Beranda » Manhaj » Antara Menjaga Dakwah dan Menjaga Pribadi Tertentu (Bag. 2)

Antara Menjaga Dakwah dan Menjaga Pribadi Tertentu (Bag. 2)

Bismillahirrohmanirrohim. o

antara menjaga dakwah dan individu tertentu 2i_resize

Asy-Syaikh Hani bin Buraik hafizhahullah

 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه وبعد:

Tulisan ini adalah bagian kedua yang ditulis oleh salah seorang ulama yang Insya Allah sebentar lagi akan datang dalam daurah Masyayikh di Jogjakarta minggu depan. Sebuah tema yang sangat penting dan sangat bermanfaat insya Allah.

….

Penghalang pertama: Berlebihan dalam memuji seseorang.

Wajib atas orang-orang yang menyibukkan diri di medan dakwah dan siapa saja yang mendapatkan amanah berupa tanggung jawab dalam urusan dakwah –apakah mengurusi masjid, markiz maupun darul hadits– untuk menutup telinga mereka dari mendengarkan orang-orang yang suka memuji dan para penyair yang bisa memotong leher-leher dan mematahkan punggung-punggung, terlebih lagi di hadapan pihak yang dipuji, karena sesungguhnya ini termasuk perkara yang menyelisihi As-Sunnah yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam dan keadaan salaf kita yang mulia. Sebagaimana tidak boleh bagi seorang pun untuk berdalil dengan persetujuan Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam terhadap para penyair dan siapa saja yang memuji beliau di hadapannya, karena kedudukan kenabian aman dan terjaga dari fitnah.

Kemudian sesungguhnya larangan beliau yang sifatnya umum dan dipertegas agar tidak saling memuji harus didahulukan atas persetujuan beliau bagi orang yang memuji beliau di hadapannya, karena adanya kemungkinan hal itu merupakan kekhususan bagi beliau shallallahu ‘alaihi was sallam, dengan dalil kerasnya beliau di dalam melarang, sampai-sampai beliau menyuruh agar menaburkan debu kepada orang-orang yang suka memuji, akan datang riwayatnya nanti.

Demikian juga amalan salaf terhadap larangan ini menunjukkan kemutlakan dan mereka sangat membencinya serta bersikap keras kepada orang-orang yang suka memuji, kecuali yang sifatnya darurat seperti merekomendasi para perawi hadits yang terpercaya, karena hal ini termasuk perkara darurat demi kemaslahatan untuk menjaga agama. Dan di sana ada keadaan-keadaan yang tingkatannya di bawah dari hal ini, dan pada masing-masingnya mereka tidak melampaui batas sehingga selamatlah agama mereka dan sempurnalah kehormatan mereka serta tersebarlah kemasyhuran mereka, dan mereka tetap dikenang sehingga menjadi teladan bagi orang-orang setelah mereka.

Perlu juga diketahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam tidak pernah menyetujui sikap melampaui batas di dalam memuji beliau. Di dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Sesungguhnya ada beberapa orang yang mengatakan: ‘Wahai Rasulullah, wahai yang terbaik diantara kami dan anak orang terbaik diantara kami, wahai pemimpin kami dan anak pemimpin kami!’ maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda:

السَّيِّدُ اللهُ.

“Sayyid adalah Allah.”

Mereka berkata lagi, ‘Anda benar-benar yang paling mulia diantara kami dan benar-benar paling utama diantara kami.’ Maka beliau bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ بِتَقْوَاكُمْ لَا يَسْتَهْوِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ، أَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، وَاللهِ مَا أُحِبُّ أَنْ تَرْفَعُونِي فَوْقَ مَنْزِلَتِي الَّتِي أَنْزَلَنِي اللهُ

“Wahai manusia, hendaklah kalian bertakwa dan jangan sekali-kali syetan menggelincirkan kalian, aku adalah Muhammad bin Abdillah yang merupakan hamba Allah dan rasul-Nya, demi Allah aku tidak ingin kalian meninggikanku di atas kedudukan yang Allah berikan kepadaku.”

Diriwayatkan oleh Ahmad di dalam Al-Musnad 2/153 dan sanadnya shahih.

