Beranda » Rudud/Bantahan » Nasehat Untuk Abdul ‘alim

Nasehat Untuk Abdul ‘alim

Bismillahirrahmanirrahim

Nasehat Untuk Abdul ‘Alim

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له وأشهد ألا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله وصلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا

أما بعد:

Tulisan ini kami persembahkan untuk Abdul ‘Alim, sebagai nasehat dari seorang muslim untuk seorang muslim.

Muqoddimah

Sesungguhnya kita semua bangga apabila ada salah seorang dari kaum muslimin terkhusus salafiyun membuat suatu karya yang bisa memberikan manfaat bagi saudaranya kaum muslimin, baik berupa tulisan dalam bentuk buku, majalah, buletin, kaset-kaset atau CD, dan yang lainnya. Apakah karya tersebut dalam masalah  aqidah, manhaj, fikih, nasehat dan sebagainya.

Namun , kita pun tidak boleh melupakan, untuk selalu tetap berusaha berjalan diatas keikhlasan pada Allah, dan tentunya di atas ilmu.

Untuk itu ketika datang salah satu da’i muda yang pemberani……telah membuat sebuah  karya tulis dalam bidang “jarh wa ta’dil”…dengan kaidah-kaidah khusus, karya tulis tersebut diberi  judul Al Bayan Lil Ummah fi Mukholafati Luqman ba’abduh.

Dialah Abu Isma’il Abdul Alim –hadanallah wa iyaahu- sebagai muallifnya. Namun sungguh sangat disayangkan, kaidah-kaidah “jarh wa ta’dilnya”  tidak pernah digunakan oleh para ahli ilmu sebelumnya.

Diantara kaidah khusus yang dia gunakan dalam menjarh :

–          Tidak adanya tabayun dan tatsabbut.

–          Mengedepankan su’udzon

–          Menuduh terlebih dahulu, sebelum mendapatkan bukti yang jelas

–          Tidak adil dan penuh pertentangan

–          Tidak memahami permasalahan yang sebenarnya

–          Tidak dibimbing ulama

Pada satu sisi tulisan tersebut dipenuhi ayat-ayat Al Qur’an dan hadits Nabi, bahkan diperkuat dengan ucapan para ulama (walaupun tidak sesuai dalam penggunaanya), sebagai daya tarik tentunya. Namun  disisi lain, tulisan tersebut dipenuhi dengan  kotoran – kotoran kedengkian berupa tumpahan  kehormatan kaum muslimin, terkhusus kehormatan para da’i ahlissunnah. Tanpa bukti yang jelas dan tanpa adanya tabayyun, ataupun dengan kaidah-kaidah yang tidak pernah kami lihat dilakukan para ulama sebelumya. Namun hal itu bukanlah suatu  perkara yang aneh, karena sesungguhnya Allah telah berfirman :

z`ÏBur Ĩ$¨Y9$# `tB y7ç6Éf÷èム¼ã&è!öqs% ’Îû Ío4quŠysø9$# $u‹÷R‘‰9$# ߉Îgô±ãƒur ©!$# 4’n?tã $tB ’Îû ¾ÏmÎ6ù=s% uqèdur ‘$s!r& ÏQ$|Áςø9$# ÇËÉÍÈ

“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, Padahal ia adalah penantang yang paling keras.” (Al Baqarah, 204)

y7Ï9ºx‹x.ur $oYù=yèy_ Èe@ä3Ï9 @cÓÉ<tR #xr߉tã tûüÏÜ»u‹x© ħRM}$# Çd`Éfø9$#ur ÓÇrqムöNßgàÒ÷èt/ 4’n<Î) <Ù÷èt/ t$ã÷z㗠ÉAöqs)ø9$# #Y‘ráäî 4 öqs9ur uä!$x© y7•/u‘ $tB çnqè=yèsù ( öNèdö‘x‹sù $tBur šcrçŽtIøÿtƒ ÇÊÊËÈ

“Dan Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, Yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (Al An’am, 112)

Perkara jarh dan ta’dil adalah perkara yang sangat ma’ruf dikalangan Ahlissunnah, namun yang sangat kami sesalkan, metodelogi yang dipakai oleh Abdul ‘Alim  benar-benar tidak ilmiyah, gegabah, jauh dari sifat adil dan dipenuhi oleh emosi pribadi. Kalau kita membaca karya tulis para ulama ketika membantah, subhanallah penuh dengan faidah ilmu, silahkan baca bantahannya syaikhul Islam –rahimahullah- dalam membantah syi’ah, sufiyah ataupun mu’tazilah, atau syaikh rabi’ –hafidzohullah- ketika membantah Abul Hasan, kita akan dapati faidah ilmiyah dari sisi aqidah, fikih, mustholah hadits dan yang lainnya. Atau yang paling mudah untuk kita dapatkan bantahannya para asatdizah Ahlussunnah –hafidzahumullah- baik terhadap hizbiyah, teroris, sufiyah dsb, kita dapati begitu banyak pelajaran ilmiyah yang terkadang kita tidak mendapatkannya dalam ta’lim-ta’lim harian kita. Jazakumullah khairan.

Sesungguhnya apa yang kami tulis bukan dalam rangka sok tahu  membela da’i – da’i sunnah yang terdzalimi dan dijatuhkan kehormatannya. Karena kebenaran yang berusaha mereka tempuh dan mereka da’wahkan selama ini -insya Allah-, lebih mampu untuk melindungi mereka dari celaan-celaan murahan. Akan tetapi kami lakukan dalam rangka mengamalkan sabda rasullah –shalallahu ‘alaihi wa sallam- :

(( انْصُرْ أخَاكَ ظَالماً أَوْ مَظْلُوماً )) فَقَالَ رجل : يَا رَسُول اللهِ ، أنْصُرُهُ إِذَا كَانَ مَظْلُوماً ، أرَأيْتَ إنْ كَانَ ظَالِماً كَيْفَ

أنْصُرُهُ ؟ قَالَ : (( تحْجُزُهُ – أَوْ تمْنَعُهُ – مِنَ الظُلْمِ فَإِنَّ ذلِكَ نَصرُهُ )) رواه البخاري .

Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Tolonglah saudaramu yang dzalim maupun yang terdzalimi” Ada seorang laki-laki bertanya: “Wahai Rasulullah kami menolongnya jika dia terdzalimi, bagaimana pendapatmu kalau dia orang yng dzalim, bagaimana kami menolongnya?” Rasulallah menjawab: “Cegahlah dia dari melakukan kedzaliman, karena hal itu cara menolongnya.” HR. Al Bukhari.

 

Karena sesungguhnya perbuatan orang ini ( Abdul ‘Alim )  dikhawatirkan akan mengotori dakwah yang penuh barokah ini, telah membuat saudara-saudaranya malu karena tulisannya yang jauh dari sisi ilmiyah, dalam keadaan isinya menjatuhkan saudaranya sendiri yakni kehormatan para da’i, Tanpa Bimbingan Ulama. Disisi lain dia telah didzalimi oleh dirinya sendiri, yang mana dengan sebab tulisannya tersebut  telah  membuat dirinya semakin jatuh dan semakin terpuruk, dan yang lebih mengerikan lagi dia tidak sadar kalau dirinya sedang berada dalam kerak keterpurukan.

tûïÏ%©!$# ¨@|Ê öNåkߎ÷èy™ ’Îû Ío4quŠptø:$# $u‹÷R‘‰9$# öNèdur tbqç7|¡øts† öNåk¨Xr& tbqãZÅ¡øtä† $·è÷Yß¹ ÇÊÉÍÈ

“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (Al Kahfi, 104)


Walaupun dengan sedikitnya ilmu yang ada pada kami, tentu saja tidak mengurangi semangat kami untuk bisa memberikan faidah ilmiyah, yang bermanfaat bagi kami maupun yang lainnya. Kita menginginkan Al Qur’an dan hadits adalah hujah dan nasehat bagi kita semua, maka sebelum kita arahkan dalil-dalil tersebut pada orang lain, terlebih dahulu kita arahkan pada diri kita, sehingga kitalah orang yang pertama kali mendapatkan faidah dari nasehat Al Qur’an dan As Sunnah, bahkan bukan sebaliknya.

Kami berharap, mudah-mudahan tulisan ini tidak membuat saudara Abdul ‘Alim emosi, namun agar membuat dia bisa lebih ta’ani dan berhati – hati  dalam melihat suatu permasalahan. Dan juga bukan untuk menghukumi Abdul ‘Alim sebagai apa…atau seperti apa…, tetapi sekali lagi, hanya mengingatkan, dan kami ingin menguji sejauh manakah keilmiyaahan tulisannya itu, sehingga apakah pantas seseorang mengambil manfaat dari tulisannya tersebut. Wa nas alullah as salaamah.

Tulisan Abdul Alim sesungguhnya tidak terlepas  bahkan dilatarbelakangi oleh fitnahnya Syaikh Yahya Al Hajuri –hadanallah wa iyaahu-. Namun alhamdulillah berkat taufiq dari Allah yang kemudian dengan kesungguhan para ulama sunnah dalam menyelesaikan fitnah Syaikh Yahya Al Hajuri,  Maka Sekarang Perkara Tersebut Sudah JELAS.

Sungguh tepat orang yang mengatakan : kalau ada orang yang masih mempermasalahkan fitnah Syaikh Yahya Al Hajuri, cukup kita jawab : “Antum mau qoulnya siapa?” Karena dalam permasalahan fitnah yang rumit ini, yang paling selamat adalah mengikuti bimbingan para ulama sunnah. Dan jangan terprovokasi orang-orang yang mengatakan : Yang jadi hujjah adalah Al Qur’an dan As Sunnah. Hal itu, kita semua sudah sepakat, tapi masalahnya apakah kita memahami Al Qur’an dan Sunnah tersebut tanpa bimbingan para ulama?

Inilah sebagian nukilan ucapan – ucapan para ulama tentang fitnah dammaj[1].

 

Syaikh Rabi’ –hafidzohullah- :

“Yahya Al-Hajuri itu dungu dan haddadi jelek. Semoga Allah tidak memberkahinya.”

(I’lamul Hadlir wal Badi bi Fujuri Yahya Al-Hajuri Al-Mu’tadi Al-Baghi: 1).

Syaikh Al Fauzan –hafidzohullah- :

“Ini (Al-Hajuri, pen) adalah orang yang membuat keraguan. Membuat keraguan

kepada manusia dalam urusan aqidah mereka. Tidak boleh belajar di sisinya dan mengambil ilmu darinya karena orang ini termasuk orang-orang yang sesat. Ia membikin keraguan kepada manusia dan menampakkan aqidahnya yang batil. Kalau ia melihat manusia mengingkari pendapatnya maka ia segera meralatnya dalam rangka pura-pura. Maka tidak boleh menerima orang ini dan berguru padanya serta

wajib menjauh darinya.”

(Tahdzir Ulama’ wa Masyayikhis Sunnah min Fitnah Yahya

Al-Hajuri Al-Mudalhimah: 2)

 

Syaikh Muhammad bin Hadi –hafidzohullah-:

“Dia (Al-Hajuri) lebih parah dari Falih Al-Harbi

Beliau juga berkata:

“Ya, orang ini (Al-Hajuri) adalah orang dungu, orang jelek, tidak boleh belajar disisinya dan tidak boleh bermajelis dengannya. Dan janganlah kalian pergi ke

Dammaj. Pergi ke sana hanya akan mengajari kalian mencela dan mencaci maki.”

Asy-Syaikh Izzuddin Ramadlani –hafidzohullah-

Beliau berkata tentang orang-orang yang menuduh sesat atas Syaikh Ubaid dari kalangan Hajuriyyun :

 “Nasehatilah mereka! Jika mereka tidak mau menerima nasehat maka tinggalkanlah mereka dan boikotlah mereka!” (Tahdzir Ulama’ wa Masyayikhis Sunnah min Fitnah Yahya Al-Hajuri Al-Mudalhimah : 13)

 Asy-Syaikh Abdul Muhsin bin Nashir Al-Ubaikan –hafidzohullah-

 “Saya katakan bahwa orang satu ini (Al-Hajuri) harus dijauhi dari diambil ilmunya jika ia mempunyai sifat seperti ini.” (Tahdzir Ulama’ wa Masyayikhis Sunnah min Fitnah Yahya Al-Hajuri Al-Mudalhimah : 11)

 

 Asy-Syaikh Abu Abdillah Laz-har Sunaiqrah –hafidzohullah-

 “Dan siapakah Yahya Al-Hajuri ini? Mengapa kalian mengikuti dan duduk

mendengarkan perkara-perkara ini dan mengikuti musykilat-musykilat ini? Manakah yang lebih terpercaya menurut kalian? Asy-Syaikh Firkous ataukah Al-Hajuri ini?”

(Tahdzir Ulama’ wa Masyayikhis Sunnah min Fitnah Yahya Al-Hajuri Al-Mudalhimah : 12)

Asy-Syaikh Al-Faqih Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Wushshabi –hafidzohullah-

 “Kadang-kadang seseorang bertanya: “Mengapa Anda (Asy-Syaikh Al-Wushshabi, pen) tidak menasehati Al-Hajuri secara rahasia antara dirimu dan dirinya?” Maka kami jawab:

“Kedustaannya (Al-Hajuri, pen) telah memenuhi berbagai ufuq. Seandainya berupa kedustaan antaraku dan antaranya maka nasehatnya juga antaraku dan antaranya. Akan tetapi kedustaannya telah memenuhi berbagai ufuq. Ia juga memiliki banyak kedustaan. Saya akan memilih (memberi contoh) 3 kedustaan saja untuk menyingkat waktu…” (Tahdzir Ulama’ wa Masyayikhis Sunnah min Fitnah Yahya Al-Hajuri Al-Mudalhimah : 8)

 Asy-Syaikh Al-Muhaddits Dr. Abdullah bin Abdurrahim Al-Bukhari–hafidzohullah-

 “Ucapan Yahya (Al-Hajuri) tentang Asy-Syaikh Ubaid dan juga tentang para

masyayikh Ahlussunnah –demi Allah- adalah termasuk kebatilan yang paling batil, bahkan termasuk kejahatan yang paling jahat. Dan tidaklah mencocoki pendapat ini kecuali seseorang yang telah menyimpang.” (Tahdzir Ulama’ wa Masyayikhis Sunnah min Fitnah Yahya Al-Hajuri Al-Mudalhimah: 16)

 

Beliau juga menjelaskan:

 “Sekte Haddadiyah ekstrem adalah mereka itu (Al-Hajuri dan para pengikutnya, pen).” (Tahdzir Ulama’ wa Masyayikhis Sunnah min Fitnah Yahya Al-Hajuri Al- Mudalhimah: 16)

 

 Asy-Syaikh Al-Faqih Abdurrahman bin Mar’i Al-Adni–hafidzohullah-

Beliau juga menjelaskan kedustaan Al-Kadzdzab Al-Hajuri:

 “Sungguh banyak kedustaan-kedustaan, berbagai macam makar dan tipudaya yang bercokol pada diri Al-Hajuri dalam keadaan berpura-pura menampakkan sifat shalih, takwa, berusaha jujur dan amanah. Dari sini maka saya akan merekam persaksian sebagai bentuk amalan agama Islam yang mana saya tahu bahwa Allah akan meminta tanggung jawab dariku pada hari kiamat….” (Tahdzir Ulama’ wa Masyayikhis Sunnah min Fitnah Yahya Al-Hajuri Al-Mudalhimah: 17)

