Beranda » Manhaj » Jafar Shalih Menggali Lubang (Fitnah) Kuburnya Sendiri Bag.2

Jafar Shalih Menggali Lubang (Fitnah) Kuburnya Sendiri Bag.2

Ja’far Shalih Menggali Lubang (Fitnah) Kuburnya Sendiri (bag.2)

[JA’FAR SALIH HANYALAH MENGEKOR PARA PENYESAT UMAT]

top

بسم الله والحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه.

Sesungguhnya “Ahlul ahwa’ yang paling berbahaya -ya ikhwah- adalah orang-orang yang memakai baju Sunnah dan Salafiyah namun mereka menyembunyikan hal-hal yang lain. Jadi, mereka ini adalah manusia yang paling membahayakan agama Allah dan paling banyak menimbulkan kerancuan dan pengkaburan kepada manusia, sehingga wajib berhati-hati dan mentahdzir mereka. Dan demi Allah, tidaklah para pemuda kita di negeri ini menyimpang kecuali disebabkan pakaian palsu ini, karena ahlul bathil berusaha mencoba menanduk batu Salafiyyah namun tanduk mereka patah sehingga mereka beralih kepada cara-cara yang penuh makar seperti ini. Yaitu dengan mengenakan baju Salafiyah dan mengaku mengikuti manhaj salaf. Namun orang-orang yang cerdas mengerti bahwa ini adalah baju palsu, bukan baju yang sebenarnya sama sekali. Bukti yang jelas menunjukkan bahwa baju palsu ini digunakan untuk menjerat orang-orang yang dungu. JADI ORANG YANG MEMILIKI KECERDASAN DAN MEMAHAMI MANHAJ SALAF DENGAN BENAR, DIA AKAN MENGETAHUI HAKEKAT PERKARA MEREKA DAN BAHWASANYA BAJU MEREKA ADALAH DUSTA DAN PALSU YANG DIGUNAKAN UNTUK MENYESATKAN DAN MENYIMPANGKAN BANYAK PEMUDA KARENA MAKAR YANG JAHAT INI. Maka kita memohon kepada Allah agar memberikan bashirah kepada para pemuda kita lalu berjumpa dengan orang-orang yang suka memberikan nasehat dan jujur yang menginginkan kebaikan untuk mereka di dunia dan di akherat. Adapun orang yang tidak peduli dengan kebinasaannya maka akan menyeretnya kepada barisannya dan menundukkannya demi kepentingan-kepentingan dan syahwatnya dan tidak akan peduli di lembah mana dia akan binasa. Sementara orang yang mengaku sebagai pemberi nasehat yang perlu dikasihani ini dilemparkan kepadanya berbagai syubhat dan ditembak dengan hal-hal yang membinasakan oleh orang-orang yang suka melakukan makar jahat sehingga perkara-perkara ini mengelabui orang-orang yang perlu dikasihani dan tertipu.” (Ats-Tsabat Alas Sunnah, oleh Asy-Syaikh Rabi’ bin Hady hafizhahullah)

Diantara syubhat-syubhat yang dilemparkan oleh jenis manusia ini adalah ucapan mereka: “Kalian tidak akan ditanya di alam kubur kalian tentang Al-Maghrawy, Al-Ma’riby, Sayyid Quthub, Abdurrahman Abdul Khaliq dan yang lainnya, tetapi kita hanya akan ditanya tentang tauhid, Islam dan Nabi kita Muhammad ‘alahis salam.”

Atau yang lainnya mengatakan: “Kemudian ketahuilah -semoga Allah Ta’ala membimbingmu kepada keridhaan-Nya- sesungguhnya Allah tidak akan menanyaimu pada hari kiamat nanti, ‘Kenapa engkau tidak mengkafirkan si fulan?!’ Atau, ‘Kenapa engkau tidak memvonis si fulan sebagai mubtadi’?!

Atau mereka mengatakan: “Allah tidak akan bertanya kepadamu kenapa engkau tidak mengkafirkan si fulan dan kenapa engkau tidak mentabdi’ si alan.”

