Beranda » Aqidah » Asy Syaikh Muhammad bin Hadi al Madkhali Menjawab Fitnah dan Tuduhan Halabiyyun

Asy Syaikh Muhammad bin Hadi al Madkhali Menjawab Fitnah dan Tuduhan Halabiyyun

Bismillahirrohmanirrohim. o

Klarifikasi

Asy Syaikh Muhammad bin Hadi al Madkhali dan Asy Syaikh Shalih As Suhaimy hafizhahumallah

Berikut ini kami tunjukkan dialog, komentar dan celotehan di sebuah akun fb Abey.Bali a.k.a Badrimin a.k.a Badi Bud Bud Bali terkait video Asy Syaikh Muhammad Bin Hadi Al Madkhali hafizhahullah.

video syaikh Muhammad dalam sorotan badrimin

Gambar 1. Screenshot video Asy Syaikh Muhammad bin Hadi dalam sorotan Halabiyun

Perlu pembaca ketahui bahwa sepak terjang Badrimin dan keterkaitannya dengan link-link dakwah Halabiyunpad, Takfiri Mamduh Qiblati dan jaringan DDII telah kita paparkan pada makalah sebelumnya:

http://tukpencarialhaq.com/2012/12/15/jejaring-salafy-goncang-menggoncang-salafy/

Jelas bahwa Badrimin, selain memiliki hubungan keakraban dengan orang yang sembrono, dia juga menjalinan keakraban dengan Abu Ahmad Siraj Makasar, Munajat dan kawan-kawannya seperti tampak pada bukti di bawah ini…

keakraban badrimin abu adziem dgn muhammad reza abu ahmad siraj cs_resize

Gambar 2. Screenshot keakraban itu…

Pasca pembeberan bukti-bukti tahdzir para Masyayikh Ahlussunnah terhadap ‘Ar’ur (yang dibela oleh Halabiyun) dan bukti bahwa dirinya bermanhaj Takfiri sekaligus Khawarij

http://tukpencarialhaq.com/2013/05/06/parodi-rodja-bag-6-caldok-firanda-dedengkot-halabiyun-rodja-lindungi-arur-yang-sesat/

maka muncullah orang-orang yang kepanasan, tidak terima dengan pembeberan bukti-bukti tersebut, terpasang dengan jelas di fb kawan akrab Abu Ahmad Siraj, Hanan Bahanan, Munajat, Abdul Mu’thi Al Medany dkk seperti bukti di bawah ini:

ar ur disingkap kejahatannya muncul pembelanya

Gambar 3. Mempublikasikan fatwa ulama dan memaparkan bukti ucapan sesat si Takfiri dan Khariji Adnan ‘Ar’ur tergolong fitnah sedemikian rupa wahai Halabiyun?!

Hakekat manhaj Agus Hasan Bashari telah berlalu pemaparannya seperti tampak pada bukti scan dokumen pada gambar 9 makalah http://tukpencarialhaq.com/2012/12/15/jejaring-salafy-goncang-menggoncang-salafy/ dan beberapa tulisan lainnya ketika dia masih bersama Qiblati sebelum pada akhirnya “diceraikan” oleh mereka.

Pembaca rahimakumullah, karena Halabiyun telah mempersoalkan video Asy Syaikh hafizhahullah, bahkan anda sekalian telah melihat sendiri buktinya bagaimana jejaring Halabiyun (pembawa fitnah dan syubhat) yang pergaulan dan hubungan bebasnya telah begitu merasuk, melebur bersama sebagian facebooker lintas manhaj semacam Munajat, Hanan, Abu Ahmad Siraj dan yang semodel dengan mereka ini tanpa peduli tentang bahayanya Halabiyun sampaipun kemunculan video ini dijadikan sebagai bahan ledekan, ejekan, dan gurauan oleh mereka. Maka berikut kami sampaikan klarifikasi langsung dari Asy Syaikh Muhammad bin Hadi hafizhahullah terkait video beliau, video Asy Syaikh Shalih As Suhaimy hafizhahullah atau berdalil dengan keberadaan video Asy Syaikh Bin Bazz rahimahullah yang tersebarluas agar menjadi jelas duduk perkaranya demi menutup pintu bagi syaithon untuk meniupkan syubhat kebingungan dan fitnah di tengah-tengah Ahlussunnah atau dijadikan sebagai dalih pembenaran oleh para pengekor hawa nafsu.

Penanya: Sebagian ikhwah menanyakan tentang ceramah yang diambil gambarnya oleh Universitas, lalu mereka meminta izin kepada Anda untuk menyebarkannya?