Asy-Syaikh Utsman As-Salimi –hafidzohullah-

 “Di sana (Dammaj, pen) ada orang yang ingin menikam As-Sunnah dengan

mengatasnamakan As-Sunnah (yaitu Al-Hajuri dan pengikutnya, pen).” (Tahdzir

Ulama’ wa Masyayikhis Sunnah min Fitnah Yahya Al-Hajuri Al-Mudalhimah: 20)

Para pengikut hawa nafsu, biasanya dalam rangka melanggengkan hawa nafsunya, mereka melakukan langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Menampilkan tazkiyah para ulama terhadap syaikh-syaikh mereka dimasa mereka istiqomah. Seperti yang dilakukan orang-orang hizbi terhadap Abul Hasan Al Maghribi, Ali Hasan, Salim Al Hilali dll.
  2. Apabila langkah pertama tidak  bermanfaat lagi, karena adanya fatwa terkini dari para ulama tentang penyimpangan syaikh-syaikh tersebut, maka mereka kemudian membuat tasykik terhadap fatwa tersebut . Dengan mengatakan: “….Tidak benar syaikh Rabi mengatakan ini, beliau masih mendukung..”, “…Itukan hanya nukilan dari Syaikh, mana bukti rekamannya?..”Itukan jawaban syaikh ketika ditanya, beliau tidak menulis langsung dalam bentuk malzamah..” “Syaikh kan tidak menulis dalam buku khusus, padahal kebiasaan beliau kalau mentahdzir seseorang beliau tulis dalam bentuk kitab..”
  3. Ketika langkah kedua pun tidak bermanfaat lagi, maka mereka akan sembelih fatwa ulama dengan mengatakan: “Syaikh tidak faham permasalahan”, “Itukan ijtihadnya beliau”,  “Syaikh sejak awal memang tidak suka sama kita”, “Syaikh tidak adil dalam permasalahan ini”, “Kita tidak boleh taklid”, “Hatta imam ahmad yang berfatwa akan kita lawan, karena syaikh kita alal haq”, “Hujjah itu qur’an dan sunnah”, “Wong syaikhnya sendiri maftun , ya kita ga ambil fatwanya”.[2]

Pada akhirnya bukan mereka mengamalkan fatwa ulama untuk  menghukumi, tapi mereka sendiri yang akan menghukumi ulama. Allahul Musta’an.

Untuk itu apabila masih ada orang yang berdalih dengan salah satu dari 3 hal tadi, cukup kita katakana : “Fatwa siapa yang engkau inginkan? Cukup bagi kita Al Qur’an dan As Sunah dengan bimbingan para ulama”

Kecerobohan pertama Abdul ‘Alim yang perlu diingatkan, yaitu ketika diawal tulisannya dia telah memulai dengan sesuatu yang dia lupa ( kami berbaik sangka yang dia lakukan itu karena lupa, bukan karena dusta).

Yaitu ucapannya: karena telah diketahui oleh antum semua tersebarnya mauqif kami, yaitu dengan mauqif TAWAQQUF (DIAM) sampai jelasnya perkara ini

Padahal kami mengetahui tulisannya tertanggal 24 sya’ban 1432.

Maka sungguh Abdul ‘Alim benar – benar lupa. Kami ingin mencoba mengingatkannya dengan pertanyaan-pertanyaan berikut ini :

  1. Apakah benar sebelum tanggal itu antum DIAM, tidak berbicara masalah fitnah Dammaj? tidak pernah mencela para asatidzah yang berbeda dengan antum sebagaimana pengakuan yang antum lakukan dalam tulisan antum ini? Antum tidak pernah mengisi muhadhoroh yang isinya mencela asatidzah yang berbeda dengan antum? Apakah antum tidak pernah mengoreksi dan membiarkan tersebarnya tulisan salah satu  murid antum ( Sholeh ) yang kurang lebih sama dari isi dan kualitasnya? Apakah benar sebelum tanggal tersebut antum tidak pernah memberi pesan untuk tidak menghadiri ta’limnya asatidzah yang berbeda dengan antum? [3]

Coba antum ingat-ingat lagi dengan ta’ani , tanpa emosi. Apabila perlu, antum minta bantuan penasehat antum sang Ustadz Fathurrohman atau Taufiq –hadanallah wa iyahum- untuk mengembalikan ingatan antum. Atau antum bisa tanya Sholeh murid antum, atau Soni (Abu Thalhah) agen antum di Majalengka, atau Wowo yang baru tobat dari maksiat, yang tiba-tiba menjadi sangat mahir dalam fitnah ini. Apakah antum sebelum tanggal 24 sya’ban adalah seorang anak ingusan yang manis, yang jauh dari fitnah atau pengobar fitnah nomor wahid di Kuningan??? Dan wajib tentunya bagi para penasehat antum, murid-murid ma’had Kuningan dan yang lainnya untuk membantu semaksimal mungkin memulihkan ingatannya dan jangan sekali-kali kalian justeru menolongnya mengubur ingatannya, ingatlah firman Allah :

tûïÏ%©!$#ur (#rãxÿx. öNåkÝÕ÷èt/ âä!$uŠÏ9÷rr& CÙ÷èt/ 4 žwÎ) çnqè=yèøÿs? `ä3s? ×puZ÷GÏù †Îû ÇÚö‘F{$# ׊$|¡sùur ׎Î7Ÿ2 ÇÐÌÈ

Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai Para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (Al Anfal 73).

Allah juga berfirman :

öÏj.x‹sù !$yJ¯RÎ) |MRr& ֍Åe2x‹ãB ÇËÊÈ

Maka berilah peringatan, karena Sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. (Al Ghasyiah, 21)

Dan pada kesempatan ini tidak ada hajat bagi kami untuk membuka ingatan antum. Cukuplah bagi antum untuk merenung dengan tenang mengingat kembali sepak terjang antum dalam fitnah ini, biarlah antum sendiri yang menjadi hakim bagi diri antum ya Abdal Alim.[4]

Tetapi sebelumnya, mungkin antum punya pemahaman tersendiri tentang makna tawaquf, karena apabila yang diinginkan dari makna tawaquf adalah diam dan menjauh dari fitnah[5], mengembalikan dan mengikuti para ulama dalam menyelesaikan fitnah ini. Jelas antum jauh panggang dari pada api, kenyataan yang ada sepak terjang antum menunjukan antum orang terujung dalam masalah ini. Tapi kalau yang antum maksud tawaquf adalah diam (tidak mengamalkan) fatwanya para ulama (seperti fatwanya Syaikh Rabi, Syaikh Muhammad bin Hadi, syaikh Ubaid, Syaikh Al Wushobi, dan yang lainnya –hafidzohumullah-), mungkin ini tepat, dan antum sekarang tidak tawaquf lagi yang maknanya adalah tidak hanya sekedar tidak mengamalkan fatwa ulama tapi bahkan menentangnya setelah jelas para ulama berfatwa tentang Dammaj dan Syaikh Yahya.

Ucapan antum : … ketika mendapatkan perselisihan atau perpecahan diantara mereka dengan terus mengikuti bimbingan para ulama

  1. Perlu ditanyakan, ulama siapa yang membimbing antum dalam masalah perselisihan Syaikh Yahya dengan Syaikh Abdurrahman?

Apakah Syaikh Rabi’, Syaikh Shalih Fauzan, Syaikh Muhammad bin Hadi, Syaikh Ubaid, Syaikh Muhammad Al Imam, Syaikh Muhammad Al Wushobi, Syaikh  Abdulloh dan Utsman Ad Dzamari, Syaikh Al Buro’I – hafidzohumullah-? Atau Syaikh Yahya (salah seorang dari 2 pihak yang berselisih). Atas bimbingan ulama manakah sepak terjang antum dalam fitnah selama ini? Maka akan lebih baik kiranya antum sebutkan para ulama yang membimbing antum, bahkan kalau ingin lebih ilmiyyah dan berbobot antum tulis juga wasilahnya apa, telpon, surat, pertemuan disertai tanggal dan tempat.

Kalau hanya sekedar mengaku atau membawakan fatwa ulama, kemudian menyelisihinya, kaum muslimin insya Allah sepakat itu bukan mengikuti bimbingan ulama.

tbqä9qà)tƒur $oY÷èÏÿxœ $uZøŠ|Átãur

“Mereka mengatakan kami mendengar dan kami menyelisihi”

Kemudian Abdul ‘Alim membawakan pujian yang pernah diucapkan para ulama terhadap syaikh Yahya.

Maka ini adalah perkara yang mengherankan untuk orang yang pernah bertahun-tahun duduk  di markiz ilmi Dammaj.

  1. Kenapa bukan ucapan terbaru mereka (para ulama) yang engkau bawakan?

Apakah tazkiyah atau jarhnya seorang ulama berlaku terus menerus walaupun orang yang di tazkiyah atau dijarhnya tersebut sudah berubah?

Apabila antum menjawab iya, maka antum harus berbuat adil juga, antum tidak boleh mentahdzir Abul Hasan, Ali Hasan dan yang semisalnya. Karena telah tsabit dari para ulama, bahwasannya dahulu para ulama pernah memuji mereka. Bahkan syaikh Yahya sendiri pernah mentazkiyah para asatidzah yang sekarang kehormatannya antum tumpahkan.

Alangkah baiknya antum renungkan ayat-ayat yang antum bawakan  yang memerintahkan untuk berbuat adil.

Kalau jawaban antum tidak, maka tidak sepantasnya antum menipu umat dengan tidak memuat fatwa terbaru mereka.

  1. Antum membawakan ayat yang memerintahkan untuk berbuat adil, kenapa antum hanya menyebutkan tazkiyah ulama kepada syaikh Yahya, dan tidak menyebutkan tazkiyah mereka pada syaikh Abdurrahman. Apa antum tidak mengetahui tazkiyahnya para ulama terhadap syaikh Abdurrahman?

Apabila jawaban antum tahu, Fal Qur’anu hujjatun alaika.

Kalau antum menjawab tidak tahu, kayaknya tidak mungkin karena antum sendiri mengatakan:

 Dalam keadaan kita (ikhwah yang pernah belajar didammaj) mengetahui, siapa Syaikh Abdurrohman

Abdul ‘Alim membawakan ucapan para ulama yang pernah memuji syaikh yahya ketika masih istiqomah. Sekarang apakah para ulama tersebut masih memuji syaikh yahya?

 

Fattaqallah ya akhi, ingatlah firman Allah:

Ÿwur (#qÝ¡Î6ù=s?  Yysø9$# È@ÏÜ»t7ø9$$Î/ (#qãKçGõ3s?ur ¨,ysø9$# öNçFRr&ur tbqçHs>÷ès? ÇÍËÈ

“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (Al Baqarah, 42)

Ada beberapa perkara  yang patut dikasihani dari Abdul ‘Alim, sesungguhnya dia telah tertinggal dari teman – teman mutha’asibnya yang seperjuangan dalam masalah fitnah ini. Ketika teman-temannya telah memasuki marhalah ke-3 yaitu menolak apa yang difatwakan para ulama tentang Syaikh Yahya, dia masih terseok-seok membawakan pujian para ulama yang sekarang telah mentahdzirnya. Apa  karena lokasi tempat dia yang memang jauh dari pusat fitnah- Magetan? Allahu ‘alam.

Kemudian Abdul ‘Alim melakukan jarh pada asatidzah, akan tertapi jarhnya tersebut dibangun diatas :

  • Penggalan kisah yang hanya dilihat dari sudut pandang dia, tanpa melihat dan menyebutkan kejadian secara utuh.
  • Dugaan-dugaan
  • qiila wa qoola

Ucapan antum bahwa ustadz Luqman –hafidzahullah- berkata:

“ sekedar dai tidak tahu manhaj, sudah naik pangkat”.

  1. Pernahkah antum tabayun kapan ustadz luqman mengucapkan itu? Apakah ketika Syaikh Yahya belum membuat fitnah, dan tidak ada seorang ulama pun yang mencela dia? Ataukah setelah semuanya berubah dan para ulama mulai mencelanya? Harusnya antum tanyakan pula kepada ustadz Luqman, adakah ulama yang menjadi salaf beliau yang mencela syaikh yahya? Karena bisa jadi beliau hanya mengikuti ulama, bukan berasal dari pemikiran pribadi beliau.

Karena sungguh sangat tidak ilmiyyah apabila antum hanya bersandar pada rekaman dan langsung menghukumi tanpa tabayun dan tstsabut. Karena kami mengetahui bagaimana penghormatannya ustadz Luqman terhadap syaikh Yahya sebelum syaikh Yahya membikin fitnah

  1. Pernahkah kritikan yang sama antum layangkan terhadap orang-orang yang juga mencela Syaikh Abdurrohman? Padahal syaikh Muqbil –rahimahullah- pernah memuji syaikh Abdurrohman. Kenyataanya antum justeru memuji mereka, karena apa? Karena satu barisan dalam masalah ini. Hal seperti ini jelas tidak ilmiyyah dan tidak adil.

Ucapan Abdul ‘Alim : … Dia luqman mengatakan dalam rekaman atau majelis yang sama….

Apakah cukup bagi antum menetapkan hukum hanya berdasarkan rekaman tersebut?

  1. Apakah antum mengetahui kronologis serta gambaran keadaan ketika beliau mengucapkan itu?

Apakah antum juga sudah tanyakan apakah maksud ucapan ustadz Luqman tersebut, apa sebabnya? dalam keadaan apa? Itukah yang dia yakini? Atau justeru makna yang beliau maukan bukan seperti itu, tapi makna lain  seperti sindirin?

Karena orang yang berakal dan mengenal ustadz Luqman, akan sangat faham, bahwal ustadz luqman jauh dari berkeyakinan seperti itu.

Apakah antum akan langsung menghukumi orang yang mengucapkan :

“اللهم أنت عبدي وأنا ربك”

Sebagai suatu kekufuran tanpa tabayyun dan mengetahui latar belakang dia mengucapkannya?

وقال السبكي رحمه الله : “فكثيراً ما رأيت من يسمع لفظةً فيفهمها على غير وجهها

Berkata As Subki –rahimahullah- : “Maka kebanyakan aku melihat orang yang mendengar suatu lafadz tidak memahaminya sesuai dengan yang dimaksud”

Tidak sepantasnya dan bukan sikap ilmiyyah terburu-buru menghukumi sesuatu dan hanya bermodalkan rekaman tanpa adanya tabayun, dalam keadaan kita melihat selama ini beliau jauh dari apa yang beliau ucapkan, maka hati-hati dalam masalah ini dan tidak terburu-buru adalah perkara yang sangat dituntut.

Maka hendaknya Abdul Alim melihat kejadian tersebut secara utuh, tidak sepenggal – sepenggal sampai dia memahami dengan benar gambaran sebenarnya, kemudian baru menghukumi.

