

Dan saya menegaskan:

Sesungguhnya perkataan ini sangat buruk dan bathil. Maha Tinggi dan Maha Suci Allah darinya. Jadi Allah Ta’ala disucikan dari keserupaan dengan makhluk, sebagaimana firman-Nya:

text3

“Tidak ada sesuatupun yang semisal dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

Juga firman-Nya:

text4

“Katakanlah: Allah dzat yang satu. Allah dzat yang kepada-Nya seluruh makhluk memohon kebutuhannya. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang makhluk pun yang setara dengan-Nya.” (QS. Al-Ikhlash: 1-4)

Juga firman-Nya:

text5

“Apakah engkau mengetahui ada yang semisal dengan-Nya.” (QS. Maryam: 65)

Jadi di dalam ayat-ayat yang mulia ini terdapat penetapan sifat-sifat kesempurnaan dan kemuliaan-Nya serta pensucian-Nya dari sifat-sifat kekurangan dan keserupaan dengan makhluk. Tidak ada yang serupa dan setara dengan-Nya, baik pada dzat-Nya maupun pada sifat-sifat-Nya yang agung.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah menetapkan semua sifat-sifat-Nya yang terdapat di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah tanpa melakukan tasybih, ta’thil, takyif maupun tamtsil pada satupun dari sifat-sifat-Nya. Seperti istiwa’-Nya di atas Arsy-Nya di atas seluruh makhluk-makhluk-Nya. Demikian juga sifat tinggi, turun, mendengar, melihat, qudrah, kehendak, ilmu, berbicara, hikmah, menciptakan, memberi rizki, menghidupkan, mematikan dan nama-nama mulia serta sifat-sifat agung yang lainnya yang telah pasti kebenarannya. Ahlus Sunnah menetapkannya tanpa melakukan takyif, tamtsil, tasybih dan ta’thil. Mereka menyelisihi keyakinan ahlul ahwa’ seperti orang-orang Jahmiyah, Khawarij, Mu’tazilah, Rafidhah dan Asy’ariyah.

Walhamdulillah, saya termasuk hamba yang diberi kemuliaan oleh Allah dengan manhaj ini. Dan saya mengimaninya dari lubuk hati yang paling dalam, mengajarkannya, mendakwahkannya dan membelanya. Baik ketika saya sebagai seorang penuntut ilmu, sebagai seorang pengajar dan sebagai seorang dai yang mendakwahkannya dengan segenap kemampuan saya. Saya berloyalitas dan bermusuhan di atasnya sejak awal hidup saya.

Kalimat yang saya benci ini yang muncul dari saya di sela-sela ceramah yang padanya saya mendakwahkan manhaj ini dan saya mengajak siapa saja yang menyelisihinya agar kembali kepadanya, kalimat yang buruk tersebut muncul karena ketergilinciran lisan. Dan seandainya ada seseorang yang mengingatkan saya ketika itu, niscaya saya akan menolak kalimat tersebut dan saya akan berlepas diri darinya. Dan tidak seorang pun boleh mendiamkannya jika dia mengetahui kesalahan tersebut.

Kalimat tersebut seperti perkataan seseorang yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu alaihi was salam yang saking gembiranya dia mengatakan: “Ya Allah, engkau adalah hambaku dan aku adalah rabb-Mu. Rasulullah shallallahu alaihi was salam menjelaskan:

text6

“Dia salah mengucapkan karena saking gembiranya.”

Walaupun demikian, saya merasa sangat sedih sekali karena telah mengucapkan perkataaan tersebut dan saya mengingkarinya dengan sekeras-kerasnya terhadap diri saya dan terhadap orang lain kalau ada yang mengatakannya.

Saya memohon kepada Allah yang Maha Mulia Rabbul Arsy yang agung, agar mengampuni seluruh dosa-dosa saya baik yang saya lakukan secara sembunyi maupun yang terang-terangan dan agar mengampuni semua ketergelinciran dan kesalahan saya, yaitu ketergelinciran tulisan, lisan, anggota badan maupun hati.

text7

“Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang banyak melakukan kesalahan adalah orang-orang yang selalu bertaubat.”

(HR. At-Tirmidzy no. 2499 dan selainnya. Asy-Syaikh Al-Albany rahimahullah menilainya hasan di dalam Shahih Al-Jami’ no. 4515 -pent)

Saya memohon kepada Allah agar menjadikan saya termasuk orang-orang yang banyak bertaubat dan mensucikan diri.

Dan sikap menerima nasehat serta mengikuti kebenaran termasuk kewajiban terbesar atas seluruh kaum muslimin dari manapun dia. Dan tidak boleh bagi seorang muslim untuk menghina orang menyampaikan nasehat atau merendahkannya, bagaimanapun keadaannya.