Ini yang sering didengungkan oleh sebagian orang yang mengenakan baju Salafiyah secara dusta dan manusia banyak yang latah mengikutinya di seluruh penjuru dunia seakan-akan ucapannya adalah perkataan para Nabi.

Ucapan bathil ini mereka katakan ketika membela ahlul bathil serta meremehkan bahaya mereka dan bid’ah-bid’ah mereka dan dalam rangka melemahkan semangat Ahlus Sunnah dalam berpegang teguh dengan manhaj para salaf mereka yang saleh, bahkan dalam rangka memerangi para ulama yang mengibarkan bendera amar ma’ruf nahi munkar wal bida’ lalu para Hizbiyyun itu melemahkan manusia dan menakuti-nakuti mereka dari memegangi perkataan yang benar dari para ulama dengan cara-cara kotor dan syubhat-syubhat semacam ini. Dan ini termasuk syubhat yang paling besar makarnya yang menyambar para pemuda yang berpegang dengan As-Sunnah yang mana ini merupakan syubhat bathil dan orang-orang yang mengatakannya tidak memahami hakekat Tauhid dan sikap Ittiba’ (mengikuti Rasulullah dengan baik) atau mereka pura-pura tidak mengetahui hakekatnya.

Jadi, jika engkau meyakini bahwa engkau akan ditanya tentang Tauhid, maka harus merealisasikannya dengan segala konskwensi dan syarat-syaratnya serta berlepas diri dari kesyirikan dan orang-orang yang melakukannya. Jadi Ahlus Sunnah Salafiyyun meyakini bahwa iman tidak semata-mata pengakuan atau ucapan dengan lisan tanpa membenarkannya dengan amal. Iman yang mereka yakini adalah berupa ucapan dan amal yang hal ini adalah apa yang tertanam di dalam hati (keyakinan), dan ditunjukkan kebenarannya dengan amal (lahiriyah).

Kalau tidak demikian, maka berapa banyak orang yang mengatakan laa ilaha illallah pada hari ini lalu engkau melihatnya berdoa kepada selain Allah, meminta pertolongan (di dalam perkara-perkara yang di luar kemampuan makhluk) kepada selain Allah, meminta perlindungan kepada selain Allah, menyembelih sembelihan untuk selain Allah serta bersumpah dengan selain nama Allah. Maka apakah orang seperti ini dia dianggap orang yang mengenal Allah, mendapatkan taufik dan akan bisa kokoh ketika menjawab pertanyaan di alam kubur?! Jelas tidak mungkin.

Dan sesungguhnya seorang hamba akan ditanya di alam kuburnya: “Siapa Rabbmu, apa agamamu dan siapa nabimu?” Maka seorang hamba jarang yang mendapatkan taufik untuk menjawab di situasi yang berat ini, hanya saja Allah akan mengokohkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang kokoh di kehidupan dunia dan di akherat.

Apakah akan bisa menjawab pertanyaan pertama yaitu ‘siapa Rabbmu’ orang yang menyekutukan Allah atau menjadikan tandingan-tandingan bagi-Nya serta beramal karena sum’ah (ingin didengar) dan riya’ (ingin dilihat), menyembelih untuk selain Allah dan memalingkan ibadah-ibadah lain seperti doa, isti’anah, istighatsah, nadzar dan bersumpah bagi selain Allah?!

Apakah akan bisa menjawab pertanyaan bagian kedua dan ketiga yaitu tentang ‘apa agamamu dan siapa nabimu’ orang yang beribadah kepada Allah dengan berbagai bid’ah dan cara-cara yang diada-adakan, mendekatkan diri kepada Allah dengan hal-hal yang tidak disyariatkan oleh nabi kita Muhammad alahis shalatu wassalam, dia bersikap fanatik kepada orang yang dia ikuti yang karenanya dia membangun loyalitas dan permusuhan, mendahulukan ucapannya atas sabda nabinya, menolong wali-wali syaithan di dalam memusuhi wali-wali Ar-Rahman serta lebih cenderung kepada orang-orang zhalim?!