Bukankah engkau hafal firman Allah :

Ÿwur ß#ø)s? $tB }§øŠs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ íOù=Ïæ 4 ¨bÎ) yìôJ¡¡9$# uŽ|Çt7ø9$#ur yŠ#xsàÿø9$#ur ‘@ä. y7Í´¯»s9′ré& tb%x. çm÷Ytã Zwqä«ó¡tB ÇÌÏÈ

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Al Isra, 36)

Rasulullah bersabda:

: (( إنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بالكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا يَزِلُّ بِهَا إِلَى النَّارِ أبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ المَشْرِقِ والمَغْرِبِ )) متفق عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah, dia mendengar Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya  seorang hamba mengucapkan suatu kalimat yang belum jelas baginya, maka dia terjatuh dengan sebab ucapannya tersebut  kedalam neraka yang jaraknya lebih jauh dari timur dan barat” (Muttafaqun ‘Alaih)[6]

Kemudian ucapan Abdul Alim:

 Cukuplah apa yang telah dikatakan oleh para ulama–rohimahumulloh- tentang Luqman, bahwa dia itu hizbi. Sebagaimana yang akan ana nukilkan dari bebrapa para ulama, salah satunya yang dinukilkan oleh Dzulqornain –hadahullah- dalam rekamannya dari 3 Syaikh (Asy Syaikh Robi‟ –hafizhohulloh-, Asy Syaikh Muhammad Hadi Al Madkholi –hafizhohulloh- dan Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi‟i –rohimahulloh-).

 

Berkata syaikh Robi‟ –hafizhohulloh-:

”Saya takut Luqman ini sebenarnya adalah ikhwani berpenampilan salafi”.1

lalu Dzulqornain –hadahulloh- melanjutkan :

”jarh keras dari syaikh Robi’ terhadap orang ini …adapun jarh dari syaikh Robi sudah tersebar dan terkasetkan dan sampai sekarang belum dicabut oleh beliau”.

 

Jarh Syaikh Muhammad bin Hadi Al Madkholi –hafizhohulloh-, berkata Dzulqornain dalam rekamannya:

”Dan juga jarh dari syaikh Muhammad bin Hadi Al Madkholi yang hanya bertemu beberapa saat dan bisa memberikan penilaian kepada Luqman bahwa dia ini hizbi, menurut keterangan ustadz Dzul Akmal yang ketemu langsung bersama syaikh Muhammad bin Hadi”.

 

Jarh Syaikh Muqbil –rohimahulloh-, berkata Dzulqornain –hadahulloh- dalam rekamannya:

”menurut keterangan ustadz Sobarudin, rupanya Luqman Ba’abduh ini dicoret namanya oleh Syaikh Muqbil…dan namanya yang dicoret Syaikh Muqbil cuma ada dua kemungkinan, dia telah menjadi hizbi atau orang yang telah menyimpang”.

 

Subhanallah!

  1. Inikah metodologi ilmiyah dalam menjarh wahai Abdul Alim?

Apabila  kita  memperhatikan “data” yang dibawakan Abdul Alim, mungkin kita akan bertanya sebenarnya siapa yang sedang menjarh? Karena kita mendapati kalimat:  lalu Dzulqornain –hadahulloh- melanjutkan :

”jarh keras dari syaikh Robi’ terhadap orang ini …

berkata Dzulqornain dalam rekamannya:

”Dan juga jarh dari syaikh Muhammad bin Hadi Al Madkholi yang hanya bertemu beberapa saat dan bisa memberikan penilaian kepada Luqman bahwa dia ini hizbi, menurut keterangan ustadz Dzul Akmal yang ketemu langsung bersama syaikh Muhammad bin Hadi”.

berkata Dzulqornain –hadahulloh- dalam rekamannya:

”menurut keterangan ustadz Sobarudin……

Inilah metode jarh ala Abdul ‘Alim : Qiila Wa qoola

Padahal Rasulullah bersabda:

عن أَبي عيسى المغيرة بن شعبة – رضي الله عنه – ، عن النَّبيّ – صلى الله عليه وسلم – ، قَالَ  وكَرِهَ لَكُمْ : قِيلَ وَقالَ  مُتَّفَقٌ عَلَيهِ .

Rasulullah bersabda: “…Dan Allah membenci bagi kalian qiila wa qoola”

Kami katakan :

  1. Apakah antum sudah bertanya langsung kepada syaikh Rabi  sebagai bentuk tatsabut tentang ucapan beliau itu, bukankah syaikh rabi’ masih hidup dan bisa dihubungi? karena ucapan beliau tidak shorih, karena bisa jadi itu adalah pemahaman dzulqarnain saja[7].
  2. Kemudian keterangan  sobarudin, siapakah sobaruddin? Apakah dia telah mendapatkan mandat dari syaikh Muqbil untuk mensyarh ucapan atau perbuatan beliau?

kenapa Syaikh Yahya memasukan ustadz Luqman termasuk pada jajaran orang-orang yang tsiqoh pada kitab Thobaqotnya, kalau benar ustadz Luqman sudah di jarh Syaikh Muqbil? Mana yang lebih antum percayai sobarudin atau Syaikh Yahya Al Hajuri?

Tentu sikap tidak ilmiyyah dan tidak cerdas, terburu-buru menghukumi seseorang sebagai hizbi hanya dengan modal ini, wahai Abdal ‘Alim. Lihatlah para ulama bagaimana mereka sabar ketika menghukumi seseorang sebagai hizbi, tidak seperti dirimu.

Karena mereka takut pada Allah mengucapkan sesuatu yang belum jelas

(( إنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بالكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا يَزِلُّ بِهَا إِلَى النَّارِ أبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ المَشْرِقِ والمَغْرِبِ )) متفق عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah, dia mendengar Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba dia benar-benar mengucapkan suatu kalimat yang belum jelas baginya, maka dia terjatuh dengan sebab ucapannya tersebut  kedalam neraka yang jaraknya lebih jauh dari timur dan barat” (Muttafaqun ‘Alaih)

Sekarang apabila kita bertanya kepada antum, apakah antum menganggap Dzulqarnain dan Dzul Akmal orang yang tsiqoh?[8]

Perkara tatsabut dan tabayun  adalah hal yang sangat penting terkhusus dalam masalah penghizbian seseorang.

Allah berfirman :

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä bÎ) óOä.uä!%y` 7,ř$sù :*t6t^Î/ (#þqãY¨t6tGsù br& (#qç7ŠÅÁè? $JBöqs% 7′s#»ygpg¿2 (#qßsÎ6óÁçGsù 4’n?tã $tB óOçFù=yèsù tûüÏBω»tR ÇÏÈ

6. Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Berkata Al Imam Asy Syaukani : Yang dimaksud dengan tabayun adalah mengetahui dan memeriksannya, dan yang dimaksud tasabut adalah tenang dan tidak tergesa-gesa, jeli dalam melihat permasalahan yang terjadi, dan berita yang datang, sehingga perkaranya menjadi jelas.

Jangan terburu-buru menuduh wahai Abdal ‘Alim, ini kehormatan kaum muslimin, sabar…sabar…, sungguh Rasulullah telah mencela orang yang terburu-buru berprasangka buruk.

“بئس مطية الرجل زعموا”

“Sejelek-jelek tunggangan seorang laki-laki adalah persangkaan”

Ingatlah sabda Rasullah:

“كفى بالمرء كذباً أن يحدث بكل ما سمع”

“Cukuplah seseorang dikatakan berdusta dengan menceritakan setiap apa yang dia dengar”

Berkata Ibnu Hibban –rahimahullah-: Pada hadits ini ada peringatan bagi orang yang menceritakan setiap apa yang dia dengar, sampai dia yakin atas kebenaran berita tersebut.

Bagaimana jadinya dengan orang yang asal pungut, setiap ada berita miring terhadap orang yang tidak sependapat dengannya, dia langsung menyambar berita tersebut dan menyebarkannya. La haula wala quwwata illa billahi.

مالك بن أنس إمام دار الهجرة يجلي لنا هذه القضية بقوله : “اعلم أنه ليس يسلم رجل حدث بكل ما سمع ، ولا يكون إماماً أبداً وهو يحدث بكل ما سمع .

Al Imam Malik –rahimahullah- menjelaskan masalah ini : “Ketahuilah tidak akan selamat orang  yang menceritakan setiap apa yang dia dengar, dan dia tidak akan menjadi imam selama lamanya.

Lihatlah Rasululloh –shalallahu ‘alaihi wa sallam- , bagaimana ketika menyikapi Hatib bin Abi Baltha’ah –radhiallahu ‘anhu-, yang mengirim surat kepada kaum musyrikin untuk memberitahu kedatangan Nabi ke Makkah. Beliau tidak langsung menghukumi tapi memulainya dengan pertanyaan:

“ما حملك يا حاطب على ما صنعت؟…”

“Apa yang membawamu berbuat begini wahai hatib?”

Semuanya itu dalam rangka apa? Menjaga kehormatan seorang muslim, hati-hati, dan tidak serampangan dan ngawur.

Apa sulitnya bagi saudara kita Abdul ‘Alim melakukan hal itu pada zaman modern ini? Seandainya dia harus naik keledai ke Jember, untuk tatsabut dan tabayun, tetap saja tidak ada udzur baginya untuk ngawur dalam menghukumi seseorang.

Maka wajib bagi setiap tholibul ilmi untuk tidak terburu-buru memvonis salah seorang yang dikhabarkan bahwa orang tersebut melakukan suatu kesalahan sampai dia tatsabut

Adapun ucapan Abdul ‘Alim : Mana penjelasan dia dari kemungkaran-kemungkaran yang telah dia lakukan, baik dari sisi pendholiman dan mukholafahnya yang lain ???. Mana islah (perbaikan) yang dia lakukan setelah laskar jihad bubar ???. Seakan-akan apa yang terjadi pada laskar jihad “Wujuduhu ka‟adamihi” (tidak ada kejadiannya), padahal kesalahannya sangat fatal. Wallohul musta‟aan.

 

  1. Wahai Abdal ‘Alim apakah engkau pernah bertanya sebelum memvonis? Apakah engkau selalu mengikuti apa yang diucapkan ustadz Luqman atau yang lainnya yang pernah terlibat dalam laskar, sehingga engkau bisa memvonis seperti itu?

Tidakkah engkau berusaha menggunakan ilmumu yang engkau dapat di Dammaj untuk sedikit  berpikir kenapa Syaikh Rabi’yang menfatwakan jihad kemudian menfatwakan untuk membubarkan laskar dan orang yang lebih tahu masalah laskar jihad tidak memiliki pikiran dan persangkaan buruk sepertimu? Jawabannya tidak lain adalah karena perbedaan ilmu, wara’, rasa takut pada Allah dan volume otak (kecerdasan) yang sangat mencolok denganmu.

Kalau engkau memiliki niat baik untuk memperbaiki ummat ini, tidakkah engkau berani datang kemudian engkau sebutkan kesalahan-kesalahan dan berikan solusi untuk memperbaikinya. Pernahkah engkau lakukan itu ?[9]

  1. Yang kedua, apakah antum punya bukti laskar jihad tidak pernah menjelaskan penyimpangannya?

Ya Abdal ‘Alim antum punya penyakit yang kronis yang wajib bagi antum untuk segera mengobatinya. Antum ringan menuduh tanpa bukti.

Maka kita tanya kepada antum : Antum yakin para asatidzah tidak menjelaskan kesalahan laskar jihad? Antum punya bukti? Atau antum tidak tahu bahwa para asatidzah telah menjelaskan kesalahan laskar jihad.?

Yang lebih tidak ilmiyah lagi kesalahan (anggaplah dikatakan kesalahan) seseorang atau suatu kaum, antum gunakan untuk menyalahkan kaum yang lainnya secara umum. Yaitu ucapan antum:

Perkara lain yang menunjukan mereka belum taraju’….

Lihat manhaj baru abdul Alim. Laskar jihad dikatakan belum taraju’ karena sebab ustadz muslim tidak senang dan memberhentikannya dari ngisi ta’lim karena dia membahas kesalahan laskar jihad[10].

Jadi kalau ustadz muslim senang berarti laskar jihad sudah taraju’? Bagaimana dengan firman Allah:

br&ur }§øŠ©9 Ç`»|¡SM~Ï9 žwÎ) $tB 4Ótëy™ ÇÌÒÈ

39. Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,

Ya Abdal Alim kalau kita boleh menuduh tanpa bukti, bisa jadi kita semua sudah dirajam.[11]

Kemudian Abdul Alim membawa fatwanya Muhammad bin many dan Yahya al hajuri –hadanallah wa iyyahum-. Maka ini tidak perlu digubris, sebagaimana fatwanya Al Hajuri dan hajuriyun terhada syaikh Abdurrohman dan Syaikh Abdulloh -–hafidzohumullah-.

قال الحافظ ابن حبان : “من المحال أن يجرح العدل بكلام المجروح

Berkata Al Hafidz Ibnu Hibban: “Termasuk perkara yang tidak mungkin (diterima), seorang yang adil dijarh oleh orang yang majruh”

Ucapan Abdul Alim : Sekarang terbukti orang ini bergabung dengan sururiyin…

Kaidah berikutnya yang digunakan Abdul Alim dalam memvonis seseorang, dengan tabel yang dia dapat di internet tanpa memastikan kebenarannya.

Masya Allah ya Abdal ‘Alim betapa murahnya bagimu kehormatan seorang muslim, dari data yang engkau pungut ditempat sampah engkau bisa mevonis seseorang menjadi sururi.

  1. Apakah dari sisi syari’at hal itu telah mencukupi untuk memvonis seseorang sebagai sururi? Silahkan bawakan dalilnya!

Apakah dengan melihat tabel tersebut engkau bisa mengetahui kejadian yang sebenarnya? Yang dengannya engkau vonis seseorang sebagai sururi? Sekali lagi Abdul ‘Alim memvonis dengan kejadian yang dia sendiri tidak faham kejadiannya.[12]

Kami khawatir ayat yang engkau bawakan justeru hujjatun alaika kalau kaidahmu seperti itu.

Sekali lagi kami ingatkan dengan sabda Rasulullah:

(( إنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بالكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا يَزِلُّ بِهَا إِلَى النَّارِ أبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ المَشْرِقِ والمَغْرِبِ )) متفق عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah, dia mendengar Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba dia benar-benar mengucapkan suatu kalimat yang belum jelas baginya, maka dia terjatuh dengan sebab ucapannya tersebut  kedalam neraka yang jaraknya lebih jauh dari timur dan barat” (Muttafaqun ‘Alaih

Sekarang, bagaimana apabila ada orang yang melihat engkau naik mobil YPIB (YAYASAN PENDIDKAN IMAM BONJOL) ? Apakah artinya engkau telah jadi hizbi YPIB. Dan jelaskan juga ketika engkau mengisi kajian yang diprakarsai oleh para kaki tangan bos YPIB, dan tidak hadir dimajelismu kecuali orang-orang yang memiliki wala pada YPIB? Apakah sudah cukup untuk memvonismu sebagai ustadz YPIB?

Kemudian ketika firman hidayat menziarohimu, bagaimana sikapmu? Apakah keras seperti dalam tulisanmu? Kenapa Firman hidayat sampai hinggap di ma’hadmu, kenapa tidak hinggap di Ma’had Cirebon? Demikian juga ketika Bos YPIB datang ke sarangmu? “Tidaklah burung akan terbang dengan sejenisnya” (Imam Al Al Bani –rahimahullah-)

Kalau kami memakai kaidahmu, engkaulah orang terdepan yang menjadi hizbi, tapi alhamdulillah, bagi kami kehormatan seorang muslim terjaga, maka wajib bagi kami untuk ta’ani, hati-hati, bersabar, mengedepankan husnudzan, tastabut dan tabayun serta minta bimbingan ulama dalam memvonis seseorang hizbi.

Ucapan dia yang juga ngawur: Dan kalau seandainya dia (luqman) di atas AL HAQ, sungguh akan mudah membantahnya, sebagaimana dia membantah teroris ketika itu.