Dan saya berlindung kepada Allah dari sikap menolak nasehat atau membela sebuah kesalahan atau kebatilan yang muncul dari saya, karena sesungguhnya cara yang mungkar ini hanyalah jalan orang-orang yang suka melakukan kerusakan, menyombongkan diri dan membangkang terhadap kebenaran. Juga termasuk sifat orang-orang yang jika mereka diingatkan mereka tidak mau ingat. Saya berlindung kepada Allah dari sifat-sifat yang buruk ini.

Saya memohon kepada Allah agar menjadikan saya termasuk orang-orang yang Dia sifati:

text8

“Dan orang-orang yang jika diingatkan dengan ayat-ayat Rabbnya, mereka tidak menyikapinya seperti orang yang tuli dan buta.” (QS. Al-Furqan: 73)

Saya juga menasehati diri saya dan semua kaum muslimin agar mengikuti manhaj ini dan kokoh di atasnya, menerima nasehat orang-orang yang menyampaikan nasehat, menempuh jalan salaf yang saleh dalam hal saling menasehati dan berwasiat agar mengikuti kebenaran serta menerima nasehat, dalam rangka mengamalkan firman Allah Ta’ala:

text9

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, serta saling berwasiat dengan kebenaran dan saling berwasiat dengan kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3)

Juga berdasarkan firman-Nya:

text10

“Orang-orang yang beriman baik pria maupun wanita, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain, mereka senantiasa menyuruh hal yang ma’ruf dan melarang hal yang mungkar.” (QS. At-Taubah: 71)

Dan termasuk tanda-tanda lurusnya jalan yang ditempuh, keistiqomahan, kebenaran dan kebahagiaan di dunia dan akherat adalah kokoh di atas Al-Kitab dan As-Sunnah serta menempuh manhaj ini dalam akidah, amal, akhlak, amar ma’ruf nahi mungkar serta memperbaiki kesalahan-kesalahan dengan hikmah dan cara-cara yang mulia.

Saya memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar memberi taufik kepada umat ini -khususnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah- untuk bisa bangkit dengan membawa manhaj yang agung ini serta menyatukan mereka di atasnya, juga agar merealisasikan kepemimpinan, kewibawaan dan kemuliaan bagi mereka, serta mewujudkan sikap mereka untuk mengikuti manhaj ini, memberi keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akherat. Sesungguhnya Rabbku mendengar do’a hamba-hamba-Nya.

text11

Ditulis oleh:

Rabi’ bin Hady Al-Madkhaly

8 – 7 – 1425 H

Makkah Al-Mukarramah

Sumber:

http://www.rabee.net/show_des.aspx?pid=3&id=95

Faedah yang bisa kita petik (namun tidak terbatas) dari perkataan Asy-Syaikh Rabi’ bin Hady hafizhahullah di atas:

1) Tidak ada seorang pun yang ma’shum selain Rasulullah shallallahu alaihi was salam, betapapun tinggi kedudukan dan keilmuannya.

2) Para ulama Ahlus Sunnah adalah orang yang paling terdepan di dalam sikap rujuk kepada kebenaran jika terjatuh pada sebuah kesalahan.

3) Wajibnya mengumumkan taubat dari sebuah kesalahan yang telah tersebar, terlebih lagi dari seseorang yang didengar perkataannya oleh umat dan menjadi panutan, agar tidak dijadikan dalih atau ditiru oleh orang tidak tahu. Jadi tidak cukup dengan taubat saja.

4) Orang yang ikhlas, ketika dia mengetahui kesalahannya maka dia segera meralat/rujuk tanpa menunggu teguran dari orang lain.

5) Menegur/menasehati/membantah kesalahan yang sudah tersebar luas bukanlah tindakan memata-matai, bukan menjatuhkan kehormatan, bukan pula upaya mencari-cari aib.

6) Wajibnya menghapus perkataan yang salah jika orang yang mengatakannya telah bertaubat, karena itu merupakan kebatilan dan juga agar tidak dijadikan senjata untuk mengungkit-ungkit kesalahan tersebut. Namun jika yang mengatakannya belum menyatakan taubat, boleh bagi orang yang bisa membantahnya untuk menyimpannya, sebagai bukti kesalahan tersebut, karena kebiasaan ahlul hawa adalah berdusta dan mengingkari ucapannya.

7) Wajibnya menjelaskan sisi kesalahan oleh orang yang melakukannya ketika dia bertaubat agar manusia mengetahui letak kesalahannya sehingga tidak menirunya.

8) Kesalahan tetap dikatakan salah, walaupun yang melakukannya tidak memaksudkannya.

9) Benarnya manhaj Ahlus Sunnah dan kemuliaannya.

10) Bersyukur kepada Allah dan berbangga dengan manhaj ini, serta tidak merasa minder di hadapan manhaj-manhaj yang lain yang pasti menyimpang, karena kebenaran hanya satu.

11) Menyandarkan hidayah dan semua keutamaan hanya kepada Allah Azza wa Jalla.

12) Wajibnya mengimani kebenaran manhaj ini, mengajarkannya, mendakwahkannya dan membelanya sesuai dengan kemampuan seorang hamba.

13) Wajibnya membangun sikap loyalitas dan permusuhan (al-wala’ wal bara’) di atas manhaj ini.