Apakah iman itu hanya ucapan dengan lisan tanpa diikuti oleh amal atau hanya pengakuan tanpa memenuhi syarat-syarat dan segala konskwensinya?!

gbr1

Gambar 1. Ekor Musang. Jafar Salih hanyalah mengEKOR para penyesat umat. Waspadalah!

Al-Allamah Al-Muhaddits Ahmad bin Yahya An-Najmy rahimahullah berkata ketika mengomentari perkataan Al-Imam Ahmad ‘Setiap bid’ah adalah sesat’: “Kita wajib mengetahui bahwa yang dituntut dari setiap hamba adalah mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi was salam dan mentaati beliau dalam rangka menjalankan perintah Allah:

قُلْ أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ (٥٤)

“Katakanlah: ‘Taat kepada Allah dan taatlah kepada Rasul.” (QS. An-Nuur: 54)

Dan firman-Nya:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا (٧)

“Apa yang diperintahkan Rasul kepada kalian maka terimalah, dan apa yang beliau larang maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7)

Juga firman-Nya:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ (٣٦)

“Dan tidaklah pantas bagi pria yang beriman dan tidak (pula) bagi wanita yang beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain dalam urusan mereka.” (QS. Al-Ahzab: 36)

Jadi engkau akan ditanya di alam kuburmu dan ketika engkau dibangkitkan dan dikumpulkan; apakah engkau mengikuti Ar-Rasul shallallahu alaihi was salam, membenarkan dan mengimani beliau. Allah Ta’ala berfirman:

فَلَنَسْأَلَنَّ الَّذِينَ أُرْسِلَ إِلَيْهِمْ وَلَنَسْأَلَنَّ الْمُرْسَلِينَ (٦) فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيْهِمْ بِعِلْمٍ وَمَا كُنَّا غَائِبِينَ (٧)

“Maka sungguh Kami benar-benar akan menanyai umat-umat yang para rasul telah diutus kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai pula para rasul itu. Lalu sungguh Kami akan mengabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat) dengan ilmu (Kami), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka).” (QS. Al-A’raf: 6-7)

Selesai perkataan Asy-Syaikh An-Najmy rahimahullah.

Kemudian setelah menyebutkan hadits Al-Barra’ bin Azib yang panjang tentang alam kubur dan pertanyaan dua malaikat: “Dan pada khutbah beliau shallallahu ‘alaihi was salam pada hari Arafah di haji Wadda’ beliau bersabda:

وَأَنْتُمْ تُسْأَلُوْنَ عَنَّيْ فَمَاذَا أَنْتُمْ قَائِلُوْنَ؟

“Dan kalian juga akan ditanya tentang diriku, apa yang akan kalian katakan?”

Mereka menjawab: “Kami akan bersaksi bahwa Anda telah menyampaikan.”

Atas dasar ini maka sepantasnyalah bagi orang yang berakal untuk memikirkan apakah dia akan mengikuti pihak yang Allah perintahkan untuk mengikutinya atau dia lebih memilih mengikuti orang-orang yang mengutamakan hawa nafsunya dan orang-orang yang akan menyesatkannya?! Dan yang saya wasiatkan kepada kalian dan kepada diri saya sendiri adalah mengikuti As-Sunnah serta meninggalkan bid’ah karena merupakan kesesatan dan kebinasaan.” -selesai dari Syarh Ushul As-Sunnah hal. 41-

Jadi, jika kita telah mengetahui bahwa kita akan ditanya apakah kita akan mengikuti Nabi alahis shalatu was salam, maka wajib berlepas diri dari berbagai Hizbiyyah yang dibenci dan berbagai bid’ah yang buruk serta dari para pengikutnya, karena semua itu hakekatnya bertentangan dengan sikap mengikuti Nabi alahis shalatu was salam atau melemahkannya.

Maka tidak pantas dikatakan: “Kita tidak akan ditanya di alam kubur kita tentang si fulan atau alan.” Karena sesungguhnya ini termasuk ucapan bid’ah yang tidak kita dapatkan pada salaf kita yang saleh. Bahkan kita dituntut untuk berloyalitas secara jujur terhadap Ahlus Sunnah serta berlepas diri dari berbagai kesyirikan dan hizbiyah serta dari orang-orangnya. Dan al-wala’ wal bara’ termasuk bagian iman, bahkan merupakan pondasi.