Bagaimana mereka bisa lalai terhadap larangan beliau shallallahu ‘alaihi was sallam dan perkara yang masyhur dari kebiasaan para salaf kita yang saleh radhiyallahu ‘anhum yang membenci hal itu, lalu mereka lebih cenderung kepada alasan-alasan yang lemah dan mengkaitkannya dengan maslahat-maslahat yang sifatnya lemah dan baru sebatas dugaan, menghadapi berbagai kerusakan yang lebih besar darinya. Alasan-alasan itu tidak bisa menjadi hujjah jika dihadapkan dengan dalil-dalil syariat yang bertentangan dengannya juga kerusakan-kerusakan yang diakibatkan sikap memuji yang berlebihan.

Dan cukuplah buat kita hadits Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu di dalam Ash-Shahihain, dia berkata, “Seseorang memuji orang lain di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam, maka beliau bersabda:

«وَيْلَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ» -ثلاثاً- ثُمَّ قَالَ: «مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَادِحًا أَخَاهُ لاَ مَحَالَةَ، فَلْيَقُلْ أَحْسِبُ فُلاَنًا وَاللهُ حَسِيبُهُ، وَلاَ أُزَكِّي عَلَى اللهِ أَحَدًا أَحْسِبُهُ كَذَا وَكَذَا، إِنْ كَانَ يَعْلَمُ ذَلِكَ مِنْهُ»

“Celaka, engkau telah memenggal leher temanmu” –beliau ucapkan tiga kali lalu bersabda–: “Siapa saja diantara kalian yang tidak ada pilihan lain kecuali memuji saudaranya, maka hendaklah dia mengatakan ‘Saya menilai fulan demikian dan Allah saja yang mengetahui hakekatnya dan saya tidak mensucikan seorang pun di sisi Allah, saya menilainya demikian dan demikian’, jika memang dia mengetahui hal itu darinya.”

Diriwayatkan oleh Al-Bukhary 5/202 dan 203 di dalam kitab Asy-Syahadat, bab Idzaa Zakaa Rajulun Kafaahu, dan di dalam kitab Al-Adab bab Maa Yukrahu min At-Tamaduh dan bab Maa Ja’a fii Qaulir Rajul: Wailaka, dan diriwayatkan oleh Muslim no. 3000 di dalam kitab Az-Zuhd, bab An-Nahyu ‘anil Madhi, serta Abu Dawud no. 4805 di dalam kitab Al-Adab, bab Fii Karahiyatit Tamaduh.

Juga hadits Al-Miqdad radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ada seseorang yang memuji Utsman, maka Al-Miqdad merunduk – dan dia adalah orang yang perawakannya besar – dan berusaha menaburkan kerikil kecil, maka Utsman berkata, “Apa yang engkau lakukan?” Al-Miqdad menjawab, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam pernah bersabda:

«إِذَا رَأَيْتُمُ الْمَدَّاحِينَ، فَاحْثُوا فِي وُجُوهِهِمِ التُّرَابَ»

“Jika kalian melihat orang yang suka memuji orang lain, maka taburkanlah debu di wajah mereka.”

Diriwayatkan oleh Muslim no. 3002 di dalam kitab Az-Zuhd, bab An-Nahyu ‘anil Madhi, Abu Dawud no. 4804 di dalam kitab Al-Adab, bab Fii Karahiyatit Tamaduh, dan At-Tirmidzy no. 2395 di dalam Az-Zuhd, bab Maa Ja’a fii Karahiyatil Madhah wal Maddahin.

Maka lihatlah –semoga Allah menjagamu– perbuatan yang berani di dalam kebenaran dari seseorang yang terdidik di madrasah pemimpin para makhluk shallallahu ‘alaihi was sallam, yaitu shahabat Al-Miqdad radhiyallahu ‘anhu terhadap orang yang memuji pemilik dua cahaya yaitu Utsman radhiyallahu ‘anhu, padahal siapa yang tidak mengetahui keutamaan Utsman. Bahkan ketika itu Utsman adalah orang yang paling mulia diantara para shahabat yang masih hidup dan beliau sebagai pemimpin. Maka orang yang dibawahnya lebih pantas untuk dilarang memujinya di hadapannya tanpa diragukan lagi.

Dan sebelum ini semua Allah telah berfirman:

(فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى) [النجم: ٣٢]

“Maka janganlah kalian menganggap suci diri-diri kalian, Allah lebih tahu siapa yang paling bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)

Pada ayat ini Allah menasehati dengan larangan dan mengingatkan bahwa orang yang bertakwa diantara hamba-hamba-Nya diketahui oleh Allah Jalla wa Ala.