14) Wajibnya membenci kesalahan yang dilakukan walaupun tidak sengaja dan merasa sedih karenanya.

15) Wajibnya menerima nasehat ketika melakukan kesalahan jika diingatkan seketika itu.

16) Meluruskan sebuah kesalahan boleh dilakukan seketika, bahkan terkadang wajib, terlebih lagi jika itu sebuah kesalahan besar, tentunya dengan adab yang baik dengan memperhatikan kedudukan pihak yang salah.

17) Tidak boleh mendiamkan kesalahan bagi siapapun yang mengetahuinya, jika dia mampu melakukannya.

18) Tidak mencari-cari alasan untuk membela kesalahan yang dilakukan.

19) Boleh menyampaikan udzur bahwa kesalahan tersebut muncul karena ketergelinciran lisan, namun tetap menyatakan itu sebagai sebuah kesalahan.

20) Menerima nasehat serta mengikuti kebenaran termasuk kewajiban terbesar atas seluruh kaum muslimin dari manapun dia.

21) Tidak boleh bagi seorang muslim untuk menghina orang menyampaikan nasehat atau merendahkannya, bagaimanapun keadaannya selama yang disampaikan adalah kebenaran.

22) Menolak nasehat atau membela sebuah kesalahan atau kebatilan adalah cara yang mungkar yang merupakan sifat orang-orang yang suka melakukan kerusakan, menyombongkan diri dan membangkang terhadap kebenaran.

23) Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang jika diingatkan dengan ayat-ayat Rabbnya, mereka tidak menyikapinya seperti orang yang tuli dan buta.

24) Wajibnya menerima nasehat orang-orang yang menyampaikan nasehat, menempuh jalan salaf yang saleh dalam hal saling menasehati dan berwasiat agar mengikuti kebenaran serta menerima nasehat.

25) Kejujuran dan ketawadhu’an Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhaly.

26) Bathilnya perkataan: “Jika Rasulullah berlepas diri darimu melalui lisan Rabb kita.”

27) Wajibnya menetapkan semua sifat-sifat-Nya yang terdapat di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah tanpa melakukan tasybih, ta’thil, takyif maupun tamtsil pada satupun dari sifat-sifat-Nya.

28) Tidak boleh menetapkan sifat lisan bagi Allah, karena Allah dan Rasul-Nya tidak pernah menetapkannya.

29) Tidak boleh menetapkan sifat apapun bagi Allah, jika Allah dan Rasul-Nya tidak pernah menetapkannya.

30) Keutamaan dan kemuliaan orang yang selalu bertaubat dari kesalahan hingga meninggal di atas taubat, karena Rasulullah shallallahu alaihi was salam menyebutkan bahwa orang tersebut yang paling baik.

31) Seorang ulama yang hakiki tidak menolak nasehat, sekalipun dari orang yang keilmuannya jauh di bawahnya.

 

Wallahu a’lam bi shawab.

 

pdfhttp://goo.gl/EyuNM atau http://goo.gl/lxMSd

 

Baca artikel terkait:

Jejaring Salafy Goncang Menggoncang Salafy

Benarkah Membantah Kesalahan Akan Memecah Belah Persatuan?

Bimbingan Ulama Dikala Fitnah Melanda

Kisah Teladan Asy Syaikh An Najmi Bersama Aidh Al Qarni

Mengingkari Kesalahan Walaupun…

Hanan Bahanan Overload Bag.3

Hanan Bahanan Overload Bag.2

Jika Ada Ustadz Salafy Mulai ‘Menyimpang’…

Hanan Bahanan Overload Bag.1

Bantahan Atas Syubhat: Sururiyyah, Ihya’ Ut Turots Tidak Ditanya di Alam Kubur!

Rekaman dan Terjemahan Fatwa Asy Syaikh Ubaid Al Jabiri Hafizhahullah Tentang Larangan Untuk Mendengarkan Radio Turotsiyyah Halabiyyah Ma’ribiyyah (semisal RODJA dll)

Untukmu Yang Menganggap Ringan Rekomendasi Ali Syubbana Terhadap Yusuf Qardhaawi

Fatwa Asy Syaikh Ubaid Al Jabiri Tentang Radio Rodja

Antara Karma Islami dan Tatanama Iblis

Website Resmi Budhdha Tolak Keras Klaim Sepihak Hukum Karma “Islami”

Al Ustadz Dzulqarnain dan Aqidah Batil Hukum Karma

Al Ustadz Dzulqarnain dan Gembong Hizbi Irsyadi

Al Ustadz Dzulqarnain Salafy Goncang?

Menjawab Tuduhan Keji dan Dusta Al Ustadz Dzulqarnain Al Makassari

Untukmu Yang Masih Bertanya Tentang Radio Rodja

sumber:http://tukpencarialhaq.wordpress.com/2012/12/20/keteladanan-asy-syaikh-rabi-dalam-sikap-rujuk-kepada-kebenaran/#respond

 

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s