Beranda » Manhaj » Ja’far Shalih Menggali Lubang (Fitnah) Kuburnya Sendiri (bag.4)

Ja’far Shalih Menggali Lubang (Fitnah) Kuburnya Sendiri (bag.4)

Bismillahirrohmanirrohim.

Ja’far Shalih Menggali Lubang (Fitnah) Kuburnya Sendiri (bag.4)

[SESUNGGUHNYA DIA ADALAH PENDUSTA DAN MENGADA-ADA ATAS NAMA ALLAH SERTA LANCANG TERHADAP-NYA]

new

top

Al-Imam Al-Bukhary rahimahullah berkata di dalam Shahih-nya pada kitab Al-Kusuf no. 1053:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ يُوْسُفَ قَالَ: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ امْرَأَتِهِ فَاطِمَةَ بِنْتِ الْمُنْذِرِ عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِيْ بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهَا قَالَتْ: أَتَيْتُ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِيْنَ خَسَفَتْ الشَّمْسُ فَإِذَا النَّاسُ قِيَامٌ يُصَلُّوْنَ وَإِذَا هِيَ قَائِمَةٌ تُصَلِّيْ فَقُلْتُ: مَا لِلنَّاسِ فَأَشَارَتْ بِيَدِهَا إِلَى السَّمَاءِ وَقَالَتْ: سُبْحَانَ اللهِ: فَقُلْتُ: آيَةٌ؟ فَأَشَارَتْ أَيْ نَعَمْ. قَالَتْ: فَقُمْتُ حَتَّى تَجَلَّانِي الْغَشْيُ فَجَعَلْتُ أَصُبُّ فَوْقَ رَأْسِي الْمَاءَ فَلَمَّا انْصَرَفَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ: «مَا مِنْ شَيْءٍ كُنْتُ لَمْ أَرَهُ إِلَّا قَدْ رَأَيْتُهُ فِيْ مَقَامِيْ هَذَا حَتَّى الْجَنَّةَ وَالنَّارَ وَلَقَدْ أُوْحِيَ إِلَيَّ أَنَّكُمْ تُفْتَنُوْنَ فِيْ الْقُبُوْرِ مِثْلَ أَوْ قَرِيْبًا مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ -لَا أَدْرِيْ أَيَّتَهُمَا قَالَتْ أَسْمَاءُ- يُؤْتَى أَحَدُكُمْ فَيُقَالُ لَهُ: مَا عِلْمُكَ بِهَذَا الرَّجُلِ فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ أَوْ الْمُوقِنُ -لَا أَدْرِيْ أَيَّ ذَلِكَ قَالَتْ أَسْمَاءُ- فَيَقُوْلُ: مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَاءَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى فَأَجَبْنَا وَآمَنَّا وَاتَّبَعْنَا. فَيُقَالُ لَهُ: نَمْ صَالِحًا فَقَدْ عَلِمْنَا إِنْ كُنْتَ لَمُوْقِنًا. وَأَمَّا الْمُنَافِقُ أَوْ الْمُرْتَابُ -لَا أَدْرِي أَيَّتَهُمَا قَالَتْ أَسْمَاءُ- فَيَقُوْلُ: لَا أَدْرِيْ سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُوْلُوْنَ شَيْئًا فَقُلْتُهُ»

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf dia berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Hisyam bin ‘Urwah dari isterinya Fathimah binti Al-Mundzir dari Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya dia berkata, “Saya pernah datang menemui ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika terjadi gerhana matahari. Ternyata orang-orang sedang melaksanakan shalat dan saat itu dia juga ikut melaksanakannya. Setelah itu aku bertanya kepadanya, “Apa yang dilakukan orang-orang?” Aisyah memberi isyarat dengan tangannya ke langit seraya berkata, “Maha Suci Allah!” Saya bertanya, “Satu tanda saja?” Lalu dia memberi isyarat tanda mengiyakan. Maka saya ikut shalat lalu merasa tidak sadar sekejap, hingga saya siram kepalaku dengan air. Selesai shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memuji Allah dan mensucikan-Nya, lalu bersabda: “Tidak ada sesuatu yang belum saya lihat, kecuali saya sudah melihatnya dari tempatku ini, hingga surga dan neraka. Kemudian diwahyukan kepadaku bahwa kalian akan diuji dalam kubur kalian seperti atau serupa dengan fitnah Dajjal -saya (perawi) tidak tahu mana dari keduanya yang dikatakan oleh Asma’-. Salah seorang dari kalian akan dihadapkan lalu ditanya, ‘Apa yang engkau ketahui tentang laki-laki ini?’ Orang beriman atau orang yang yakin -saya tidak tahu mana dari keduanya yang dikatakan oleh Asma’- akan menjawab, ‘Dia adalah Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia datang kepada kami membawa penjelasan dan petunjuk, maka kami sambut, kami beriman kepadanya dan kami ikuti (ajarannya).’ Maka kepada orang itu dikatakan, ‘Tidurlah engkau dengan tenang, sungguh kami telah mengetahui bahwa engkau adalah orang yang yakin.’ Adapun orang munafik atau orang yang ragu -saya (perawi) tidak tahu mana dari keduanya yang dikatakan oleh Asma’- akan menjawab, ‘Saya tidak tahu siapa dia, saya mendengar orang-orang mengatakan sesuatu, maka saya pun ikut mengatakannya’.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhary rahimahullah di beberapa tempat di dalam kitab Shahih-nya, juga diriwayatkan oleh Muslim rahimahullah di dalam Shahih-nya pada kitab Al-Kusuf no. 905 dengan konteks yang semisalnya.