Al-Imam As-Sa’dy rahimahullah berkata: “Jadi, al-wala’ wal bara’ sifatnya mengikuti cinta dan benci. Cinta dan benci inilah yang merupakan asal. Asal iman adalah dengan engkau mencintai karena Allah yaitu para nabi-Nya dan para pengikut mereka, dan karena Allah pula engkau membenci musuh-musuh-Nya dan musuh-musuh para rasul-Nya.” (Al-Fatawa As-Sa’diyah 1/98)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Asal loyalitas adalah kecintaan, sebagaimana asal permusuhan adalah kebencian, karena sikap saling mencintai konskwensinya adalah saling mendekat dan sepakat, sebaliknya saling membenci akan menyebabkan saling menjauh dan berselisih.” (Qaaidah fil Mahabbah hal. 387)

Asy-Syaikh Abdul Lathif bin Abdirrahman bin Hasan rahmatullahi ‘alaihim berkata: “Asal loyalitas adalah kecintaan dan asal permusuhan adalah kebencian. Dari keduanyalah muncul perbuatan-perbuatan hati dan anggota badan yang masuk ke dalam hakekat loyalitas dan permusuhan, seperti; menolong, rasa senang, membantu, jihad, hijrah dan yang lainnya.” (Ad-Durar As-Saniyyah 2/157)

Jadi, jika al-wala’ wal bara’ termasuk bagian dari kalimat tauhid yang seorang hamba akan ditanya tentangnya, maka berlepas diri dari orang-orang musyrikin dan dari para ahli bid’ah termasuk kesempurnaan cinta dan benci karena Allah yang kita akan ditanya tentangnya dan termasuk konskwensi al-wala’ wal bara’.

Jika kalian beriman bahwa tauhid yang kalian dituntut dengannya mengandung perealisasian al-wala’ wal bara’, maka manakah kebencian dan permusuhan terhadap ahli bid’ah yang ini muncul dari dari prinsip berlepas diri?! Dan manakah pertolongan kalian terhadap manhaj salaf dan para ulama tauhid dan As-Sunnah serta usaha saling membantu kalian bersama mereka yang ini muncul dari prinsip loyalitas?!

Lihatlah Ibrahim alahis salam yang berlepas diri dari orang-orang musyrikin sebelum berlepas diri dari perbuatan syirik itu sendiri!

Allah berfirman:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللهِ وَحْدَهُ (٤)

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya; yaitu ketika mereka berkata kepada kaum mereka: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkari kalian dan telah nyata permusuhan dan kebencian antara kami dan kalian selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)

Jadi, berlepas diri dari orang musyrik lebih dahulu dari berlepas diri dari kesyirikannya. Demikian juga berlepas diri dari seorang mubtadi’ lebih dahulu dari berlepas diri dari bid’ahnya.

Asy-Syaikh Muhammad Atiq rahimahullah berkata di dalam Majmu’atut Tauhid risalah no. 23: “Di sini terdapat rahasia yang lembut pada firman Allah Ta’ala:

إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللهِ) [الممتحنة: 4]

“Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)

Rahasia tersebut adalah Allah Ta’ala mendahulukan sikap berlepas diri dari orang-orang musyrikin para penyembah selain Allah, sebelum berlepas diri dari berhala-berhala yang dijadikan sesembahan selain Allah. Hal itu karena yang pertama lebih penting dibandingkan yang kedua. Karena mungkin saja seseorang berlepas diri dari berhala-berhala, namun dia tidak berlepas diri dari orang-orang yang menyembahnya. Jadi jika seperti ini maka seseorang belumlah teranggap melaksanakan kewajiban. Adapun jika dia telah berlepas diri dari orang-orang musyrikin maka konskwensinya adalah berlepas diri dari hal-hal yang disembah selain Allah. Ini seperti firman Allah Ta’ala:

وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللهِ وَأَدْعُو رَبِّي عَسَى أَلا أَكُونَ بِدُعَاءِ رَبِّي شَقِيًّا. [مريم: 48]