Asy-Syaikh: Demi Allah saya katakan: Jika kalian bisa menyebarkannya tanpa gambar maka silahkan menyebarkannya. Dan ketahuilah bahwa saya bukan hujjah, tidak pula orang yang lebih mulia dari saya. Hujjah itu hanyalah perkataan Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi was salam. Mengambil gambar hukumnya haram dan tidak boleh. Namun terkadang seseorang jatuh kepada beberapa perkara darurat yang boleh baginya, namun hukumnya tetap satu.

Dan saya bersaksi atas nama Allah dan saya telah mengatakan hal itu berkali-kali: sungguh saya mendengar dengan kedua telinga saya ini dari guru kami dan orang tua kami imam di masa ini yaitu imam Ahlus Sunnah Asy-Syaikh Abdul Aziz (bin Baz) rahimahullah jika dikatakan hal seperti ini kepada beliau maka beliau menjawab: “Saya bukan hujjah, hujjah ada pada perkataan Allah dan Rasul-Nya. Kami masuk pada beberapa acara yaitu bertemu dengan pemerintah lalu terjadilah pengambilan gambar ini.” Jadi beliau tidak mengetahuinya dan terkadang terjadi penolakan dari beliau. Hujjah adalah pada perkataan Allah dan Rasul-Nya, dan jawaban yang bermanfaat tentang pengharaman mengambil gambar kalian mengetahui beliau rahimahullah memilikinya.

Saya katakan kepada kalian: Hujjah bukan Muhammad bin Hady dan bukan pula orang yang lebih mulia darinya. Hujjah hanyalah pada perkataan Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi was salam. Jadi, menggambar hukumnya haram, sama saja mereka mengambil gambar Muhammad bin Hady atau tidak mengambil gambar Muhammad bin Hady. Hukum Allah berlaku padanya dan pada selainnya dan hukum Rasulullah shallallahu alaihi was salam berlaku padanya dan pada selainnya. Dan apa saja yang berasal dari Allah dan dari Rasul-Nya maka kita terima sepenuhnya. Sedangkan yang berasal dari selain keduanya maka perlu diteliti lebih dahulu.

Ditranskrip oleh Abu Ubaidah Munjid bin Fadhl Al-Haddad

Jum’at 19 Ramadhan 1432 H

http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=122622

Asy-Syaikh Muhammad bin Hady hafizhahullah berkata:

“Sebelum kita mengajari orang lain maka kita memulai dengan diri kita sendiri. Saya benar-benar ingin menyampaikan arahan dan pengajaran. Bimbingan dan pengajaran berbeda dengan nasehat umum dan berbeda dengan menyatakan: “Kenapa ada kaum yang berbuat demikian…” juga berbeda dengan pembicaraan rahasia.

Maka saya katakan:

Allah mengetahui betapa sesak dada saya dan sedih hati saya ketika saya melihat alat-alat ini yang mengambil gambar semisal daurah ini yang disebut daurah salafiyyah dan para masayikh yang mengisinya telah dikenal sebagai salafiyyun ahlu ittiba’ wa atsar. Jadi, semisal para ulama itu dan semisal daurah ini sepantasnyalah isinya sesuai dengan syiarnya dan sesuai dengan slogannya. Karena tanda ahlul atsar dan salafus saleh radhiyallahu anhum adalah ittiba’. Sekian banyak hadits yang menjelaskan hukum menggambar berupa larangan dan peringatan dari Ar-Rasul yang menyampaikan kabar gembira dan memberi peringatan, semoga shalawat Allah dan salam-Nya senantiasa tercurah untuk beliau.

Wahai segenap ikhwah, mungkin ada yang mengatakan: “Sesungguhnya hal ini (mengambil gambar) telah menjadi kebutuhan yang mendesak di masa ini.” Maka saya katakan: Perkaranya tidak demikian, karena sesungguhnya agama Allah Tabaraka wa Ta’ala telah tersebar sejak abad pertama dan telah mencapai perbatasan China dan perbatasan Perancis sehingga mencapai hampir 2/3 belahan dunia pada waktu itu tanpa ada media pemberitaan dengan model yang kita lihat dan tanpa menggunakan siaran radio apalagi dengan mengambil gambar dan siaran yang mereka namakan sebagai siaran langsung. Dan agama Allah ini senantiasa dibawa oleh orang-orang yang menundukkan berbagai negeri yang pemberani itu serta para ulama pilihan, dalam keadaan mulia dan menang seperti keadaan para pendahulu mereka. Dan orang-orang yang membela agama ini akan senantiasa dalam kemenangan dan kemuliaan dan kuat sehingga agama Allah Tabaraka wa Ta’ala tersebar luas dan tidak membutuhkan pengambilan gambar semacam ini.