Di atas jalan seperti inilah para salaf kita yang shalih dan orang-orang yang mengikuti mereka menempuh hingga hari ini, mereka mencegah fitnah dan memutus jalan-jalan keburukan. Seandainya kita mencatat semua sikap dan perkataan mereka dalam hal itu tentu akan kita jumpai catatan-catatan yang ditulis dengan tinta emas.

Hanya saja saya tidak bisa melupakan tiga sikap ulama besar Ahlus Sunnah di masa ini yang benar-benar memberikan pengaruh yang mendalam kepada saya. Kedua mata saya menyaksikan sendiri, jadi saya benar-benar hadir sehingga saya bisa menyampaikannya. Kedua telinga saya mendengarnya dengan kuat karena saya tidak jauh dari kejadian-kejadian itu sehingga saya bisa menceritakannya. Demikian juga hati saya benar-benar mengingatnya karena saya belum pikun sehingga saya tidak butuh diingatkan. Jiwa-jiwa itu akan terpengaruh mendalam dengan hal-hal yang disaksikan langsung dan dirasakan lebih dibandingkan dengan cara yang lain. Oleh karena inilah Allah menjelaskan sifat-sifat jannah kepada kita dengan sifat-sifat dan nama-nama yang kita kenal dan pernah kita rasakan bendanya di dunia ini agar jiwa merasa rindu kepadanya, walaupun apa yang ada di jannah tidak bisa dibandingkan dengan apapun di dunia ini sama sekali.

Peristiwa pertama:

Guru kami Asy-Syaikh Al-Allamah Al-Utsaimin rahimahullah memiliki sikap yang masyhur yang telah tersebar di internet. Ketika itu saya duduk di dekat beliau di sebuah pelajaran ketika beliau meminta salah seorang muridnya agar mengabarkan kepada para ikhwah tentang keadaan dakwah di negerinya. Maka murid tersebut terlebih dahulu membaca sebuah qashidah yang berisi pujian kepada Asy-Syaikh. Ketika dia mulai memuji beliau maka beliau memotongnya dan meminta agar mengganti baitnya dan beliau mengatakan bahwa yang wajib atas kita adalah mengikat manusia dengan Al-Kitab dan As-Sunnah dan bukan dengan pribadi-pribadi tertentu. Beliau berkata kepada murid tersebut, “Tetapi baitnya jadi rusak.” Dia menjawab, “Kalau begitu saya akan menghapusnya semua.” Kemudian dia membawakan bait lain namun padanya masih ada sanjungan kepada syaikh kami sehingga beliau memotongnya karena menolaknya, dan beliau meminta agar murid tersebut duduk dan tidak melanjutkannya. Silahkan merujuk kepada rekaman peristiwa tersebut di internet karena dengan mendengarnya akan memberikan pengaruh yang mendalam.

Peristiwa kedua:

Guru kami Al-Allamah Rabi’ bin Hadi Al-Madkhaly –semoga Allah senantiasa menjaga beliau dan memberikan kita manfaat dengan umurnya– ketika itu saya termasuk bagian dari peristiwa itu. Saya membawakan kepada beliau sebuah qashidah dari seorang penyair yang handal, sangat dalam dan bagus di dalam memuji beliau. Dia menyebutkan pujian para ulama kepada beliau, jihad beliau di dalam membela madzhab salaf dan juga menyebutkan guru-guru beliau. Saya bermaksud menghibur beliau. Namun justru beliau sama sekali tidak mau mendengarnya dan beliau mengatakan kepada saya yang kurang lebih maknanya, “Hiburanku adalah Al-Kitab dan As-Sunnah serta petunjuk salaf, dan saya lebih mengetahui tentang diriku.”

Peristiwa ketiga:

Guru kami Al-Allamah Ubaid Al-Jabiry hafizhahullah. Ketika beliau ziyarah ke Yaman dan kami menyertai beliau, beliau dikabari melalui telepon bahwa pengumuman-pengumuman pelajaran dan ceramah beliau padanya ditulis gelar “Al-Allamah” dan kami ketika itu bersama beliau di mobil saya dan saya disamping beliau. Pemberitahuan ikhwah bukanlah bermaksud meminta izin kepada beliau untuk menulis gelar tersebut, tetapi dalam rangka memberitahu beliau tentang judul-judul pelajaran dan ceramah. Namun Asy-Syaikh menolak gelar ini dengan terus mendesak agar menghapusnya dan beliau merasa tidak pantas dengan gelar ini. Maka pihak yang menelpon beliau menunjukkan sisi pandang alasannya yang sebenarnya bisa diterima, namun Asy-Syaikh mengulang penolakannya. Kemudian beliau menutup telepon lalu salah seorang masayikh Yaman hafizhahumullah ada yang menghubungi beliau yang menyampaikan bahwa akan tetap mencantumkan gelar tersebut di pengumuman dengan menyebutkan beberapa sebab. Baru ketika itu Asy-Syaikh mengalah dan mengatakan, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”