“Dan saya (Ibrahim) akan menjauhi kalian dan apa saja yang kalian mintai doa selain Allah, dan saya akan berdoa kepada Allah saja, mudah-mudahkan saya tidak menjadi orang yang celaka dengan berdoa kepada Rabbku.” (QS. Maryam: 48)

Jadi beliau terlebih dahulu menjauhi mereka sebelum menjauhi sesembahan mereka. Demikian juga firman Allah:

فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللهِ وَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَكُلا جَعَلْنَا نَبِيًّا. [مريم: 49]

“Tatkala Ibrahim telah meninggalkan mereka dan apa saja yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan untuknya Ishaq dan Ya’qub, keduanya pun Kami jadikan sebagai nabi.” (QS. Maryam: 49)

Juga firman-Nya:

وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنشُرْ لَكُمْ رَبُّكُم مِّن رَّحمته ويُهَيِّئْ لَكُم مِّنْ أَمْرِكُم مِّرْفَقًا. [الكهف: 16]

“Dan jika kalian telah meninggalkan mereka dan apa saja yang mereka sembah selain Allah, maka berlindunglah kalian ke dalam goa, niscaya Rabb kalian akan memberikan sebagian rahmat-Nya untuk kalian dan menyediakan sesuatu yang bermanfaat bagi urusan kalian.” (QS. Al-Kahfi: 16)

Maka hendaknya engkau pahami rahasia ini, karena akan membukakan untukmu pintu untuk menunjukkan sikap permusuhan terhadap musuh-musuh Allah. Berapa banyak manusia yang tidak terjatuh kepada kesyirikan, namun dia tidak memusuhi orang yang melakukannya sehingga dia belum menjadi seorang muslim karenanya…”

Kemudian beliau berkata: “Firman Allah selanjutnya:

وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا… [الممتحنة: 4]

“Dan telah nyata permusuhan dan kebencian antara kami dan kalian selama-lamanya…”

“Firman-Nya (وَبَدَا) artinya adalah nampak jelas. Dan perhatikan dengan seksama; permusuhan didahulukan sebelum kebencian, karena yang pertama (permusuhan) lebih penting dibandingkan yang pertama (kebencian). Jadi seseorang terkadang ada yang membenci orang-orang musyrik, namun dia tidak memusuhi mereka. Maka dia belum melaksanakan kewajiban hingga nampak darinya sikap permusuhan dan kebencian. Juga permusuhan dan kebencian ini harus nampak, jelas dan gamblang.” -selesai perkataan Asy-Syaikh Muhammad Atiq rahimahullah-

Dari sinilah menjadi jelas bahwasanya seorang hamba dituntut untuk berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya. Jadi berlepas diri dari seorang musyrik termasuk inti tauhid, dan tidak adanya sikap berlepas diri dari seorang musyrik mencacati tauhid dan merupakan kebinasaan. Demikian juga berlepas diri dari ahli bid’ah dan dari bid’ah mereka termasuk dari bagian tauhid dan sikap ittiba’ (mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi was salam dengan baik).

Maka barangsiapa tidak berlepas diri dari ahli bid’ah dan dari bid’ah mereka, berarti dia telah menodai sikap ittiba’nya terhadap Nabi alahis salam dan telah menganggap bahwa agama ini belum sempurna serta bahwasanya Nabi alahis salam belum menyampaikan semua risalah. Dan ini merupakan bencana yang tidak bisa diperbaiki lagi. Kita akan ditanya tentang sikap ittiba’ kita terhadap Nabi alahis shalatu was salam dan loyalitas yang jujur terhadap salaf yang saleh. Maka jangan sekali-kali mengikuti para ahli bid’ah dan mendahulukan ucapan mereka atas perkataan Ar-Rasul serta jangan bersikap fanatik buta yang itu merupakan hal yang tercela, jangan pula condong kepada ahli bid’ah yang bisa mendatangkan hukum Allah dan ancaman-Nya.

Abu Jamilirrahman

http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=105611

(bersambung insya Allah)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s