Maka kembali Bagi Abdul ‘Alim membuat kaidah baru

Padahal Rasulullah bersabda:

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّكُمْ تَخْتَصِمُونَ إِلَيَّ وَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَلْحَنُ بِحُجَّتِهِ مِنْ بَعْضٍ فَمَنْ قَضَيْتُ لَهُ بِحَقِّ أَخِيهِ شَيْئًا بِقَوْلِهِ فَإِنَّمَا أَقْطَعُ لَهُ قِطْعَةً مِنْ النَّارِ فَلَا يَأْخُذْهَا

Dari ummi salamah radiallhu anha: Bahwasannya Rasulullah bersabda: Sesungguhnya ada diantara kalian yang membawa perselisihannya padaku, dan bisa jadi hujah  sebagian kalian lebih meyakinkan dari hujah yang lainnya. Maka barang siapa yang aku memutuskan Sesutu baginya dengan hak saudaranya  karena sebab ucapannya, maka sesungguhnya aku telah memotongkan baginya potongan dari neraka, maka janganlah dia mengambilnya (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Pada hadits tadi, sangat jelas kebenaran bukan dilihat dari fasihnya seseorang membawakan hujahya atau tidak.

Dan juga para ulama, diantara mereka ada yang dibantah oleh orang-orang bodoh, tetapi mereka terkadang tidak membalas bantahan tersebut, apakah kamu akan mengatakan , mereka diatas kebatilan karena diam ketika dibantah atau justeru mereka mengamalkan firman Allah:

ߊ$t7Ïãur Ç`»uH÷q§9$# šúïÏ%©!$# tbqà±ôJtƒ ’n?tã ÇÚö‘F{$# $ZRöqyd #sŒÎ)ur ãNßgt6sÛ%s{ šcqè=Îg»yfø9$# (#qä9$s% $VJ»n=y™ ÇÏÌÈ

63. Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.

Maka alasan antum dengan diamnya ustadz Luqman sangat tidak ilmiyyah. Karena bisa jadi diamnya beliau, ini  membuktikan beliau menganggap tidak ada faedahnya membantah tulisan murahan seperti itu, bahkan bias jadi akan   memalingkan dan menyibukan dari da’wah dan ilmu. Maka kalau semua tulisan orang-orang yang menuduh harus dijawab niscaya akan habislah waktu yang sangat berharga hanya untuk itu.

Sebagaimana dikatakan seorang penya’ir :

Kalau setiap anjing yang menggonggong  itu dilempar oleh kerikil, lama-lama kerikil itu menjadi Sesuatu yang sangat berharga.

Kemudian tulisan Abdul ‘Alim tentang ustadz Musthofa –hafidzahullah–.

Sungguh kami tidak mengetahui hakikat kejadian yang sebenarnya, maka karena tidak mengetahui, berhati-hati dan tidak tergesa-gesa adalah jalan yang wajib ditempuh. Maka jika itu benar terjadi -pada siapapun- maka wajib baginya untuk bertaubat.

Tetapi, yang ingin kami tanyakan, apa maksud Abdul ‘Alim menyebarkan aib tersebut? Apakah dalam rangka mengajari umat tentang hukum haramnya seorang laki-laki memakai pakaian perempuan? Ataukah dia sedang menasehati ustadz Musthofa karena Allah? Atau sedang menjauhkan manusia dari ustadz Musthofa dengan sebab kejadian tersebut? Kalau jawaban dia yang pertama, maka dia harus banyak belajar lagi bagaimana berdakwah, kalau yang kedua, maka diapun harus lebih banyak lagi belajar bagaimana menasehati, terkhusus menasehati seorang da’i Ahlissunnah, kalau yang ketiga maka diapun harus lebih banyak lagi belajar kaidah-kaidah tahdzir..

Ya Abdal ‘Alim, antum seharusnya tidak perlu membawakan persaksian begitu banyak orang.

  1. Ada yang lebih penting, yaitu sebutkan alasan yang syar’i, yang melandasi halalnya kehormatan ustadz Musthofa ditumpahkan begitu rupa dengan engkau beberkan aibnya. Perkara apa yang menyebabkan bolehnya kita membuka aib ustadz musthofa (kalau itu benar gambarannya). Terangkan juga kenapa hadits-hadits nabi yang shahih tentang kewajiban kita menutupi aib seorang muslim, tidak berlaku pada ustadz Musthofa? Itu yang penting sehingga tulisanmu itu akan menjadi ilmiyyah, bisa memberi faidah bagi kaum muslimin.

Apa yang seharusnya dilakukan seorang muslim jika melihat saudaranya terjatuh pada kemaksiatan? Bukankah menasehatinya dan menyembunyikan aibnya, jika dia mau menerima nasehat tersebut? Maka sekarang lihat dirimu sudahkah engkau menasehati ustadz Musthofa dalam masalah ini? Apakah beliau menerima nasehat tersebut atau mengingkarinya?


Kemudian ‘gugatan Abdul ‘Alim pada para asatidzah yang lainnya, ini pun kebanyakan hanya sepenggal kisah yang dilihat dari sisi pandang dia, tidak melihat kejadiannya secara utuh (Atau justeru dia tidak berani menampilkan kejadiannya secara utuh?)

Karena apa yang dia tuliskan jika kejadiannya berhubungan dengan dia, maka akan sulit sekali menguji keilmiyahannya. Apakah cerita itu benar? Kemana kita mencari tokoh-tokoh dalam tulisannya untuk tatsabut, terkadang campur baur antara perkara yang pantas disebutkan dan tidak disebutkan.

Ustadz Muhammad –hafidzahullah-

Ucapan Abdul ‘Alim: Majalah Asy Syari’ah, kebanggaan mereka[13]

Maksudnya apa dia mengatakan “kebanggaan mereka”, siapakah “mereka”? Kalau kita ganti kata “mereka” dengan salafiyun, maka ucapan Abdul Alim menjadi : Majalah asy Syari’ah kebanggaan salafiyun. Maka yang lebih tepat dia tulis (kebanggaan kita –kalau dia menganggap dirinya seorang salafy).

Cuma kita agak kebingungan dengan tulisan dia : Yang dijadikan rujukan ummat salafiyyin (yang mereka sangka ).

Kita salafiyyin di Indonesia memang selama ini menjadikan majalah Asy Syari’ah salah satu bahan rujukan (terkhusus bagi ikhwan yang belum bisa baca kitab berbahasa arab). Maka kita mohon saudara Abdul ‘Alim untuk memberikan penjelasan yang lebih gamblang, karena khawatir ada yang memahami bahwa antum menganggap ikhwan-ikhwan ini bukan salafiyyin. Sering sekali dia membawakan kata “mereka”.

Dan kembali Abdul ‘Alim membuat suatu kebingungan dengan ucapannya : “Dia memiliki peran yang sangat besar bersama mereka (para pencela ulama)

Maka sungguh membingungkan, peran besar apa? Abdul Alim tidak menjelaskan.

  1. Apakah peran besar dalam menyebarkan Aqidah Ahlussunah? Atau menyebarkan dak’wah salafiyah? Kalau itu yang dimaksud, ya memang harus diakui, dan tidak bisa dipungkiri, tetapi bukankah itu hal yang terpuji?

Kemudian ucapan dia (para pencela ulama)?

Maka harusnya dia menyebutkan Siapa diantara asatidzah yang berani mencela ulama? Siapa yang berani mencela Al Imam Ahmad? Adakah diantara mereka yang berani mencela Al Imam Al Bukhari? Siapa yang berani mencela Al Imam Al Barbahari? Siapa yang berani mencela Ibnu Taimiyyah? Siapa yang berani mencela Al Imam Muhammad bin Abdil Wahhab An Najdi? Siapa Yang berani mencela Syaikh Bin Baz? Siapa yang berani mencela Syaikh Al AlBani? Siapa yang berani mencela Syaikh Muqbil? Siapa Yang berani mencela Syaikh Ibnu Utsaimin? Siapa yang berani mencela Syaikh Rabi’? Siapa yang berani mencela Syaikh Yahya An Najmi? Siapa yang berani mencela Syaikh Ubaid? Siapa yang berani mencela Syaikh Al Wushobi? Siapa yang berani mencela Syaikh Abdurrohman? Siapa yang berani mencela syaikh Muhammad Al Imam? Siapa yang berani mencela Syaikh Abdulloh Al Bukhori?

  1. Sebutkan secara rinci wahai Abdal ‘Alim!!! Jangan mengikuti jalannya ahlul batil dengan menggunakan lafadz-lafadz yang umum?

Kalau ada yang mengatakan ada asatidzah yang mencela Syaikh Abul Hasan. Maka sebutkan siapa asatidzah yang mencela dia ketika dia masih istiqomah dan para ulama belum membicarakannya?

Kalau ada yang mengatakan ada asatidzah yang mencela Syaikh Ali Hasan. Maka sebutkan siapa asatidzah yang mencela dia ketika dia masih istiqomah dan para ulama belum membicarakannya?

Kalau ada yang mengatakan, ada asatidzah yang mencela Syaikh Salim Al Hilali. Maka sebutkan siapa asatidzah yang mencela dia ketika dia masih istiqomah dan para ulama belum membicarakannya?

Kalau ada yang mengatakan ada asatidzah yang mencela Syaikh Yahya. Maka sebutkan siapa asatidzah yang mencela dia ketika dia masih istiqomah dan para ulama belum membicarakannya?

Adapun setelah para ulama membicarakannya maka hal itu bukanlah perkara yang dicela.

Ngamuknya Abdul ‘Alim terhadap ustadz Muhammad juga bukan karena alasan ilmiyah.

Yakni ketika dirinya (Abdul ‘Alim) berusaha tidak menggubris tentang adanya berita – berita negatif terkait dengan ustadz Muhammad (seputar fitnah).

Sebenarnya kenapa Abdul ‘Alim diam? Karena dia merasa tidak ‘disentuh’.

Tetapi ketika dia mulai disentuh, dengan pelarangan untuk tidak menghadiri ta’limnya. Abdul ‘Alim pun meradang tanpa kepalang, tak ubahnya seperti setan yang kepanasan ketika diruqyah.

Coba kita lihat, alasan ustadz Muhammad melarang menghadiri ta’limnya Abdul Alim.

Yaitu dikhawatirkannya salafiyin terpecah.

Apakah “tuduhan” ustadz Muhammad itu sesuai kenyataan?

Penulis tidak mengetahui jadwal kajian yang diisi Abdul’ Alim kecuali yang di Majalengka.

Perlu diluruskan bahwa ngamuknya abdul ‘Alim terjadi setelah tersebarnya jadwal kajian dia di Majalengka, yaitu hari jum’at sebulan sekali, ba’da ashar.

Sekarang kita tinjau keadaan majalengka.

  1. Setiap hari jum’at ba’da ashar telah ada kajian di Mushola At- Taqwa, oleh Al Ustadz Abu Rasyid, dan ini telah berlangsung lebih dari 1 tahun. Dan tidak pernah ada konfirmasi dari Abdul ‘Alim atau yang mewakilinya untuk bermusyawarah mengkompromikan jadwal ta’lim  yang berbenturan.
  2. Panitia yang mengadakan ta’lim tersebut adalah saudara Wowo dan Soni. Adapun Wowo sebagian salafiyin majalengka mengenalnya sebagai orang yang baru mengenal salaf, tapi sangat disayangkan dia menyibukan diri dengan fitnah dan akhirnya mengantarkannya jadi seorang jasus[14], wal iyadzu billah. Adapun Soni dahulu dia berjalan bersama ikhwan majalengka, sampai kemudian dia mengabdikan dirinya sebagai jongos Bos YPIB sang inisiator ta’lim-ta’lim hizbi, kemudian menceburkan diri kedalam fitnah ini tanpa melepaskan pengabdiannya pada bos YPIB.

Maka silahkan lihat, apa yang terjadi jika ta’lim tersebut dibiarkan terjadi.

Tentunya akan ada 2 majelis, apakah ini beradab dan menimbulkan persatuan atau perpecahan?

Kemudian seperti biasanya Abdul ‘Alim membawakan sepenggal cerita (tidak secara utuh) sehingga jadilah cerita tersebut seolah – olah hujjah bagi dia.

Maka seharusnya dia berbuat adil, untuk menyebutkan kronologis kejadian tersebut secara utuh, baru kemudian masing-masing pihak menilai. Maka jawabannya bisa jadi dia lupa atau takut.

Masalah proposal.

Pembahasan proposal sebenarnya adalah pembahasan ilmiyyah kalau kita mau membahasnya dengan ilmu dan tidak didahului oleh sifat fanatik dan taqlid, tetapi sayangnya Abdul ‘Alim menjadikan masalah proposal sebagai alat untuk memuntahkan amarahnya.

Abdul ‘Alim membawakan hadits-hadits tentang larangan meminta-minta (tasawwul). Tetapi yang disayangkan, dari tulisan dia kami memahami bahwa dia memutlakan semua bentuk “meminta-minta”,tidak dibedakan orang yang membutuhkan dan yang tidak membutuhkan, untuk pribadi atau da’wah, untuk memperkaya diri atau karena adanya kebutuhan.

Maka terhadap hadits  Hadits yang Abdul ‘Alim bawakan yang disana ada lafadz : man sa’ala min gairi faqrin. Dan juga lafadz: wa hua ‘anha ganiyyun.

Harusnya Abdul ‘Alim jelaskan kenapa rasulullah membawakan lafadz itu atau apa faidahnya.

  1. Kenapa Syaikh Muqbil dalam kitab beliau Dzammul Mas’alah membuat bab khusus : Bab Haramnya meminta tanpa ada keperluan. Dan juga Bab: Siapakah yang dibolehkan untuk meminta?
  2. Sedikitpun kita tidak mengingkari tercelanya meminta-minta, tetapi menyamakan hukum terhadap semua orang yang meminta maka silahkan bawakan dalilnya wahai Abdul ‘Alim.

Maka ucapan Abdul ‘Alim bukankah meminta – minta itu haram? Kita katakan ya bagi yang min ghairi faqrin dan wa hua ‘anha ganiyyun. Adapun yang memang faqir dan membutuhkan maka alangkah baiknya kalau engkau berhati-hati dan mencari dalil untuk mengatakan itu haram, karena Allah –subhana wa ta’ala- telah berfirman”

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä Ÿw (#qãBÌhptéB ÏM»t6Íh‹sÛ !$tB ¨@ymr& ª!$# öNä3s9 Ÿwur (#ÿr߉tG÷ès? 4 žcÎ) ©!$# Ÿw =Ïtä† tûïωtF÷èßJø9$# ÇÑÐÈ

87. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Adapun kesimpulan tentang masalah meminta-minta:

Meminta-minta hukumnya adalah tercela bahkan haram jika dilakukan seseorang untuk dirinya dalam keadaan dia mempunyai kemampuan atau kecukupan, dan dia jadikan meminta-minta tersebut untuk memperkaya diri. Adapun jika meminta-minta itu bagi dirinya dalam keadaan dia benar-benar tidak memiliki dan kekurangan maka dalil-dalil menunjukan hal itu tidak sampai pada keharaman. Adapun meminta bantuan untuk kepentingan agama, tanpa adanya unsur penipuan maka tidak diragukan lagi hal itu dibolehkan dan termasuk ta’awun.

