Beranda » Manhaj » Bingkisan Syawal Bagi Yang Tak Tahu Hal Ihwal (Episode 1)

Bingkisan Syawal Bagi Yang Tak Tahu Hal Ihwal (Episode 1)

Bismillahirrohmanirrohim. o

bingkisan syawal bagi yang tak tahu hal ihwal...

Hawa yang dingin nan kering menyapa kulit, kala tulisan ini mulai kutorehkan di atas kanvas komputerku. Serasa hawa itu perlahan-lahan menyusup, mendesak dan meminta ruang di kalbu, mengendap bersama beberapa bongkah kecil kegundahan. Ya… Segenap kegundahan yang mulai melanda sejak menerima ‘oleh-oleh’ beberapa waktu lalu. Bukankah tak selayaknya hati menjadi resah dan gundah gulana kala menerima buah tangan? Kali ini mungkin keadaannya tak sama ya ikhwah fillah… Baarakallahufiikum…

olehnya naim_resize

Tiba-tiba saja diriku terdiam… Laa haula walaa quwwata illaa billaah. Berulangkali rekaman itu kuulang-ulang. Hasilnya sama saja… Tak ada yang berubah satu katapun. Sungguh saya bersyukur, kedua telinga ini tak salah dengar… Rasanya bergetar tubuh ini tatkala mendengar untaian kata-kata ini :

“Maka saya pun juga menghimbau kepada ikhwah, ya khususnya… Dari isu-isu yang ada… ini…ya.. ee… Anggap saja itu sebagai isu…Biarkan saja… Nggak usah digagas, ya… Kalau ternyata itu isu itue.. ee.. isu itu benar. Kalau seandainya isu itu benar, maka itu menjadi koreksi bagi kita. Bahwa saudara kita mau mengingatkan kita. Walhamdulillah… Tapi kalau itu adalah (mer) memang bener-bener isu… ma ‘alayna… ini adalah ‘alayhim. Itu akan kembali kepada mereka sendiri. Yang membuat isu itu sendiri dan Allah subhaanahu wata’ala pasti… dan pasti akan membongkarnya. Cepat ataupun lambat…

[Rekaman 1 (57:31 – 58:19)]

Yassalaam

Rangkaian kata yang saya tebali bagai terus-menerus terngiang di telinga ini… Betapa berat akhir dari rangkaian kata tersebut. Ijinkan saya meringkasnya: “Jika isu itu tidak benar, maka akan kembali kepada pembuat isu dan Allah pasti akan membongkarnya”. Sungguh ini adalah kalimat yang di dalamnya terkandung do’a… Silahkan bertanya pada diri Antum sendiri, kalimat ini mengandung do’a kebaikan ataukah keburukan…

Yang jelas, beliau yang menyampaikan hal tersebut siap dengan kedua pilihan yang ada. Siap dengan konsekuensi diingatkan, maupun siap Allah bongkarWallahu a’laam

***

Inikah yang Terjadi?

Semoga Allah senantiasa membantu saya untuk memperbaiki niat dan apa yang saya amalkan… Sungguh, saya –orang yang masih harus memperbanyak duduk di depan Asatidzah– berusaha mencintai asatidzah dan ikhwah Salafiyyin. Itulah salah satu alasan saya sampaikan hal ini kepada antum… Saya sampaikan kenyataan yang ada. Dan saya sampaikan pula kepada antum, bahwa isi materi yang saya kritisi tersebut telah dikonsumsi orang banyak. Sungguh, hati ini khawatir akan munculnya api fitnah yang besar bila tak segera dipadamkan. Wallahua’laam

Mendengarkan kedua rekaman tersebut membuat saya bertanya-tanya dalam hati kecil : “Inikah yang terjadi?” dan sejumlah pertanyaan yang mengganjal lainnya : “Apakah hal-hal tersebut layak untuk dikonsumsi orang banyak, atau bagaimana?”, “Sesungguhnya isi rekaman tersebut tentang berbagi faidah saat duduk di sisi Ulama’ ataukah pers release, atau bagaimana?”. Sungguh pertanyaan-pertanyaan itu bergumul di dalam rongga kepala ini dan memaksa lisan ini untuk bertanya… Allahul musta’aan

***

Kabut Itupun Tersibak

Thoyib

Saya berharap pembaca mempunyai persepsi yang sama tentang isi rekaman dan kenyataan yang terjadi. Untuk itu saya akan nukil keganjilan beberapa kejadian tersebut. Biidznillahi ta’ala.