Dan kita di masa ini alangkah banyaknya perbuatan menggambar baik di timur maupun di barat. Apa faedah yang bisa diambil oleh manusia dengan memandang gambar saya?! Apa faedahnya?! Faedah itu adalah dengan perkataan saya dan pada perkataan saya jika Allah memberikan taufik kepada saya untuk berkata benar, inilah faedahnya. Adapun gambar maka tidak ada faedahnya! Seandainya perkaranya merupakan kebaikan -demi Allah- Allah tidak akan menutupinya untuk kita dan Rasul-Nya shallallahu alaihi was salam serta para shahabat beliau yang mulia dan terpilih tidak akan meninggalkan cara tersebut.

apa faedahnya

Gambar 4. Screenshot apa faedah yang bisa diambil oleh manusia dengan memandang gambar saya?! Apa faedahnya?!

Maka wahai segenap ikhwah, saya sampaikan nasehat ini kepada kalian dan kepada ikhwah kita yang menjadi panitia daurah ini janganlah nafas hizbiyyah berjalan pada diri kita. Kemarin belum lama ini kita mengingkari Al-Ikhwan Al-Muslimun yang melakukan hal ini (menggambar -pent) di rumah-rumah Allah Tabaraka wa Ta’ala (masjid -pent) lalu bagaimana dengan kita hari ini?! Kita menggandrungi hal ini padahal kemarin hal itu menurut kita sebagai perkara yang Mungkar, namun hari ini menjadi ma’ruf bahkan menjadi kebutuhan.

Jadi wahai para saudaraku, seorang penuntut ilmu berangkat dari pondasi yang kokoh berupa manhaj yang jelas dan terang yang tidak tergoyahkan dengan perasaan dan tidak terseret oleh hawa nafsu, tetapi hanya berangkat dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sabda Rasul-Nya shallallahu alaihi was salam. Kita sampai belum lama ini di daurah yang lalu bersama ikhwah kita -alhamdulillah- siarannya bisa lancar lewat siaran radio, jadi apa perlunya untuk mengambil gambar?!

Biarlah seperti sebelumnya yaitu dengan disiarkan lewat radio dan manusia bisa mendengarnya. Radio Al-Qur’an ini berapa banyak Allah jadikan bermanfaat di timur dan di barat dengan perkataan para ulama dan fatwa-fatwa mereka dan tidak ada seorang pun dari mereka yang berpendapat keharusan menyiarkan ceramah mereka dengan model semacam ini (mengambil gambar -pent).

Maka saya nesehatkan diri saya sendiri dan kalian wahai para ikhwah untuk berpegang teguh dengan adab-adab dan akhlak Islam serta hukum-hukum syariat dan kita jangan bermudah-mudahan padanya, karena jika pada hari ini kita bermudah-mudahan dalam perkara ini maka besok akan lebih parah lagi darinya. Dan demikianlah sikap meremehkan itu tidak memiliki batas, jika telah mulai maka tidak berhenti pada sebuah batas.

Maka saya memohon kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala agar memberi taufik kepada kami dan kalian semuanya, sebagaimana saya berharap kepada kalian hendaknya hal ini kalian perhatikan dengan seksama. Dan kita akan membaca bab yang berkaitan dengan orang-orang yang suka menggambar. Saya bertanya kepada mereka semua dengan nama Allah Ta’ala yang tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia yang beristiwa’ di atas Arsy-Nya sesuai dengan kemuliaan-Nya: Mereka namakan apa ini orang yang memindahkan gambar kita dengan siaran ini? Mereka namakan apa? Saya tuntut mereka untuk menamakan. Mereka namakan apa? Pelukis? Ini merupakan musibah. Jika dia menggambbar maka ini lebih buruk lagi. Mereka namakan apa? Tukang bekam atau tukang besi?! Mereka menamakannya tukang gambar. Lafazh ini terdapat di dalam hadits yang kalian ketahui dosanya. Telah datang ancaman keras terhadapnya dari Rasulullah shallallahu alaihi was salam. Maka jangan kita menjadikan diri kita sebagai sasaran ancaman dan hukuman ini, terlebih di salah satu dari rumah-rumah Allah dan ketika sedang menyampaikan syariat Allah Tabaraka wa Ta’ala. Demi Allah ini merupakan musibah.