Permasalahannya sebenarnya satu abdul alim memahami permasalahan ini hanya dengan modal otaknya, setidaknya ini yang nampak bagi kami, kenapa? Karena pada masalah-masalah yang butuh kejelian dia kosong dari membawakan pemahamannya ulama, dan ini diantara syubhat dia yang besar dalam tulisannya yaitu untuk permasalahan yang jelas, yang hampir setiap orang mengetahuinya dia bawakan dalil dan terkadang ucapan ulama –walhamdulillah wa jazahullah kharan-, tetapi ketika permasalahan tersebut tidak semua orang memahaminya justeru dia hanya menampilkan ra’yu dia semata. Maka jadilah dalil dan keterangan ulama pada permasalahan yang jelas sebagai penghias kebusukannya rayu’nya dalam masalah-masalah yang pelik yang membutuhkan pembahasan.

 

Diantaranya ucapan dia yang sangat sembrono yaitu :

Berbentuk apakah proposal itu?? Insya Alloh semua akan menjawab: proposal itu berbentuk permohonan dana. Kalau seperti itu bentuknya, bukankah Rosululloh telah melarang umatnya untuk meminta-minta.. bukankah permohonan dana itu termasuk bentuk meminta – minta??

  1. Maka hendaknya antum bertakwa pada Allah, coba sebutkan ulama siapa yang engkau ikuti yang menyatakan seluruh permohonan dana adalah tasawwul (meminta-minta yang tercela)?

Al-Allamah Abdur Rauf Al-Munawi ? berkata: “Sabda beliau  (Sesungguhnya meminta-minta) maksudnya adalah menuntut dari manusia agar mereka memberikan sebagian harta mereka untuk dirinya.”

Bukankah para ulama membedakan meminta untuk kepentingan pribadi dan meminta untuk kepentingan agama?

Kemudian engkau membawakan dalil hadits Auf bin Malik, dan mengambil syahid dari ucapan Rasulullah:

“ Dan janganlah kalian meminta kepada orang lain apapun juga “

Apakah engkau memutlakan semua permintaan? Bukankah Rasulullah juga bersabda:

Sahl bin Sa’d As-Sa’idi  berkata: “Rasulullah  pernah mengutus kepada seorang wanita: “Perintahkan anakmu yang tukang kayu itu untuk membuatkan untukku sebuah mimbar sehingga aku bisa duduk di atasnya!” (HR. Al-Bukhari: 429, An-Nasa’i: 731 dan Ahmad: 21801)

Apakah engkau juga akan menuduh Rasulullah Mutasawwilun?

Ucapan Abdul Alim:

Bukankah hadist-hadist di atas ini menunjukkan bahwa meminta-minta itu haram?

Mungkin disana ada yang mengatakan: proposal kan bukan untuk kita, tapi untuk kepentingan da‟wah?? Maka jawabannya: ini lebih asyad (parah).

  1. Abdul ‘Alim hendaklah engkau bertakwa kepada Allah, kenapa engkau tidak sebutkan ulama siapa yang engkau ikuti dalam masalah ini? ataukah ini hanya pendapat yang keluar dari otakmu?

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:

“Perkataan Al-Bukhari (Bab Menjaga Diri dari Meminta-minta) maksudnya adalah meminta-minta sesuatu selain untuk kemaslahatan agama.” (Fathul Bari: 3/336).

Apakah seperti ini orang yang mengaku mengikuti bimbingan ulama? Pengakuan palsu!!!

Berkata ibnu Bathal ketika menjelaskan Ucapan Rasulullah :

“Perintahkan anakmu yang tukang kayu itu untuk membuatkan untukku sebuah mimbar sehingga aku bisa duduk di atasnya!” (HR. Al-Bukhari: 429, An-Nasa’i: 731 dan Ahmad: 21801)

“Di dalam hadits ini terdapat pelajaran tentang bolehnya meminta bantuan kepada ahli pertukangan dan ahli kekayaan untuk segala hal yang manfaatnya meliputi kaum muslimin. Dan orang-orang yang bersegera melakukannya adalah disyukuri usahanya.” (Syarh Ibnu Baththal lil Bukhari: 2/100)

“Rasulullah  berdiri pada hari Idul Fitri. Maka beliau memulai dengan shalat kemudian berkhutbah. Setelah selesai khutbah beliau turun dan mendatangi kaum wanita. Kemudian beliau mengingatkan mereka dalam keadaan beliau bersendar pada tangan Bilal. Bilal membentangkan bajunya (untuk mengumpulkan harta shadaqah) sehingga kaum wanita melemparkan shadaqah ke baju Bilal.” (HR. Al-Bukhari: 925, Muslim: 1466, An-Nasa’i: 1557).

  1. Bagaimana dengan hadits mukaatabahnya bariroh dalam sahih Al Bukhari dan Muslim, ketika Bariroh minta bantuan A’isyah, dalam keadaan kejadian tersebut diketahui Rasulullah? Kenapa Rasulullah tidak melarang kalau itu termasuk tasawwul?

Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’ Saudi Arabiyyah pernah ditanya:

Tanya : “Bolehkah meminta bantuan dari seorang muslim untuk membangun masjid atau madrasah, apa dalilnya?” Jawab: “Perkara tersebut diperbolehkan, karena termasuk dalam tolong-menolong di atas kebaikan dan taqwa. Allah  berfirman: “Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelang garan.” (QS. Al-Maidah: 2) Wabillahit taufiq wa shallallahu ala Nabiyyina Muhammad wa alihi washahbihi wasallam.

Maka ya Abdal Alim bertakwalah kamu pada Allah.

Ucapan Abdul Alim:

Maka ketahuilah ya ayyuhal mutasawwiliin, apa yang kalian lakukan baik yang berbentuk proposal, kotak infaq, dan selanjutnya dari berbagai bentuk tasawwul kalian terhadap da’watullah,isyaroh bahwa Alloh itu miskin, faqir membutuhkan kalian!!. Wallohul musta’an.

  1. Abdul ‘Alim hendaklah engkau bertakwa kepada Allah, kenapa engkau tidak sebutkan ulama siapa yang berpendapat seperti ini? ataukah ini hanya pendapat yang keluar dari otakmu yang dungu?
  2. Apakah perbuatan Rasulullah dan bilal menurutmu menurutmu adalah isyarah bahwa Alloh itu miskin, faqir membutuhkan kalian!!. Wallohul musta’an.
  3. Apakah menurutmu Ibnu Bathal, Lajnah Daimah menfatwakan tentang bolehnya perkara tersebut, ini adalah isyaroh bahwa Alloh itu miskin, faqir membutuhkan kalian!!

Inilah perkara yang mendasari kerusakan tulisan Abdul Alim : MERASA CUKUP DENGAN PEMAHAMANNYA DAN ENGGAN UNTUK MENGIKUTI PEMAHAMAN ULAMA.

Dan yang lebih jelek lagi Abdul ‘Alim mengarahkan masalah tasawwul (meminta-minta yang tercela untuk kepentingan pribadi)  kepada saudaranya-saudaranya yang mereka itu berlepas diri dari itu semua yaitu dengan tulisannya;

Adapun kalian ya ayyuhal masaakin, kalian sengaja membuat-buat sesuatu seakan-akan butuh terhadapnya, dan kenyataannya seperti itu, baik seperti pembangunan maktabah/kelas/masjid atau yang lainnya kemudian kalian membuat proposal dan bentuk kotak infaq untuk kepentingan sendiri. Dan inilah yang terjadi,

 

  1. Sebutkan wahai Abdal ‘Alim siapa yang membuat proposal dakwah dan kotak infaq untuk kepentingan pribadinya sendiri?

Jangan sampai kamu semakin masyhur dengan  kemasyhuranmu MENUDUH TANPA MENYEBUTKAN BUKTI.

Kemudian ucapan dia: proposal dan kotak infaq ini kan permasalahan khilafiyah, ya akhi!!

Maka ana katakan dengan meminta pertolongan dan batuanNya: inilah yang selalu dikedepankan oleh As Sewed dalam monaqoshohnya, dan perlu diketahui bahwa kaidah ini adalah kaidahnya Ahlul bidah dan hizbiyyun, dalam rangka meruntuhkan jarh wa tadil.

Kembali dan kembali diulangi Abdul Alim melakukan hal yang sama menuduh tanpa bukti. Apakah Engkau punyi bukti bahwa ustadz Muhammad pernah mengatakan “Tidak ada pengingkaran dalam maslah khilafiyah secara mutlak”

Kalau ada yang mengatakan proposal dan kotak infaq inikan permasalahan khilafiyah, ya akhi!!”

  1. Apakah mafhum dari kalimat tersebut tidak adanya ingkaru munkar?

Apakah yang dimaukan dari ucapan tersebut tidak bolehnya pengingkaran secara mutlak? Atau yang dimaksud adalah tidak bolehnya pengingkaran dengan cara-cara keras sepertimu?

Tanya dulu ya Abdal ‘Alim. Karena wal hamdulillah kita berkeyakinan bahwa wajibnya mengingkari kemungkaran sekecil apapun kalau itu memang suatu kemungkaran.

Yang menjadi masalah bagaimana mengingkari kemungkaran tersebut?

Apakah sama cara mengingkari orang yang mengatakan tidak wajibnya sholat 5 waktu, dengan orang yang mengatakan tidak wajibnya sholat tahiyatul masjid?

Perhatikan inti masalah jangan tergesa-gesa. Jangan Alihkan dengan membawakan ucapan ulama tidak pada tempatnya.

Seharusnya kalau engkau diatas pemahaman para ulama, jelaskan khilaf seperti apa yang wajib atasnya hajr dan pengingkaran (yang keras seperti pengingkaranmu terhadap orang yang berbeda pendapat denganmu dalam masalah proposal dakwah). Apakah semua khilaf? Atau khilaf afham dari ijtihadnya dari seorang mujtahid, atau khilaf tadhod yang tidak dibangun diatas Al Qur’an, sunnah atau ijma’?.

Maka perhatikan ucapan para ulama ini mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua

وقال ابن رجب الحنبلي رحمه الله تعالى في جامع العلوم والحكم عند شرحه لحديث “من رأى منكم منكراً فيلغيره…”:

…”والمنكر الذي يجب إنكاره ما كان مجمعاً فأما المختلف فيه فمن أصحابنا من قال لا يجب إنكاره على من فعله مجتهداً أو مقلداً لمجتهد تقليداً سائغاً…

Berkata Ibnu Rajab Al Hanbali –rahimahullah-dalam jami’ul ulum wal hikam ketika mensyarah hadits; Barangsiapa melihat suatu kemungkaran maka hendaklah dia merubahnya… “Dan kemungkaran yang wajib pengingkarannya yaitu yang disepakati kemungkarannya, adapun yang didalamya ada perbedaan pendapat (tentang kemungkarannya) diantara sahabat-sahabat kami ada yang mengatakan tidak wajib mengingkarinya atas orang yang melakukannya karena dia mujtahid, atau seorang muqollid yang mengikuti mujtahid dalam perkara taqlid yang diperbolehkan…”

…وقال شيخ الإسلام ابن تيمية – قدس الله روحه – : “مسائل الاجتهاد من عمل فيها بقول بعض العلماء لم ينكر عليه ولم يهجر ، ومن عمل بأحد القولين لم ينكر عليه”.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah-:” Masalah – masalah ijtihadiyah, orang yang mengamalkan perkara tersebut karena mengikuti sebagian ulama, tidak diingkari atasnya dan tidak diboikot, barangsiapa yang mengamalkan salah satu dari dua pendapat, tidak ada pengingkaran atasnya”.

Berkata Syaikh Muhammad Al Imam –hafidzahullah-, ketika menyebutkan macam-macam khilaf diantara Ahlussunnah:

“Yang pertama khilaf yang muncul dari suatu ijtihad dan ta’wil yang datang dari sebagian ulama, yang didalamnya ada sebagian kesalahan yang tidak sampai pada hajr (boikot) dan penghizbiyan. Dan yang menetapkan khilaf tersebut adalah khilaf ijtihadi adalah Ahlul ilmi…. (Al Ibanah, hal 53)

Sekarang kita balik pertanyaanya:

  1. Apakah perkara khilafiyah sama dengan suatu kemungkaran? Al Imam Asy Syaukani sedang menerangkan wajibnya mengingkari sesuatu yang  JELAS mungkarnya walaupun itu perkara yang khilaf. Tetapi apakah Asy Syaukani selalu mengingkari seluruh perkara yang disana ada khilaf (tanpa dirinci) dengan model pengingkaran gaya abdul ‘Alim?

Maka silahkan lihat kitab beliau Sailul Jaror atau Nailul Author, disana dipenuhi khilafnya para ulama dalam masalah fiqih. Apakah didapati model pengingkaran seperti pengingkarannya Abdul ‘Alim mengingkari proposal dakwah dan kotak infaq?

  1. Sebutkan juga siapa ulama yang berpendapat bahwa proposal dakwah adalah suatu kemungkaran?
  2. Siapakah ulama yang melarang secara mutlak proposal dakwah dan kotak infaq? Adakah diantara ulama ahlussunnah yang membolehkannya?
  3. Kalau ada ulama yang melarang, apakah pelarangannnya itu sepakat atau ada ikhtilaf dikalangan ulama ahlus sunnah?
  4. Apakah masalah proposal dakwah dan kotak infaq adalah perkara ijtihadiyyah atau bukan yang pengingkarannya harus keras dan adanya hajr?

Agaknya kita harus banyak mencontoh dan mengikuti ulama kita. Inilah Asy Syaikh Al Al Bani -rahimahullah -tentu dengan ilmu, wara’, dan ta’aninya- berkata tentang masalah sholat di masjid yang dibangun diatas kuburan :

“…Dan kelihatannya inilah yang menjadi sebab kenapa jumhur ulama berpendapat makruhnya sholat (di masjid yang dibangun diatas kuburan) dan tidak sampai membatalkan. Aku katakan ini karena aku akui, bahwa permasalahan ini butuh kepada tambahan penelitian. Dan adapun yang berpendapat bahwa tidak sah sholat pada masjid tersebut ini pun masih muhtamil,  Maka barangsiapa yang memiliki ilmu pada masalah itu maka silahkan baginya untuk menjelaskannya disertai dalil. Masykuuron ma’juuron…”

Kalau kita lihat dari sisi masalah, mana yang lebih besar : Antara sholat di masjid yang ada kuburannya atau masjid yang ada kotak infaqnya?

Kami tidak tahu kalau Abdul ‘Alim yang membahas ini, mudah-mudahan tidak sampai berteriak: “Wahai para ubbaadul qubuur!”

 

Kemudian Abdul ‘Alim meneruskan cerita versi dirinya:

Yang anehnya, ketika As Sewed –hadahulloh- mengatakan perkara ini khilafiyah, lalu ana Tanya:”kalau memang perkara ini khilafiyah, siapakah yang membolehkannya?? dan apa dalilnya?? Dia menjawab: “salah satunya Syaikh Muqbil membolehkan, Ketika ana bersama ikhwah datang ke Syaikh Muqbil untuk mencari dana ke Saudi, Syaikh Muqbil merekomendasi”, maka ketika ana Tanya: itu kapan? Di jawabnya: sebelum laskar, tapi dia tidak bisa memastikan tahun berapa(lupa)/beberapa tahun sebelum laskar, dan ketika itu ana katakan: “bukankah Syaikh Muqbil sudah taroju‟ dalam permasalahan ini dan disebutkan dalam muqoddimah kitab dzammul masalah!!!.