Jumat Berkabut di Kaki Merapi

Hari terakhir di bulan kelima tahun ini terasa begitu istimewa. Kesibukan yang tak biasa di sebuah pondok pesantren Ahlus Sunnah di kaki Merapi, Yogyakarta. Asatidzah telah berkumpul di Ma’had Al Anshar sedari pagi. Sebuah kenikmatan yang besar, mereka bisa berkumpul… Bahkan tak hanya sesama mereka, seorang Masyaikh akan mengunjungi pondok pesantren yang sedang berbenah ini. Meskipun sebenarnya tahun-tahun yang lalu dalam kisaran hari yang hampir sama, telah menjadi agenda istimewa pondok ini menjamu para tamu yang datang. Para tamu yang berbondong-bondong datang, berjubel mereguk manisnya sajian ilmu para masyaikh.

Di hari itu, mereka berkumpul karena telah ada kesepakatan. Namun nampaknya asa mereka tak hendak terwujud, ba’dallah… Saya akan nukilkan kejadian tersebut, agar mereka yang tidak faham permasalahan tidak salah faham dengan kejadian tersebut.

… Tapi memang dari Ustadz Dzul sendiri juga.. ee.. Ustadz Dzulqarnain sendiri sebagai.. ee.. yang mengatur acara Syaikh dan juga yang koordinasi dengan Syaikh.. khususnya Syaikh ‘Utsman ini.. yang.. ee.. kita tentunya juga ikut beliau.. apa maunya beliau..ini..”

[Rekaman 1 (03:41 – 04:00)]

… Yang lainnya bubar sendiri-sendiri, kemudian saya.. ee.. masih bersama Syaikh.. ya.. waktu itu untuk ngatur jadwal.. ternyata dengan Ustadz Dzul waktu itu masih ngatur jadwal..ya… Ngatur jadwal sekaligus juga.. ee.. maudhu’ ya.. materi-materi yang akan..ee.. sudah dipersiapkan oleh kita.. juga dengan apa yang diusulkan oleh Syaikh..ini.. Itu tanggal 24 ya.. hari Jum’at.”

[Rekaman 1 (16:59 – 17:29)]

Ee..kemudian..eh..ehm..ee..Itu tanggal.. hari Jum’atnya ya.. Hari Jum’at kedua, ini berarti Syaikh sudah berjalan satu minggu di Indonesia. Dari ke Jum’at di Jogja itu..ee.. sampai berita..ya.. dan dari awal itu hari Jum’at ya.. Perlu diketahui Hari Jum’at tanggal 24..ya.. Itu.. Syaikh nanyakan Ustadz Luqman di antaranya.. Aa.. kemudian diusulkan sama Ustadz Cahyo untuk diundang secara khusus ini.. dan kemudian diundang secara khusus..ini.. Untuk menghadiri acara-acara yang sudah disiapkan oleh ikhwah, asatidzah semua. Itu.. undangan ditulis dan dikirimkan tanggal 24, Hari Jum’at. Dan saya tahu nulisnya..ini.. Tulisan tangan beliau sendiri. Kemudian disusul dengan undangan umum. Ini ada undangan khusus kepada Ustadz Luqman dan ada undangan umum kepada asatidzah.. yang itu juga beredar di..ee..di.. haa.. Mas Rosyid sudah cengar-cengir ini.. Ada yang ngupload gitu..he..he..he.. Dicopas semuanya..ini.. ini.. Itu yang beredar yang umum. Kemudian.. dari hari Jum’at dikirimkan, hari Selasa baru ada jawaban..ya.. Hari Selasa baru ada jawaban ketika Syaikh mau berangkat ke Makassar. Dan Daurah Asatidzah sudah selesai..ini..ini.. Ini..ee..baru ada jawaban itu.. Dan eh..ehm..–suara tidak jelas– surat, tentang kehadiran juga tidak hadir..ya.. Walhasil pada Jum’at yang kedua.. Jum’at yang kedua pas di Jogja itu.. yang ee..katanya sudah pada kumpul di Veteran ya.. Dari Ustadz Luqman dan yang lainnya..ini..kemudian isu yang menyebar bahwa Syaikh itu sudah siap mau datang ke Veteran tapi katanya dihalangi oleh Panitia..ini.. Bahkan katanya Syaikh sudah menyanggupi untuk ke Jember.. Ini yang beredar ya.. tapi juga lagi-lagi katanya dihalangi oleh Panitia.. ini sama sekali tidak ada. Sama sekali tidak ada penghalang dari Panitia, juga tidak ada kesiapan dari Syaikh itu sendiri.. atau ada janji dari Syaikh itu sendiri ndak ada. Dan dalam hal ini, perkara ini.. kemarin terakhir kita ketemu di hari Rabunya itu.. di hari Sel..ee.. ya.. hari Rabu pagi. Pas terakhir kemarin.. ataupun Rabu kemarin. Syaikh ini.. ee.. Syaikh ‘Utsman memberikan release secara khusus ya..tentang berita yang beredar ini, bahwa kami ndak ada janji, dan kami juga tidak ada.. tidak ada cerita ya.. untuk datang ke mereka, tapi kita malah berharap untuk mereka datang kepada kami.. ini.. Tapi malah mereka sendiri yang tidak mau datang..ya..”