Saya katakan: Anda melihat di dalam hadits ini bahwa seorang hamba di dalam kuburnya akan didatangi lalu ditanya tentang ilmunya mengenai orang ini -yaitu Nabi shallallahu alaihi was salam- lalu seorang yang mu’min atau yakin akan menjawab: “Dia adalah Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia datang kepada kami membawa penjelasan dan petunjuk, maka kami sambut, kami beriman kepadanya dan kami ikuti (ajarannya).” Maka kepada orang itu dikatakan: “Tidurlah engkau dengan tenang, sungguh kami telah mengetahui bahwa engkau adalah orang yang yaqin.”

Dan sekarang saya katakan: sesungguhnya jarh terhadap orang-orang kafir, para mubtadi’ dan orang-orang fasik adalah termasuk ilmu yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi was salam kepada kita, juga termasuk keterangan dan petunjuk yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi was salam kepada kita. Maka seorang yang mukmin atau yang yakin dia akan menyambut, mengimani dan mengikuti apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi was salam. Dan sesungguhnya Allah Azza wa Jalla di dalam Kitab-Nya telah mengkafirkan orang-orang kafir dari kalangan Yahudi, Nashara serta yang lainnya, dan Dia telah mencela orang-orang kafir di banyak tempat di dalam Kitab-Nya. Dan para mubtadi’ termasuk dalam makna semisal firman-Nya:

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاء شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللهُ وَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ)) وفي غير ذلك من الآيات.

“Apakah mereka memiliki sekutu-sekutu yang bisa membuat syariat pada agama tanpa seizin Allah, seandainya bukan karena kalimat yang telah ditetapkan oleh Allah, niscaya telah diputuskan antara mereka, dan sesungguhnya orang-orang zhalim itu akan ditimpa adzab yang pedih.” (QS. Asy-Syura: 21)

Demikian juga Nabi shallallahu ‘alaihi was salam telah mencela orang-orang Khawarij di banyak hadits, Allah juga telah mencela orang-orang fasik di dalam Kitab-Nya, dan Dia telah berfirman tentang orang-orang yang menuduh buruk para wanita yang menjaga kehormatannya:

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاء فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَداً وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ. إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِن بَعْدِ ذَلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang menjaga kehormatannya (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka cambuklah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kalian terima persaksian mereka selama-lamanya, dan mereka itulah orang-orang yang fasik. Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan melakukan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nuur: 4-5)

Allah juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang seorang yang fasik membawa berita kepada kalian maka telitilah, agar jangan sampai kalian menimpakan suatu keburukan kepada suatu kaum dengan dasar ketidaktahuan sehingga kalian akan menjadi orang-orang yang menyesal akibat perbuatan kalian itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Seorang yang fasik bisa jadi orang kafir jika kefasikannya adalah kefasikan besar yang mengeluarkan seseorang dari agama, seperti kefasikan Iblis yang Allah firmankan:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ

“Dan ingatlah ketika Kami berkata kepada para malaikat: ‘Sujudlah kepada Adam!’ Maka mereka semua bersujud kecuali Iblis, dia telah berbuat fasik terhadap perintah Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 50)

Bisa juga seorang yang fasik masih muslim jika kefasikannya kecil, atau kefasikan yang tidak mengeluarkan dari agama (tidak membuat kafir), atau kefasikan yang rendah. Seperti orang yang menuduh zina terhadap para wanita yang menjaga kehormatannya. Jadi si penuduh ini mungkin saja masih muslim, hanya saja dia menjadi fasik karena melakukan salah satu dari tujuh dosa besar yang membinasakan. Allah berfirman di dalam Kitab-Nya:

قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ

“Sungguh telah jelas petunjuk dari kesesatan.” (QS. Al-Baqarah: 256)

Jadi, jalan kesesatan sangat jelas seperti jelasnya jalan petunjuk. Allah Ta’ala berfirman:

وَكَذَلِكَ نفَصِّلُ الآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ

“Dan demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat itu dan juga agar menjadi jelas jalan orang-orang yang suka berbuat dosa.” (QS. Al-An’am: 55)

Jadi, jalan orang-orang yang suka berbuat dosa dengan seluruh macamnya sangat jelas. Allah juga berfirman:

وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ

“Dan Kami telah menunjukkannya dua jalan (petunjuk dan kesesatan).” (QS. Al-Balad: 10)

Hidayah di dalam ayat ini maksudnya adalah hidayah yang sifatnya penjelasan. Jadi sebagaimana Allah Azza wa Jalla telah menjelaskan jalan kebaikan agar diikuti, Dia juga telah menjelaskan jalan keburukan agar dijauhi.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata ketika menjelaskan tafsir ayat di atas: “Maksudnya adalah dua jalan.” (Tafsir Ibnu Katsir 8/316 cet. Maktabah At-Taufiqiyyah)

Maka dengannya dan dengan dalil-dalil yang lain, jelaslah bahwa menjarh orang-orang yang layak dijarh adalah termasuk ilmu yang dibawa oleh Rasl shallallahu alaihi was salam dan beliau sampaikan kepada kita, dan bahwasanya seorang hamba di alam kuburnya akan ditanya tentang ilmunya mengenai Nabi shallallahu ‘alaihi was salam.

Anda juga telah mengetahui bahwa menjarh orang-orang yang layak dijarh termasuk ilmu yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi was salam, sehingga termasuk pertanyaan yang akan ditanyakan kepada seorang hamba di alam kuburnya tentang ilmunya mengenai Rasulullah shallallahu alaihi was salam. Dan bahwasanya ilmu ini -yaitu ilmu tentang jarh terhadap orang-orang yang layak dijarh- adalah termasuk penjelasan dan petunjuk, dan wajib atas seorang yang mu’min atau yang yakin untuk menerima ilmu ini serta ilmu yang lainnya yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi was salam dan yang telah beliau sampaikan dengan jelas. Lalu wajib menyambut, mengimani dan mengikuti apa yang Allah wajibkan.

Adapun yang berkaitan dengan pertanyaan tentang hal pada hari kiamat nanti, maka kita bisa berhujjah dengan firman Allah Ta’ala:

فَلَنَسْأَلَنَّ الَّذِينَ أُرْسِلَ إِلَيْهِمْ وَلَنَسْأَلَنَّ الْمُرْسَلِينَ (٦) فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيْهِمْ بِعِلْمٍ وَمَا كُنَّا غَائِبِينَ (٧)

“Maka sungguh Kami benar-benar akan menanyai umat-umat yang para rasul telah diutus kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai pula para rasul itu.” (QS. Al-A’raf: 6)

Maka kita katakan: sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menegaskan bahwa Dia akan menanyai umat-umat yang para rasul telah diutus kepada mereka dengan membawa keterangan dan petunjuk dan telah menyampaikannya dengan jelas. Dan tidak diragukan lagi bahwa jarh terhadap pihak-pihak yang layak dijarh adalah termasuk ilmu, petunjuk dan keterangan yang dibawa oleh para rasul dan yang akan ditanyakan kepada seorang hamba pada hari kiamat nanti. Jadi, itu menunjukkan bahwa seorang hamba akan ditanya tentang jarh terhadap pihak-pihak yang layak dijarh pada hari kiamat nanti. Sebagaimana para rasul pada hari kiamat nanti akan ditanya apakah telah menyampaikan risalah Rabb mereka, yang termasuk darinya adalah jarh terhadap pihak-pihak yang layak dijarh, mencela mereka serta membongkar kejahatan mereka. Demikan pula umat yang para rasul diutus kepada mereka juga akan ditanya tentang risalah-risalah itu yang termasuk darinya adalah jarh terhadap pihak-pihak yang layak dijarh, mencela mereka serta membongkar kejahatan mereka.