 

Ucapan dia: “bukankah Syaikh Muqbil sudah taroju‟ dalam permasalahan ini dan disebutkan dalam muqoddimah kitab dzammul masalah!!!.

  1. Ya Abdal ‘Alim seharusnya engkau tunjukan dalam tulisanmu kalau engkau tidak bisa menunjukan ketika bertemu ustadz Muhammad lafadz mana yang menunjukan Syaikh Muqbil taraju’ dari memberikan rekomendasi secara mutlak?

Bukankah engkau pernah belajar mustholah, diantara kaidah naskh dan mansukh adalah mengetahui tarikh.

  1. Kapankah syaikh Muqbil menulis kitab Dzammul mas’alah, dan kapan Syaikh Muqbil merekomendasikan ketika pencarian dana ke Saudi?

Ini dulu yang seharusnya engkau tulis sebelum engkau melantur menuduh, sehigga tulisanmu bisa menjadi keterangan yang ilmiyyah bagi ummat.

Penyakit kronis Abdul Alim kambuh kembali yaitu menuduh tanpa bukti:

Untuk mengadakan dauroh nasional masyayikh, mereka berani melakukan tasawwul (bahkan sebagian daerah telah ditentukan uang perbulannya)3 demi terlaksananya dauroh tersebut. Maka tidak salah kalau ada yang mengatakan[15]: Mereka mengadakan dauroh nasional hanya untuk menipu kaum muslimin, dengan meraup hartanya atau menjadikan kesempatan tersebut untuk kepentingan mereka yang tersembunyi dan menutup-nutupi makar/kejahatan mereka dengan slogan syariat/ dawah. Wallohul Musta’an, Ittaqillah ya mutasawwilun.

  1. Sebutkan daerah mana yang ditentukan uang per bulannya? Berapa juta yang ditentukan untuk Kuningan?
  1. Apakah kamu punya bukti panitia dauroh mengadakan daurah untuk menipu kaum muslimin dengan meraup hartanya dengan slogan syari’at atau da’wah? Wajib bagi antum membawakan bukti. Rasululllah –shalallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

أن البينة على المدعي واليمين على المدعى عليه .

“Bahwa Bukti wajib bagi yang mendakwa, dan sumpah bagi yang didakwa”

  1. Kenapa kamu tidak melaporkannya kepada yang berwajib? Bukankah menipu itu suatu kemungkaran? Kenapa engkau tidak mengingkarinya dengan melaporkannya pada yang berwajib?[16]
  1. Apakah tidak transparannya biaya dauroh dalil adanya penipuan? Sehingga kita dibolehkan oleh syari’at untuk menuduh? Mana dalilnya? Mana contohnya dari salafus sholeh bahwa itu adalah penipuan?
  1. Apakah adanya perbedaan antara biaya daurah Bantul yang dihadiri ribuan Muslimin dan dilanjutkan dengan daurah asatidzah dan Daurah yang diadakan Abu hazim yang dihadiri segelintir orang dalil adanya penipuan? Sehingga kita dibolehkan oleh syari’at untuk menuduh? Mana dalilnya dari Al Qur’an dan As Sunnah? Mana keterangan dari salafussholeh bahwa itu adalah penipuan?

Subhanallah… dikemanakan ilmumu wahai Abdul ‘Alim, dikemanakan otakmu? Dana sebesar itu tentu saja untuk membiayai Dauroh. Kalau engkau memiliki bukti penyimpangan dana silahkan beberkan. Kalau tidak punya bukti maka wajib bagi engkau diam, jaga mulutmu, jaga mulutmu, jaga mulutmu. Bukankah engkau beriman pada Allah dan hari akhir? kami ingatkan antum dengan hadits:

وعن أَبي ذرٍ – رضي الله عنه – : أنهُ سَمِعَ رسُولَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – يقول : (( لاَ يَرْمِي رَجُلٌ رَجُلاً بِالفِسْقِ أَوِ الكُفْرِ ، إِلاَّ ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ ، إنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كذَلِكَ )) . رواه البخاري .

“Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kefasikan , atau kekufuran, kecuali akan kembali padanya tuduhan tersebut jika orang yang dituduh tidak seperti itu”

Engkau telah terlanjur menuduh seorang muslim, maka silahkan engkau bawakan bukti, atau engkau segera taubat dan minta maaf, atau pilihan terakhir wal iyadzubillah “kecuali akan kembali padanya tuduhan tersebut”

Sering kami singgung, bahwa Abdul ‘Alim membawakan suatu kejadian hanya dari versi dia. Ini diantaranya:

Mungkin ada yang bertanya: kenapa „Abdul „Alim diam, ketika dikatakan oleh ustadz Muhammad: apa dengan minta-minta, proposal, dholun (sesat) atau hizbi?? Memang ketika itu, ana diam atau tidak menjawab, karena ana mengharapkan kebaikan untuk ustadz Muhammad. Oleh karena itu ana diam atau tidak menjawab, hanya saja ana mendatangkan dalil agar dia berfikir dan meninggalkan taqlidnya.

Benarkah kejadiannya seperti itu? Allahu ‘alam kita tidak tahu. Perlu mengecek kepada kedua belah pihak.

Tapi anggaplah apa yang dikatakan Abdul ‘Alim itu benar, lantas kemana inkaru munkarnya? Kenapa terhadap dirinya dia tidak mengatakan : Kenapa kamu takut yaa ustadz?? Kalo iya katakan saja “iya”,[17]

Bukankah tidak boleh “tarkul bayaan li waqtil haajah”?

Tapi kita tetap harus memberi udzur baginya. Kenapa? Karena bisa jadi dia lupa dengan jawabannya, Atau belum tahu. Atau karena ada para pengikutnya yang bisa jadi belum siap mendengar jawabannya. ‘Ala kuli hal kita tetap harus berbaik sangka.

Ucapan dia yang lainnya: Perkara yang kedua: Dia sudah mulai mengisi kembali di masjid Al Irsyad2, padahal kita sudah mengetahui semua siapa itu Al Irsyad??

 

  1. Ya Abdal ‘Alim harusnya engkau terangkan, bukan sekedar pertanyaan. Sekarang apa bedanya masjid Al Irsyad, masjid NU, masjid Muhammadiyah, masjid Persis. Kenapa engkau tidak mengajukan pertanyaan yang sama terhadap sang ustadz fathurrahman ketika dia mengisi ta’lim di masjid Talaga atau Bantarujeg. Atau antum menganggap masjid Al Irsyad adalah masjid dhiror? Yang secara mutlak tidak boleh sholat di dalamnya? Kenapa engkau tidak bertanya pada dirimu sendiri, dimana engkau mengisi kajian ketika di majalengka?

Ucapan Abdul ‘Alim:

Apa buktinya?? Telah mengkabarkan kepada kita beberapa ikhwah bahwa Muhammad As Sewed ternyata masih suka berziaroh ke Ja‟far Umar Tholib.

 

Subhanallah…. kalau tidak membaca sendiri, mungkin kita tidak percaya ada lulusan Dammaj membuat karya untuk ummat dengan cara seperti ini : Telah mengkabarkan kepada kita beberapa ikhwah…

Inikah cara Abdul ‘Alim mengajari umat dengan ilmiyah?

Berkata Ibnul Mubarok :

“الإسناد من الدين ولولا الإسناد لقال من شاء ما شاء

“Isnad adalah bagian dari agama, kalau bukan karena isnad maka akan berkata siapa saja dan apa saja perkara yang dia inginkan.

 

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah :

“من أراد أن ينقل مقالة عن طائفة فليسمِّ القائل والناقل ، وإلا فكل أحد يقدر على الكذب”

“Barangsiapa yang ingin menukil suatu ucapan dari suatu kelompok, maka hendaklah dia menyebutkan nama yang menukil dan yang dinukil, kalau tidak maka sesungguhnya setiap orang mampu untuk berdusta.”

Anggaplah apa yang dia katakan itu benar.

Sepantasnya dia tabayyun dalam rangka apa Ustadz Muhammad kesana? Karena yang kami ketahui beliau mengunjungi ja’afar dalam rangka mengantar istrinya menjenguk ja’far yang sedang sakit. Dan tentu saja disana ada maslahat yang diharapkan, yaitu taubatnya ja’far.

  1. Apakah cukup langsung menghukumi seseorang terjatuh pada kesalahan dan menyebarkannya hanya karena seseorang tersebut mendatangi Ahlul bid’ah, tanpa memeriksa dan merinci?
  2. Apakah mengunjungi atau menjenguk Ahlul Bid’ah haram secara mutlak walaupun itu ada maslahatnya? Ataukah larangan tersebut dalam rangka menghajr dia yang diharapkan maslahatnya yaitu taubatnya ahlul bid,ah tersebut?

Harusnya antum jelaskan wahai Abdal ‘Alim dengan membawakan ucapannya para ulama. Karena masalah menghajr ahlul bid’ah kembalinya adalah karena adanya maslahat.

Sedikitpun kita tidak meragukan lagi disyariatkannya menghajr Ahlul bid’ah seperti Ja’far, tetapi untuk menghukumi langsung orang yang mendatanginya sebagai orang yang terjatuh pada suatu yang haram, Abdul ‘Alim butuh membawakan dalil dan perkataan ulama yang tepat dengan kejadian yang sebenarnya.

Kenapa Rasulullah mengunjungi pamannya yang sedang sakit dalam keadaan dia masih seorang musyrik? Bukankah karena diharapkan adanya maslahat.

Dan satu lagi bukti tulisan dia benar-benar tidak ilmiyah dan asal, adalah ucapannya:

Dan poin yang terakhir, berkaitan dengan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang mereka sepakati, sebagaimana yang telah tersebar di internet mauqif dan nasehat asatidz tentang perihal Ja‟far Umar Tholib & taubatnya serta perbedaan dalam menyikapinya, lihatlah di bawah ini sebagai buktinya.

 

  1. Ya Abdal ‘Alim pernahkah engkau berpikir untuk berhati-hati. Apakah engkau sudah meneliti kapan ustadz Muhammad bertemu Ja’far dan kapan kesepakatan itu dilakukan, sehingga engkau berkesimpulan ini mukholafah dengan ucapan dan nasehatnya sendiri?

Dan ucapan Abdul ‘Alim:

Kalau ada yang mengatakan lagi: kenapa Abdul Alim tidak mengingatkan (menasehati ustadz Muhammad) dalam perkara yang kedua dan ketiga??

Sudah ana kisahkan tentang sebagian dialog atau munaqosyah antara ana dan dia3, ternyata dia orangnya tidak mau menerima nasehat

Maka kami katakan ini adalah kebodohan dia dalam masalah da’wah.

Pertama, kebodohannya dalam menasehati (karena yang tepat dia datang bukan dalam rangka menasehati tapi melabrak ustadz Muhammad),

Kedua, tidak sabarnya dia dalam memberi nasehat (kalau itu tidak dianggap nasehat). Sedikitpun dia tidak mencontoh Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wasallam-. Apa jadinya da’wah ini ketika ada seseorang enggan menerima nasehat dalam satu permasalahan, maka tidak perlu menasehatinya dalam perkara yang lainnya? Subhanallah, semoga Allah selamatkan da’wah ini dari metode da’wah Abdul ‘Alim.

Ja’far Sholeh –hadanallah wa iyaahu-

Ucapan Abdul ‘Alim:

Orang ini termasuk berada pada barisan mereka. Maka apa yang di lakukan orang ini ya ikhwah?? Beritapun telah tersebar di kalangan salafiyyin dengan menukilkan ucapannya: bahwa dia membolehkan mendengarkan kajian dari radio Roja‟[18]

Ya Abdal Alim maksudnya apa antum mengatakan Orang ini termasuk berada pada barisan mereka?

Apakah barisan salafiyin? Berarti antum siapa?

Atau barisan salafiyin yang condong pada pendapatnya para ulama dan tidak mengambil pendapatnya syaikh yahya dalam masalah fitnah ini?

  1. Apakah kesalahan ja’far sholeh yang membolehkan mendengarkan radio roja, berarti kesalahan orang-orang sependapat denganya dalam masalah fitnah Yaman walaupun mereka mengingkari ucapan dia dalam masalah roja’?

Bagaimana dengan firman Allah:

žwr& â‘Ì“s? ×ou‘Η#ur u‘ø—Ír 3“t÷zé& ÇÌÑÈ

38. (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,

 

Dan firman Allah:

br&ur }§øŠ©9 Ç`»|¡SM~Ï9 žwÎ) $tB 4Ótëy™ ÇÌÒÈ

39. Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,

 

Bagaimana kalau ada yang mengatakan: “Firman Hidayat orang ini termasuk dalam barisan Abdul ‘Alim cs”. Apakah engkau akan berlepas diri?

Apakah kedustaan abu Adnan atas nama para ulama tentang yayasan, juga berarti dosanya antum ya Abdul ‘Alim? karena satu barisan dalam ta’asub pada syaikh Yahya?

Kemudian dia berpindah dengan pembahasan terhadap Ustadz Muslim –hafidzahullah-.

Adapun kami, tidak akan membahas ucapan dia dalam masalah ini karena:

  1. Kami menganggap apa yang dia tuliskan bukan pembahasan ilmiyah dimana menjadikan landasan dia dalam menghukumi adalah qila wa qoola, sms, surat yang sifatnya pribadi. Kami belum mendapati ada ulama yang menghukumi seseorang, atau melakukan pembahasan ilmiyah dengan cara membahas isi sms, surat yang sifatnya pribadi yang kami semua yakin, surat tersebut tidak untuk diketahui khalayak ramai. Atau barangkali Abdul ‘Alim memiliki contoh dalam masalah ini dari ulama salaf, misal Ibnu Ma’in menghukumi seseorang dengan dhaif, karena smsnya sering disingkat?
  2. Isinya hanyalah kisah yang dia bawakan, terkadang kita tidak mengetahui aktor-aktor dalam kisah tersebut, sehingga sulit untuk tabayun, dan juga tidak tahu kisah tersebut benar atau tidak, karena itu dari sisi Abdul Alim, dalam keadaan kita tidak boleh menghukumi sebelum mendengarkan dari pihak yang lainnya.

Sebagaimana sabda Rasulullah:

عَنْ عَلِيٍّ قَالَ

قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا تَقَاضَى إِلَيْكَ رَجُلَانِ فَلَا تَقْضِ لِلْأَوَّلِ حَتَّى تَسْمَعَ كَلَامَ الْآخَرِ فَسَوْفَ تَدْرِي كَيْفَ تَقْضِي

“Jika ada 2 orang yang minta diselesaikan perkaranya kepadamu, maka janganlah engkau memutuskan untuk yang pertama sampai engkau mendengar alasan orang yang kedua, sehingga engkau akan mengetahui bagaimana engkau memutuskan”

Tapi ada sedikit pelajaran dari bahtsnya Abdul ‘Alim terhadap sms atau surat. Sekecil apapun perkara yang dia ketahui baik berupa sms, surat, gosip, valid atau tidak valid kalau itu ada peluang buat menjatuhkan orang – orang yang tidak sependapat dengannya tidak peduli seorang ustadz, santri, orang dikenal atau tidak dikenal, laki-laki atau perempuan, perkara yang perlu diungkap atau tidak perlu, maka itu akan dia gunakan untuk memenuhi ambisinya meluapkan amarahnya pada tulisannya ini.