Maka saya berharap kepada saudara-saudaraku agar mereka memperhatikan perkara ini dengan seksama dan hendaklah mereka memperhatikan perkara ini bahwa dia merupakan pintu yang jika telah terbuka, maka tidak lama lagi dia tidak akan bisa ditutup lagi. Dan saya memohon kepada Allah Jalla wa ‘Ala agar memberikan taufik kepada saya, mereka dan kalian semuanya untuk mengikuti As-Sunnah dan menjauhi hawa nafsu dan perkara-perkara yang diada-adakan. Karena sesungguhnya yang ditunggu dari kita adalah kita memperbaiki manusia, bukan mengikuti kemauan manusia. Semoga Allah memberikan taufik kepada semuanya agar bisa melakukan hal-hal yang Dia cintai dan Dia ridhai.”

Ditranskrip dari mukaddimah pelajaran “Al-Ahadits Allati Alaiha Madarul Islam” oleh Abu Ahmad Dhiya’ At-Tabissy.

Suara bisa didownload di:

https://www.box.com/shared/bt5rrgjh5k

Sumber:

http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=119890

 

 

Asy Syaikh Shalih As Suhaimy

 

Penanya: Apa hukum mengambil gambar masayikh dengan video di halaqah pelajaran atau channel Islamiyyah?

Asy-Syaikh: Demi Allah wahai saudaraku yang mulia, sepantasnya seorang muslim menjauhi ini semua ini, walaupun sebagian ulama mengecualikan pengambilan gambar dengan video atau televisi dengan alasan itu hanya siaran langsung. Hanya saja, tinggalkan apa yang meragukanmu menuju hal-hal yang tidak meragukanmu. Adapun gambar yang dibuat sama saja dengan menggunakan tangan atau alat, maka tidak diragukan lagi tentang keharamannya jika itu gambar sesuatu yang memiliki nyawa, na’am.

Asy-Syaikh Shalih As-Suhaimy hafizhahullah berkata: “Kami telah mengingatkan larangan menggambar lebih dari sekali. Jangan mengambil gambar dengan HP atau dengan selain HP. Kami tidak mengizinkan hal itu dan orang yang melakukannya berdosa. Rasulullah shallallahu alaihi was salam bersabda:

لَعَنَ اللهُ الْمُصَوِّرِيْنَ.

“Allah melaknat orang-orang yang menggambar.”

Laknat, laknat, laknat, pahamkah kalian apakah laknat itu? Allah melaknat orang-orang yang menggambar. Rasulullah shallallahu alaihi was salam bersabda: “Allah melaknat orang-orang yang menggambar.” Rasulullah shallallahu alaihi was salam melaknat setiap orang yang menggambar makhluk yang bernyawa. Beliau juga bersabda:

أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ.

“Manusia yang paling keras siksaannya pada hari kiamat nanti adalah orang-orang yang suka menggambar.” (HR. Muslim no. 2109 –pent)

Oleh karena itu saya tidak mengizinkan seorang pun untuk mengambil gambar baik dengan HP atau dengan selainnya. Hapuslah atau saya akan mendoakan keburukan atasmu.

Penanya: Semoga Allah berbuat baik kepada Anda, sebelumnya bagaimana hukum gambar? Semoga Allah menjaga Anda.

Asy-Syaikh: Pertama saya telah mengingatkan para ikhwah lebih dari sekali, tidak boleh menggambar yang bernyawa kecuali karena darurat yang telah diketahui, seperti kartu identitas, paspor dan semisalnya. Oleh karena itulah kami tidak mengizinkan seorang pun untuk mengambil gambar, apakah dengan hp atau selainnya. Dan kami tidak membolehkan dan tidak pula menghalalkan. Dan barangsiapa telah mengambil gambar -dan ini telah saya peringatkan kemarin- dia wajib menghapus gambar tersebut. Saya tidak mengizinkan seorang pun untuk mencari-cari gambar, apakah gambar saya atau gambar orang lain. Orang-orang yang menggambar adalah termasuk manusia yang paling keras adzabnya pada hari kiamat nanti sebagimana hal itu disebutkan dalam hadits yang shahih dari Nabi shallallahu alaihi was salam. Oleh karena itu wajib atas kaum muslimin untuk membatasi pada hal-hal yang sifatnya darurat di masa ini karena mengikuti aturan masa kini. Adapun gambar anak-anak atau kenang-kenangan dan semisalnya, maka ini tidak boleh bahkan haram, sama saja apakah dalam bentuk tiga dimensi, atau dengan tangan atau dengan fothografi atau dalam bentuk apapun jika menunjukkan gambar makhluk yang bernyawa.

http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=108042

sumber :tukpencarialhaq.com

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s