Maka kecelakaanlah bagi pengkaburan terhadap kebenaran serta orang-orangnya yang telah melakukannya terhadap agama mereka dengan syubhat-syubhat palsu mereka. Kecelakaanlah bagi bid’ah dan para pelakunya yang menghalangi jalan jarh terhadap pihak-pihak yang layak dijarh, yang ini merupakan jalan salafus shalih serta jalan Kitab Rabbul Alamin dan sunnah penutup para nabi yang beliau diutus Rabbnya untuk menjelaskan dua macam jalan, yaitu jalan kaum mu’minin dan jalan orang-orang yang suka berbuat dosa yaitu orang munafik, zindiq, mulhid, kafir, musyrik, mubtadi’ dan orang fasik.

Dan kecelakaanlah bagi kebodohan dan orang-orangnya yang bingung dalam kegelapan kebodohan. Mereka pun ngawur seperti onta yang tidak bisa melihat dengan jelas dan dalam kebutaan.

Jika Anda telah mengetahui penjelasan yang telah lalu, maka ketahuilah bahwa siapa saja yang bersumpah dan lancang terhadap Allah dengan menyatakan bahwa Allah tidak akan menanyai hamba-Nya pada hari kiamat nanti dan dia tidak akan ditanya di alam kuburnya: “Kenapa engkau tidak memvonis si fulan kafir atau mubtadi’ atau fasik?!” Justru menyatakan bahwa dia akan ditanya: “Kenapa engkau memvonis si fulan kafir atau mubtadi’ atau fasik?!”

Ketahuilah, siapa saja yang lancang terhadap Allah dengan menyatakan hal di atas, maka sesungguhnya dia adalah pendusta dan mengada-ada atas nama Allah serta lancang terhadap-Nya. Kecelakaanlah bagi siapa saja yang keadaan atau ucapannya seperti ini. Jadi, engkau telah mengetahui kerusakan ucapannya dan kesesatan keadaannya.

Juga hendaknya diketahui bahwasanya saya sengaja tidak membawakan semua dalil yang ada untuk menjawab, menghancurkan dan membantah syubhat tersebut, karena saya berpendapat bahwa apa yang telah saya sebutkan telah mencukupi dan mengingatkan -insya Allah- bagi siapa saja yang memiliki hati yang hidup, atau dia mau menggunakan pendengarannya dan bisa menyaksikan. Orang yang mendapatkan taufik akan merasa cukup dengan yang sedikit. Sedangkan orang yang sesat, bingung dan suka menentang, maka nasehat yang banyak tetap tidak akan memberinya manfaat.

gbr1

Gambar 1. Petir Hujjah yang menghanguskan syubhat alam kubur si Pendusta, si Sesat yang Lancang. Maka ketahuilah bahwa siapa saja yang bersumpah dan lancang terhadap Allah dengan menyatakan bahwa Allah tidak akan menanyai hamba-Nya pada hari kiamat nanti dan dia tidak akan ditanya di alam kuburnya… http://goo.gl/zFKmR

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ حَقَّتْ عَلَيْهِمْ كَلِمَتُ رَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ. وَلَوْ جَاءتْهُمْ كُلُّ آيَةٍ حَتَّى يَرَوُاْ الْعَذَابَ الأَلِيمَ.

“Sesungguhnya orang-orang yang dipastikan oleh ketetapan kalimat Rabbmu mereka sekali-kali tidak akan beriman. Walaupun telah datang kepada mereka semua tanda (kekuasaan Allah), sampai mereka melihat adzab yang pedih.” (QS. Yunus: 96-97)

Juga firman-Nya:

وَمَا تُغْنِي الآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَن قَوْمٍ لاَّ يُؤْمِنُونَ.

“Dan ayat-ayat serta para rasul yang memberi peringatan itu tidaklah berguna bagi kaum yang tidak beriman.” (QS. Yunus: 101)

Juga firman-Nya:

وَإِن كَانَ كَبُرَ عَلَيْكَ إِعْرَاضُهُمْ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَن تَبْتَغِيَ نَفَقاً فِي الأَرْضِ أَوْ سُلَّماً فِي السَّمَاء فَتَأْتِيَهُم بِآيَةٍ وَلَوْ شَاء اللهُ لَجَمَعَهُمْ عَلَى الْهُدَى فَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ الْجَاهِلِينَ.

“Dan jika berpalingnya mereka (darimu) terasa amat berat bagimu, maka jika engkau mampu membuat lobang di bumi atau tangga ke langit lalu engkau bisa mendatangkan mukjizat kepada mereka (maka lakukanlah), kalau Allah menghendaki, tentu Dia mampu menjadikan mereka semua dalam petunjuk, karena itu janganlah sekali-kali engkau termasuk orang-orang yang jahil.” (QS. Al-An’am: 35)

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ. وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Ditulis oleh:

Abu Bakr bin Mahir Al-Mishry

28 Rabi’ul Awwal 1426 H

http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=105611

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s