Kemudian ucapan Abdul ‘Alim:

Sekarang kita perhatikan apa yang dilakukan oleh Ustadz Abu Hazim dan beberapa Asatidz yang telah mentahdzir Syaikh „Abdurrohman Al Adeni dan Syaikh „Abdulloh Mar‟I dan yang lainnya.

 

  1. Ya Abdul ‘Alim kami Tanya : menurut antum Syaikh Abdurrahman dan Syaikh Abdullah ulama bukan?

Kalau engkau mengatakan bukan ulama berarti engkau lebih tahu tentang mereka dari syaikh Muqbil.

Kalau engkau mengatakan mereka ulama, kenapa engkau diam bahkan membela Abu Hazim yang katamu telah mentahdzir Syaikh „Abdurrohman Al Adeni dan Syaikh „Abdulloh Mar‟I dan yang lainnya

  1. Kenapa engkau tidak katakan Abu Hazim sebagai pencela ulama? Inilah jarh Wa ta’dil dengan menggunkan metode jarum pentul, terhadap lawan begitu tajam, tapi terhadap teman sangat tumpul. Jelaskan pada kami kenapa engkau menyelisihi firman Allah:

* $pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãYtB#uä (#qçRqä. tûüÏBº§qs% ÅÝó¡É)ø9$$Î/ uä!#y‰pkà­ ¬! öqs9ur #’n?tã öNä3Å¡àÿRr& Írr& Èûøïy‰Ï9ºuqø9$# tûüÎ/tø%F{$#ur 4 bÎ) ïÆä3tƒ $†‹ÏYxî ÷rr& #ZŽÉ)sù ª!$$sù 4’n<÷rr& $yJÍkÍ5 ( Ÿxsù (#qãèÎ7­Fs? #“uqolù;$# br& (#qä9ω÷ès? 4 bÎ)ur (#ÿ¼âqù=s? ÷rr& (#qàÊ̍÷èè? ¨bÎ*sù ©!$# tb%x. $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? #ZŽÎ6yz ÇÊÌÎÈ

135. Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. jika ia[361] Kaya ataupun miskin, Maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.

 

Ucapanmu:

Jika seandainya tahdziran mereka salah maka merekapun akan mendapatkan imbas atau balasan dari Alloh sebagaimana mereka (luqman dan CSnya) atau para pencela ulama yang lainnya mendapatkan imbasnya2. Setelah fitnah ini berjalan kurang lebih 3 atau 4 tahunan. Ternyata kita tidak mendapatkan/melihat imbasnya terhadap mereka setelah berjalannya fitnah ini.

 

Kami katakan : Itukan menurut kamu, kalau menurut kami justeru kebalikannya.  Coba sebutkan apa balasan yang diterima ustadz Luqman dan yang lainnya! Kalau adanya gangguan dan celaan dari ahlul bid’ah, hizbiyah, takfiri atau orang-orang semacam antum, maka itu adalah sunatullah bagi orang-orang yang meniti jalan Rasul:[19]

أَشَدُّ بَلَاءً قَالَ الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ

Kalau mau melihat suatu kehinaan jangan jauh-jauh dulu lihat dirimu dahulu.

Apakah engkau tidak merasa ketika orang – orang jelek mulai mengitarimu, mendatangimu itu adalah alamat Allah sedang menghinakan dirimu?

Belum cukupkah eksodusnya santri kuningan sebagai alamat ada yang aneh dengan dirimu? Jangan..jangan, jangan sampai syetan menipumu wahai saudaraku.

Tidakkah engkau merasa banyaknya tanaqud ( bertolak belakang) antara ucapan dan perbuatan kalian itu menunjukan alamat Allah sedang menghinakan dirimu?

Dan diantara perkara terbesar bahwa Allah telah menghinakan Abu Hazim adalah justeru teman-teman seperjuangannya dalam fitnah ini  yang telah  menghinakannya dalam beberapa kasus seperti hukum TN, SPP dan juga termasuk mengadakan dauroh ditempat selain Ahli sunnah, yang kata mereka itu adalah perkara munkar. Nasalullah as`salaamah.

1. Mereka mengatakan bahwa Abu Hazim dan kawan-kawannya dalam tahdzir-mentahdzir tidak ada nasehat sebelumnya yaitu alias asal mentahdzir 4.

Ya Abdal Alim antum pun jangan berkoar-koar, harusnya antum pun tunjukan bukti bahwa apa yang mereka katakan terhadap Abu Hazim tidak benar, kalau antum Cuma mengatakan tidak benar, tidak benar, faidahnya apa? Antum juga tanyakan apa bukti mereka mengatakan Abu Hazim asal tahdzir. Jangan langsung menghukumi ingat sabda Rasululallah:

إِذَا تَقَاضَى إِلَيْكَ رَجُلَانِ فَلَا تَقْضِ لِلْأَوَّلِ حَتَّى تَسْمَعَ كَلَامَ الْآخَرِ فَسَوْفَ تَدْرِي كَيْفَ تَقْضِي

2. Sebagian mereka mengatakan: mereka merampok atau mengambil masjid-masjid atau pondok mereka (luqmaniyyun)1.

…. Dan perkara ini telah dibantah dan diluruskan oleh Ustadz Asnur sendiri dan

  1. Ya Abdal ‘Alim siapa mereka itu? Antum memiliki bukti rekaman atau sejenisnya? Kalau terhadap perempuan yang lemah engkau tega menyebut namanya, kenapa sekarang tidak? Untuk apa? Agar bisa tabayun sebelum memutuskan suatu perkara, ingat sabda Rasulullah:

إِذَا تَقَاضَى إِلَيْكَ رَجُلَانِ فَلَا تَقْضِ لِلْأَوَّلِ حَتَّى تَسْمَعَ كَلَامَ الْآخَرِ فَسَوْفَ تَدْرِي كَيْفَ تَقْضِي

Luqman Ba‟abduh mengatakan: Muhsin melarang untuk tasawwul (meminta-minta), ternyata dia sendiri tasawwul, datang kemari untuk uang 300 juta, dari mana kita uang sebesar itu !!.

Siapa ya Luqman, yang meminta uang kepada kamu sebesar itu?!!. Apa yang kamu katakan, itu hanya sekedar tuduhan darimu, telah saya tanyakan sendiri kepada Muhsin Abu Hazim apa yang kamu tuduhkan, dan beliau menjawab: ”itu adalah tuduhan dari Luqman, banyak saksi ketika itu, lalu beliau menceritakan kisahnya dan tanyakanlah kepada ikhwan Magetan”.

Ketika ana di Magetan ana tanyakan kepada Al Akh Abdul Qohar hal ini, ceritanya seperti yang di sebutkan Abu Hazim, menunjukkan hal ini hanya sekedar tuduhan2

Ya Abdul Alim kenapa antum hanya bertanya kepada satu pihak, tanpa bertanya pada pihak yang lainnya, ingat sabda Rasulullah:

إِذَا تَقَاضَى إِلَيْكَ رَجُلَانِ فَلَا تَقْضِ لِلْأَوَّلِ حَتَّى تَسْمَعَ كَلَامَ الْآخَرِ فَسَوْفَ تَدْرِي كَيْفَ تَقْضِي

  1. Apa sulitnya bagi antum sebelum menghukumi, antum minta bukti pada ustadz Luqman atas ucapannya. Bukankah ini bukti antum terlalu terburu-buru dan emosional

Kalau mau jawaban gampang dan tidak ilmiyyah mudah saja : Mana ada maling (Abu Hazim)  yang ngaku!, atau bisa saja biar agak ilmiyah kita pakai qoidah “Al Mutsbit muqoddamun ‘ala nafi. Cuma masalahnya tidak segampang itu seseorang menghukumi, kita butuh tabayun dari kedua belah pihak.

Mereka mengatakan: „Abdul „Alim sudah bersama sururiyyin”.

  1. Ya Abdal ‘Alim dari tadi engkau mengtakan mereka, mereka dan mereka…Mereka itu siapa, kenapa kamu tidak menyebutkan namanya, jangan-jangan itu tokoh khayalan.

Kalau ada yang mengatakan: “ tuh Soni sama „Abdul „Alim!!”. Bukankah Soni sebelumnya bersama kalian juga?, kenapa tidak diingkari atau dinasehati sebelumnya, kenapa sesudah dia mengerti masalah fitnah ini kalian baru berkoar??

  1. Sekali lagi ya Abdal ‘Alim, antum punya bukti? kalau Soni tidak pernah diingkari sebelum dia kecebur fitnah ini?

Awal permasalahan ikhwan majalengka dengan dia adalah ketika dia mengabdikan dirinya pada bos YPIB dengan alasan kerja, dan ini jauh-jauh hari sebelum dia kenal fitnah ini.

Yang jadi masalah kenapa antum mau-maunya sekarang berteman dengan dia dan Wowo dalam keadaan mereka berdua masih mengabdikan dirinya pada bos YPIB? Apa karena satu barisan?

Anggaplah benar, tidak ada pengingkaran terhadap Soni dari ikhwan Majalengka kecuali setelah dia mengerti masalah fitnah.

  1. Apakah ini bisa menjadi dalil bolehnya bagi antum untuk berta’awun dalam da’wah bersama dia?

Ucapan Abdul Alim:

Pada akhir penulisan ini, ana mendengar Hamzah dan orang-orang semisalnya sedang mendapatkan angin segar dari Dzul Akmal alias Marhaen tentang fatwa/tahdziran syaikh Robi‟ –hafizhohulloh-. Ya Hamzah, bukankah kamu dan Csmu pernah menyebarkan fatwa/tahdziran Syaikh Robi‟ sebelumnya terhadap Syaikh Yahya??!! Jangan-jangan berita ini hanya kedustaan belaka seperti sebelumnya.

 

  1. Ya Abdal ‘Alim, kenapa ketika Dzul Akmal membawakan tahdziran terhadap ustadz Luqman kamu mempercayainya. Tetapi ketika membawa berita tahdziran terhadap Syaikh Yahya kamu menolaknya? Jelaskan secara ilmiyah!
  2. Thoyyib, kalau kamu ragu terhadap tahdzirannya Syaikh Rabi’ karena yang membawakannya Dzul Akmal. Bagaimana kalau yang membawa itu orang yang satu barisan denganmu bahkan Syaikh Yahya sendiri mengakuinya?

Ucapan Abdul Alim:

Dan kita lihat juga kepada murid sekaligus temen duduknya As Sewed ini yaitu Eri Ziyad1, bersama siapakah dia mengisi ta‟lim??? Bukankah dia mengisi ta‟lim satu tempat (di mushola Cihedeung) dengan Thoharoh2??

  1. Ya Abdal ‘Alim mana dalilnya bahwa hal itu (ngisi ta’lim satu tempat) dengan Ahlul bid’ah haram secara mutlak? Apakah ini juga berlaku kalau yang ngisi ta’lim sang ustadz Fathurrohman juga?

Ucapan Abdul ‘Alim:

Thoyyib, kalau seandainya benar itu adalah fatwa Syaikh Robi’ –Hafidhohullah-(dengan adanya ikhtirom/pemulyaan kepada beliau. Dan mudah-mudahan Allah memperlihatkan kepada beliau hakikat fitnah ini dan sepak terjangnya mereka), kita lihat jarhnya??. Apakah jarh mufassar atau bukan??. Karena Syaikh Robi’ sebelumnya telah banyak memuji Syaikh Yahya –hafizhohulloh-, maka tidak mungkin begitu saja Syaikh Robi’ mentahdzir Syaikh Yahya tanpa ada malzamah atau bukti-bukti lainnya. Karena sudah kebiasaan Syaikh Robi’, jika mentahdzir seseorang beliau mengeluarkan risalah, sebagaimana yang terjadi pada fitnah-fitnah sebelumnya.[20]

 

Na’am, itu fatwanya syaikh Rabi sebagaimana telah dinukilkan dan ada rekaman suaranya, Dan jarhnya mufassar dengan disebutkan ilahnya (sebab).

  1. Ya Abdal ‘Alim ulama siapa yang mempersyaratkan ketika mentahdzir seseorang harus menggunakan malzamah, risalah atau tulisan? Bahkam mayoritas ulama salaf mereka menjarah seorang rawi tanpa kita dapati malzamah, risalah atau tulisan bahkan hanya kita dapati nuqilan ucapannya.

Ucapan Abdul ‘Alim:

Mereka menyatakan:”Fathurrohman sudah menyimpang”.

Mereka itu siapa ya Abdul ‘Alim, dimana yang mengatakannya?

Adapun tentang sang Ustadz Fathurrahman, sesungguhnya pada awal kami mengetahui sang ustadz ini, ketika mengajar di Talaga, kami mendapatinya sebagai orang yang tidak banyak bicara, bahkan belum pernah bicara masalah fitnah (di ta’lim). Sang ustadz ini lebih khusyu mengajarkan ilmu. Tetapi ulah temannya (Abdul Alim ) yang membuka dars di Majalengka bersama para abdi dalem YPIB, memaksanya untuk melakukan pembelaan dengan mulai coba-coba buka suara walau baru sekedar lewat sms. Kemudian mulai ketagihan dengan berbicara di majelis tentang fitnah, walaupun berupa anjuran untuk tidak tersibukan dengan fitnah dan konsentrasi untuk ta’lim. Dan berlanjut ketagihannya ini dengan mulai menulis malzamah ketika dirinya ada yang menyentuh -suatu pembelaan pribadi-, dan mulai fitnah semakin menyeretnya dengan mulai ngambek, tidak mau ngisi ta’lim di talaga karena adanya orang-orang yang tidak sefaham dengannya yang ngisi di Masjid tersebut.. Dan sekarang sang ustadz yang pendiam tersebut yang katanya mau menunggu ucapannya para ulama terkhusus syaikh Rabi’ dalam masalah fitnah ini sedang hanyut bersama fitnah mudah-mudahan Allah menunjuki kita semua ke jalan yang benar. Amin.

Tetapi ada 2 perkara yang ingin kami angkat tentang sang ustadz Fathurrahman mudah-mudahan ada faidah ilmiyahnya:

1. Tentang nasehat dia selama ini untuk lebih konsentrasi terhadap ilmu dan tidak menyibukan diri dengan fitnah. Ikhwan-ikhwan Talaga, Majalengka dan sekitarnya alhamdulillah menerima dan berusaha mengamalkan nasehat tersebut, dan kami melihat sang ustadz memberikan contoh dalam masalah ini (setidaknya itu yang kami ketahui ketika ngisisi ta’lim di Masjid Talaga seperti itu). Ikhwan pun tetap belajar pada dia, dalam keadaan kami mengetahui bagaimana sepak terjang Ma’had Kuningan dengan panglimanya Abdul ‘Alim dalam masalah fitnah ini, dalam keadaan kami berbeda mauqif dengan Kuningan, kami tetap menghadiri ta’limnya sang ustadz fathurrahman, karena apa? karena kami melihat apa yang dia katakan untuk tidak menyibukan diri dengan fitnah adalah haq. Tetapi kami tidak mengetahui setan apa yang telah meracuninya, tiba-tiba justeru dia sendiri yang menyulut api fitnah, yang berujung mutungnya dia dengan tidak mau ngisi ta’lim di Talaga.

Dosa apa ya sang ustadz yang dilakukan ikhwan-ikhwan yang mayoritasnya tidak tahu dan tidak peduli dengan fitnah, sehingga engkau hentikan kajian di Talaga?[21]

Apakah loyalitas terhadap dirimu lebih penting daripada pelajaran Riyadus Shalihin dan Sifat Shalat Nabi?