Sikap-sikap yang sepantasnya menjadi contoh dalam manhaj tarbiyah dan ta’lim bagi generasi ummat ini adalah dengan menempuh jalan para imam yang terdahulu dan belakangan.

مِنْ مَعشَرٍ وَسَمُوا الزّمانَ مَناقباً    تَبقَى بَقاءَ الوَحْيِ في الأطرَاسِ

مترادفين على المكارم والعـــــلـى   مُتَسَابِقِينَ إلى النّدَى وَالبَـــــــــاسِ

Setelah ini sesungguhnya keheranan saya tidak berakhir terhadap sebagian pembawa ilmu yang mulia –dan saya tidak mentazkiyah seorang pun di sisi Allah– jika mereka diingatkan dengan hal ini agar berhenti dari perbuatan saling memuji yang berlebihan yang membuat tabiat yang baik merasa ngeri dan jiwa yang lurus lari menghindar, mereka membawakan alasan-alasan yang lemah yang bertebaran seperti: “Sesungguhnya ini adalah untuk mengalahkan musuh-musuh dakwah dan dalam rangka membangkitkan keberanian.” Yang lebih ngeri lagi ada yang berani mengatakan, “Ini aman dari fitnah.” Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Alasan-alasan ini kebathilannya yang jelas tidak membutuhkan lagi untuk mendiskusikannya, karena cukup untuk membantahnya dengan dalil-dalil syariat yang telah kita sampaikan sebelumnya yang datang menjelaskan kerusakan-kerusakan akibat sikap memuji yang berlebihan yang mana mencegahnya harus didahulukan atas maslahat-maslahat yang sifatnya baru sebatas dugaan yang merupakan ijtihad pribadi yang bertentangan dengan nash.

Jadi mentaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam harus dikedepankan atas ketaatan kepada siapapun, walaupun yang terbaik dari ummat ini (setelah Rasulullah) adalah Abu Bakr dan Umar radhiyallahu ‘anhu, sebagai diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dia berkata kepada Urwah bin Az-Zubair yang membantahnya dengan pendapat Abu Bakr dan Umar radhiyallahu ‘anhu tentang masalah haji tamattu’. Ibnu Abbas berkata, “Dari sinilah kebinasaan kalian, saya tidak melihat kecuali Allah akan mengadzab kalian, saya sampaikan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam kepada kalian lalu kalian membantah dengan pendapat Abu Bakr dan Umar.”

Diriwayatkan oleh Ahmad (1/337), Al-Khathib di dalam Al-Faqih wal Mutafaqqih (1/145), Ibnu Abdil Barr di dalam Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih (2/239) dan Ibnu Hazm di dalam Hajjatul Wada’ hal. 268-269.

Al-Allamah Sulaiman bin Abdillah bin Al-Imam Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahumullah jami’an ketika mengomentari perkataan Ibnu Abbas di atas (lafazh perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu di dalam kitab tauhid adalah: “Hampir-hampir hujan batu dari langit akan menimpa kalian, saya katakan, ‘Rasulullah bersabda’, kalian bantah dengan mengatakan, ‘Abu Bakr dan Umar berkata”), “Ini adalah ucapan yang muncul dari iman yang murni dan memurnikan sikap mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam walaupun ada yang menyelishinya siapapun dia. Hal ini seperti perkataan Al-Imam Asy-Syafi’iy, ‘Para ulama telah sepakat bahwa siapa saja yang jelas baginya sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam, maka tidak boleh baginya untuk meninggalkannya hanya karena ucapan seseorang.’ Jadi jika seperti ini perkataan Ibnu Abbas terhadap orang yang membantahnya dengan uacapan Abu Bakr dan Umar, padahal keduanya telah jelas keutamaannya, lalu bagaimana anggapanmu apa yang akan dia katakan terhadap orang yang membantah sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam dengan ucapan imamnya atau madzhab yang dia bersandar kepadanya dan menjadikan ucapannya untuk menilai Al-kitab dan As-Sunnah. Apa yang sesuai dengan ucapan imamnya maka dia terima dan yang menyelisihinya dia tolak, atau dia menafsirkan semaunya, wallahul musta’an. Alangkah bagusnya ucapan sebagian orang belakangan:

فإن جاءهم فيه الدليل موافقًا لما كان للآبا إليه ذهـــاب

رضوه وإلا قيــــــــــــل هــــذا مــــؤول ويركب للتأويل فيه صعاب

Jika datang dalil kepada mereka yang sesuai dengan nenek moyang maka mereka menerimanya

Kalau tidak maka mereka mengatakan, ‘Ini perlu tafsir’ dan ditafsirkannya dengan paksa

Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Saya merasa heran dengan suatu kaum yang telah mengetahui sanad dan keshahihannya lalu mereka mengambil pendapat Sufyan, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintah beliau takut akan ditimpa fitnah atau adzab yang pedih.” (QS. An-Nuur: 63)

“Tahukah engkau apa yang dimaksud dengan fitnah di atas? Fitnah tersebut adalah kesyirikan, bisa jadi jika dia menolak sebagian sabda beliau maka akan muncul di hatinya sebuah kesesatan sehingga dia akan binasa.” –selesai penukilan dari Taisirul Azizil Hamid 1/470–

Sesungguhnya As-Sunnah di hati orang-orang yang mencintainya lebih berharga dari semua alasan-alasan yang bertebaran. Maka wahai hamba-hamba Allah, murnikanlah sikap mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam dan hati-hatilah kemudian hati-hatilah jangan sampai engkau menolak hadits-hadits yang shahih dan mengambil penakwilan-penakwilan yang bathil dan lemah, karena tidak lama siapa saja yang melakukan hal itu akan muncul di dalam hatinya fitnah penyimpangan dari As-Sunnah sehingga dia akan binasa sebagaimana perkataan Al-Imam Ahmad rahimahullah di atas.

DUHAI, BETAPA BANYAK BAHAYA YANG TELAH MENIMPA BEBERAPA KAUM AKIBAT PUJIAN SEMACAM INI SEHINGGA MEREKA MERASA DIRI MEREKA DI ATAS AWAN SEHINGGA NASEHAT DAN KRITIKAN ILMIAH TIDAK BISA MENYENTUH MEREKA, DAN SEMUA PIHAK YANG MENASEHATI MEREKA DAN MENJELASKAN KESALAHAN MEREKA MAKA DIANGGAP ORANG BODOH DAN SOK TAHU, ATAU DIANGGAP ORANG YANG TIDAK DIKENAL YANG TIDAK TAHU DIRI, ATAU DIANGGAP ORANG YANG DENGKI DAN HASAD, ATAU DIANGGAP LANCANG DAN BANYAK BICARA, ATAU DIANGGAP SEBAGAI ORANG YANG MENCARI KETENARAN DAN INGIN NAIK DAUN, ATAU DITUDUH SEBAGAI MATA-MATA TERHADAP DAKWAH DAN HIZBI YANG NAJIS.

SEBAGAIMANA PUJIAN SEMACAM INI DAN CARA YANG MELAMPAUI BATAS YANG BURUK INI MEWARISKAN PENYAKIT-PENYAKIT YANG KRONIS YANG SULIT  BAGI ORANG-ORANG BESAR UNTUK MENGOBATINYA DAN MENGHILANGKAN AKIBAT-AKIBATNYA SECARA TUNTAS, DAN DEMIKIANLAH KEADAAN SIAPA SAJA YANG MENYELISIHI MANHAJ AL-HAQ, MAKA APAKAH KITA AKAN MAU BERHENTI WAHAI HAMBA-HAMBA ALLAH?!

Jadi sepantasnyalah untuk mencukupkan dengan pujian yang semestinya ketika memang benar-benar dibutuhkan dan sifatnya darurat menurut syariat, dan hendaknya menjauhi sikap berlebihan dan melampaui batas.

http://wahyain.com/forums/showthread.php?t=2895

sumber: http://tukpencarialhaq.com/2013/08/19/antara-menjaga-dakwah-dan-menjaga-pribadi-tertentu-bag-2/#more-3801

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s