Tidak semestinya bagi siapapun menyelisihi apa yang dia perintahkan, terlebih itu adalah suatu kebenaran

tbrâßDù’s?r& }¨$¨Y9$# ÎhŽÉ9ø9$$Î/ tböq|¡Ys?ur öNä3|¡àÿRr& öNçFRr&ur tbqè=÷Gs? |=»tGÅ3ø9$# 4 Ÿxsùr& tbqè=É)÷ès? ÇÍÍÈ

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, Padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?

2. Ucapan dia ketika terjadi pertemuan kecil di talaga (yang maknanya): “Pokoknya apa yang mereka katakan tentang Syaikh Yahya itu itu tidak benar, Ana selama 10 tidak pernah mendapatinya. Wa maa syahidnaa illa bima ‘alimnaa”

Maka kami katakana : Benar, seseorang janganlah dia berkata kecuali dengan apa yang dia ketahui. Akan tetapi menjadikan tolak ukur suatu kebenaran hanya berdasarkan apa yang dia lihat dan saksikan dan menafikan apa yang tidak dia lihat maka ini tidak benar.

Apakah engkau selalu memantau ucapan syaikh selama 24 jam selama 10 tahun, sehingga apa yang engkau tidak ketahui dari Syaikh Yahya berarti itu tidak terjadi?

maka ini adalah cara-cara orang Yahudi menolak kebenaran.

Berkata Ibnu Ishaq: Berkata Sukain dan ‘Adi bin Zaid: “Wahai Muhammad kami tidak mengetahui bahwasannya Allah menurunkan (rasul) pada manusia selain Musa” Maka Allah turunkan firman-Nya atas ucapan mereka berdua:

163. Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. dan Kami berikan Zabur kepada Daud.

164. Dan (kami telah mengutus) Rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan Rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung[381].

165. (mereka Kami utus) selaku Rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya Rasul-rasul itu. dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

166. (mereka tidak mau mengakui yang diturunkan kepadamu itu), tetapi Allah mengakui Al Quran yang diturunkan-Nya kepadamu. Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya; dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi (pula). cukuplah Allah yang mengakuinya. (An Nisa, 163-166)

Kalau antum mengatakan tidak pernah menyaksikan pada Syaikh Yahya apa yang mereka (orang – orang yang mengkritik) katakan. Itu bukan berarti tidak terjadi dan tidak ada yang menyaksikan.

Disebutkan oleh Ibnu Ishaq : Masuk menemui Rasulullah sekelompok orang Yahudi, Rasulullah pun berkata pada mereka: “Demi Allah sesungguhnya kalian benar-benar mengetahui bahwasannya aku adalah Rasul Allah yang diutus pada kalian.” Mereka berkata : “Kami tidak tahu dan tidak pernah menyaksikannya.” Maka Allah menurunkan ayat:

Ç`Å3»©9 ª!$# ߉pkô¶tƒ !$yJÎ/ tAt“Rr& šø‹s9Î) ( ¼ã&s!t“Rr& ¾ÏmÏJù=ÏèÎ/ ( èps3Í´¯»n=yJø9$#ur tbr߉ygô±o„ 4 4’s”x.ur «!$$Î/ #´‰‹Íky­ ÇÊÏÏÈ

166. (mereka tidak mau mengakui yang diturunkan kepadamu itu), tetapi Allah mengakui Al Quran yang diturunkan-Nya kepadamu. Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya; dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi (pula). cukuplah Allah yang mengakuinya.

Maka ucapanmu tersebut wahai sang ustadz sangat tidak ilmiyyah dan tidak pantas diucapkan.[22] Bukankah engkau meyakini kesesatan dan kekafiran Fir’aun tetapi engkau tidak pernah menyaksikan dengan matamu? Bukankah engkau meyakini kekafiran Abu Lahab dan Abu Jahl, tetapi engkau tidak pernah menyaksikan dengan matamu? Melainkan semua itu adalah khabar dari Al Qur’an atau Hadits. Bukankah bisa diambil pelajaran bahwa Al Haq tidak mesti kita harus melihatnya langsung tapi bisa juga dari beritanya orang-orang yang tsiqah.

3. Ketika dikatakan pada sang ustadz: “Kenapa terhadap orang-orang yang mencela para ulama selain syaikh Yahya seperti syaikh Abdurrahman, Syaikh Ubaid, dan Syaikh Al Wushobi, antum diam saja dan tidak membela?” Dan engkau menjawab: “Adapun  mereka ana tidak tahu, itu urusan mereka dengan Allah”

Maka sungguh kami heran atas ucapan sang ustadz ini. Bukankah mereka itu para ulama, yang antum sering menasehatkan untuk memuliakan para ulama. Bukankah mencela, merendahkan, dan menghizbikan para ulama ahlussunnah adalah suatu kemungkaran, bahkan kemungkaran yang besar? Bukankah wajib mengingkari kemungkaran?

Ada perkara yang tidak ilmiyyah dan tidak adil dalam perkara ini. Ketika Ustadz Luqman antum anggap mencela syaikh Yahya, dan ustadz Muhammad mencela Abdul Alim, secara keras engkau mengingkarinya. Tetapi ketika Abu Hazim dan yang lainnya bahkan sebagian santri kuningan lancang berbicara tentang para ulama dan asatidzah, berat lidahmu untuk mengingkarinya dan mengatakan pada kami : “Masalahnya itu bukan kemungkaran yang jelas itu adalah fitnah”. Sungguh tidak adil dan tidak pantas hal ini dilakukan oleh orang yang mengaku belajar di hadapan ulama selama 10 tahun, padahal engkau mengajarkan kepada kami bab-bab masalah kehormatan kaum muslimin kepada kami.

Wallahu ‘alam kami melihat tumpulnya keilmiyahan sang ustadz ini karena ta’asubnya terhadap Syaikh Yahya dan pembelaanya yang buta terhadap Abdul ‘Alim. Wallahu ‘alam

Ya Abdal ‘Alim…Kalau kamu diatas Al Haq, pasti kamu akan menjawab dengan mudah 54 pertanyaan kami yang sangat ringan.[23]

Wallahu alam bishowab, Wa Nas’alallah Attaufiq was salaamah. Amiin

Majalengka, 16 Dzulhijjah 1432 H

Abu Abdirrahman Abdullah


[1] Kami hanya menukilkan saja dan inipun terjemahan, bagi yang ingin lebih jelas silahkan membuka situs wahyain, karena disana lebih lengkap asli dan sebagian ada rekamannya. Kami sendiri hanya menukil terjemahan yang ditulis Al Akh Abdul Ghafur –hafidzohullah-

[2] Kebiasaan Ahlul Batil, membawakan kalimatul haq yuridu bihi Al Bathil

[3] Kami buat nomor-nomor pertanyaan kami, untuk memudahkan dia jika ingin menjawabnya

[4] Kecuali Abdul ‘Alim ingin diingatkan, atau mengingkarinya, insya Allah kita akan berikan bukti

[5] Abdul Alim punya versi khusus makna menjauh dari fitnah: Yaitu mentahdzir ustadz-ustadz yang mencela syaikh yahya dan menerima dan memuliakan orang-orang yang mentahdzir para ulama seperti Syaikh Ubaid, Syaikh Abdurrahman, Syaikh Abdullah Al Bukhori dan yang lainnya – hafidzohumullah-.

[6] Akan berulang kembali menghukumi sesuatu yang Abdul Alim sendiri tidak faham permasalahannya

[7] Dan diantara bukti itu hanyalah pemahaman Dzulqarnain –hadanallah-, apa yang dibawakan oleh Al Ustadz Askari –hafidzahullah-. Yaitu ketika Ustadz Askari dan yang lainnya termasuk ustadz luqman melakukan umrah, mereka diundang khusus oleh Syaikh Rabi, dan kalau fatwa tersebut masih berlaku tidaklah mungkin syaikh Rabi mengundang secara khusus orang yang beliau anggap sebagai jasus ikhwanul muslimun, dan tidak ada tahdzir dari syaikh Rabi’ untuk menjauhi ustadz luqman. Selain itu ketika terjadi islah antara asatidzah Ahlussunnah –dan itu sepengetahuan syaikh Rabi’- maka tidak mungkin syaikh Rabi memerintahkan islah dengan jasus ikhwanul muslimin.

Dan yang lebih menguatkan apa yang terjadi ketika umrah tahun ini. Al Ustadz Askari dan rombongan ketika di undang syaikh Rabi’ bertanya langsung pada beliau:

يا شيخ بعض إخواننا يمتنعون من حضور مجالس لقمان باعبده بحجة قولك بأن قلت كان في أيام جهاد: إني أخشى أن لقمان جاسس من جسائس إخوان المسلمين، هل تلك على قولك هذا؟

“Wahai Syaikh sebagian ikhwan kita tidak mau menghadiri majlis-majlisnya Luqman Ba Abduh, dengan  hujah ucapanmu yang engkau ucapkan pada masa jihad: Saya khawatir Luqman adalah jasus dari jasus-jasusnya ikhwanul muslimin. Apakah engkau masih tetap diatas ucapanmu ini?”

Syaikh Rabi menjawab:

أنا أقول أخشى أنا ما جزمت، وأما لقمان أنا أزكيه

“Yang aku katakan adalah aku khawatir, saya tidak memastikan. Adapun Luqman ana merekomendasikannya”

Maka wajib bagi siapapun yang telah berlaku bodoh dan terburu-buru menjatuhkan kehormatan beliau, untuk bertaubat pada Allah dan meralat ucapannya sebagai bentuk taubatnya. Allahul Musta’an

[8] Diterimanya khobar versi Abdul Alim bukan dilihat dari dhabt, adaalah, muthasil atau tidaknya seorang rawi, tetapi apa isi riwayatnya. Kalau riwayatnya menguatkankan pendapatnya maka maqbul, tapi kalau bertentangan mardud. Contohya riwayat dzul akmal dan eri ziyad –hafidzahumullah-

[9] Ada keanehan dari Abdul Alim dan orang yang sejenisnya dalam masalah ini. Ketika laskar jihad masih ada dan melakukan berbagai penyimpangan, apakah ada suara pengingkaran dari orang-orang sejenis ini? Wallahu ‘Alam yang jelas kami pribadi tidak mendengarnya. Tetapi sekarang, setelah laskar jihad dibubarkan dan taubat dari berbagai kesalahan, justeru baru muncul berbagai pengingkaran…Aneh?

[10] Ini versi Abdul Alim, maka bagi yang ingin mengetahui lebih jelas keadaan sebenarnya wajib bagi dia untuk ta’ani dan meminta penjelasan dari pihak ustadz Muslim

[11] Karena seseorang bisa bebas menuduh sembarangan

[12] Untuk membuktikan ketidakfahaman Abdul Alim, tanyakan padanya: Bagaimana kronologis acara tersebut? Orang yang bernama fathul Bari apakah mengisi ta’lim setelah ustadz Luqman atau sebelum ustadz luqman? Kami yakin dia tidak bisa menjawab, sebagai bukti ketidak fahaman Abdul Alim terhadap apa yang dia igaukan

[13] Ya, walaupun kita maklumi Majalah Asy Syari’ah tidak bisa masuk ma’had kuningan pada masa Abdul Alim. Kenapa? Allahu a’lam, mudah-mudahan bukan karena alasan konyol karena pada zaman salafus shalih tidak ada majalah, atau yang lebih konyol lagi di Dammaj tidak ada majalah.

[14] Diantaranya menelepon Abu Zaki dan berpura-pura minta nasehat Abu Zaki, yang ternyata telepon tersebut didengarkan pula oleh Taufiq  Al Hindi. Dan juga dia (Wowo) sms kepada Abul kahfi Oman yang isinya seakan – akan telah disibukan dengan fitnah dan meminta untuk menyampaikan maafnya kepada ustadz Abdullah.

[15] Siapa yang mengatakan ini? Jangan-jangan antum sendiri?

[16] Kami yaqin ‘ainul yaqin wa haqqul yaqin, dia tidak melakukannya karena tidak penya bukti sedikitpun

[17] Ada hal aneh yag tidak diungkap oleh Abdul ‘Alim pada pertemuan tersebut pada tulisannya ini, yaitu pertanyaan  ustadz Muhammad padanya: “ Apakah dengan membuat proposal ini ana mubtadi’un dhol?”. Jawaban tidak ilmiyah dan takut-takut dari Abdul Alim: “Ya kalau antum nggak ustadz” (sebagaimana diceritakan Abu Zaki, dan Abu Zaki termasuk orang yang diterima penukilannya oleh Abdul Alim). Kalau yang lain wahai Abdul Alim?

[18] mudah-mudahan antum masih ingat sms antum pada kami tentang pembolehan mendengar radio roja oleh ja’far sholeh. Antum sms (kurang lebih): “Tidak ada seorang pun dari kalian yang mengingkari ja’far sholeh..”

Ketika dijawab: “Antum punya bukti, tidak ada seorangpun yang mengingkari ja’far sholeh?”

Dia membalas: “Mana buktinya pengingkaran kalian terhadap ja’far sholeh.”

Perhatikan penyakit kronis dia (dan ini mewarnai tulisan dia): Pertama : dia memvonis dengan yakin tidak adanya yang mengingkari, kedua : baru dia minta bukti (bukan memberi bukti) pada lawan bicaranya. Aneh, bukankah orang yang menuduh harus membawakan bukti. Ketidaktahuan dia terhadap suatu hal bukannya membuat dia hati-hati dan segera mencari apa yang dia butuhkan, tapi justeru membawanya kepada sikap gegabah dan sok tahu.

Tapi mudah-mudahan itu hanya sekedar sms, yang dia tidak berniat dengannya melakukan dialog ilmiyah

(Kalau engkau mengingkari sms tersebut hendaklah engkau bersumpah, karena kami tidak punya bukti tersimpan dari sms tersebut)

[19] Bahkan dahulu, ketika Al ustadz Luqman –hafidzahullah- dengan terang-terangan membela Asy Syaikh Abdurrahman (tentunya dengan bimbingan ulama) dari tuduhan-tuduhan Asy Syaikh Yahya dan para pengikutnya, dimana pembelaan beliau di Indonesia terlihat seperti asing, dan sebagian ikhwan seakan takut melakukannya. Wal hamdulillah bi fadhlillah, Allah tampakan bahwa pembelaan beliau ‘alal haq, sehingga hari ini tidak ada seorangpun yang takut untuk membela Asy Syaikh Abdurrahman atau pun yang lainnya.

[20] Ternyata Abdul alim pun sudah mulai ingin menyembelih fatwa ulama

[21] Dan akhirnya kajian dia di Bantarujeg pun diberhentikan dengan tidak mengurangi rasa hormat, oleh ikhwan sana. Ini setelah jarh dia yang tidak ilmiyah dan tidak mufasar terhadap Al Ustadz Hamzah hafidzahullah. Dalam keadaan ikhwan Bantarujeg hafidzahumullah, begitu besar toleransinya terhadap orang yang telah membuat bingung sebagian mereka dengan ucapannya yang saling bertentangan.

[22] Maka silahkan mengklarifikasi kalau bukan itu maksud  ucapanmu

[23] Kalau seandainya ada ucapan kami yang keliru atau salah atau kedzaliman maka kami menunggu bantahannya secara ilmiyyah, al ilmu ‘indallah

sumber kunusalafiyin.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s