[Rekaman 1 (25:04 – 29:01)]

Kemudian tanggal 31..ee dua pu..ee.. tanggal 30 sorenya..ini.. yang ee.. sedianya itu.. tanggal 31 pagi baru nyampe.. dulunya ya.. direncanakan.. ternyata datang ke Jogja dari Makassar itu tanggal 30-nya..ya.. Tanggal 30, jadi malam..ee..31..yakni malam Jum’at itu.. beliau sampai di Jogja dan nginep di..ee.. Kaliurang..ya.. Menginap di Kaliurang.. Yang waktu itu memang kita sudah mau rencanakan ya..(tang)..di pagi harinya sebelum Jum’atan..ya.. Itu dari Jakartapun itu sudah kita rencanakan untuk ada pertemuan Asatidzah..ya.. Waktu itu ditawarkan ke Jogja, Jogja sebenarnya asalnya nggak siap..ya.. Dari sisi pendanaan, yang pertama..ya.. kemudian yang kedua, kepanitiaan yang siap cuman mas Slamet saja..ini.. Mas Slamet. Lha saya tanya ke ustadz..ee.. Ustadz ‘Abdul Mu’thi, gimana nih kata mas Slamet ini siap..ini.. Kata..ee..Ustadz ‘Abdul Mu’thi,”Ckk.. Mas Slamet ini ndak tahu lapangan. Paling-paling nanti tempuknya sama ‘Abdul ‘Aziz” dan memang Jogja ini hanya 3 orang saja..ya.. kata..e..kata Pak Mardi..ini ya.. Panitianya cuman 3 orang saja untuk Jogja ini.. kata Pak Mardi..ini..Ya ini Mas Slamet, Mas Munajat dan Mas ‘Abdul ‘Aziz..ini ya.. Pokoknya itu thok..ini.. Jadi muter tiga orang itu.. Tapi, Alhamdulillah juga jalan ya.. Ee.. walhasil kemudian ee.. saya tawarkan Pak Mardi dan Ikhwah di Solo juga keliatannya kurang siap..akhirnya kemudian ya sudah..Nggak jadi..ini.. ini.. Nggak jadi acara..ee..itu, biar ee.. Syaikh juga agak istirahat ya.. agak santai sedikit..ya..ini…”

[Rekaman 1 (21:09 – 23:10)]

Karena tanggal.. ee.. tujuh-delapan itu sedianya adalah untuk istirahat syaikh yang sebelumnya juga ditawarkan ke.. ee.. ikhwah kita di Jember. Tapi memang tidak ada tang..eh..eh ehm… belum ada tanggapan.. sampai akhir.. ya..”

[Rekaman 1 (06:04 – 06:19)]

Agar lebih nyaman membaca, saya akan ringkaskan poin-poin penting dari transkrip isi ceramah tersebut. Mohon maaf sebelumnya, jika saya terpaksa harus menyebut nama. Semoga Allah mudahkan untuk saya dan antum :

1.   Ustadz Dzulqarnain yang mengatur acara Syaikh, dan berkoordinasi dengan Syaikh. Lebih khusus lagi terhadap Syaikh ‘Utsman.

2.   Pembicara (rekaman 1) turut andil mengatur jadwal Syaikh bersama Ustadz Dzulqarnain. [Keterangan: pada tanggal 24 Mei 2013 di Jakarta].

3.   Pada tanggal 24 Mei 2013 hari Jum’at, Syaikh ‘Utsman bertanya tentang Ustadz Luqman. Sehingga diusulkan oleh Ustadz Cahyo untuk mengundang Ustadz Luqman secara khusus.

4.   Pada tanggal 24 Mei 2013, Syaikh ‘Utsman menulis sendiri undangan khusus untuk Ustadz Luqman, dan undangan umum untuk Asatidzah. Undangan tersebut dikirimkan hari itu juga.

5.   Undangan yang dikirimkan hari Jum’at (24 Mei 2013), baru ada jawaban pada hari Selasa, ketika Syaikh ‘Utsman hendak berangkat ke Makassar dan Daurah Asatidzah sudah selesai.[Keterangan: hari Selasa yang dimaksudkan Pembicara (rekaman 1) adalah Selasa, 28 Mei 2013. Daurah Asatidzah yang dimaksudkan adalah daurah asatidzah di Depok].

6.   Pada tanggal 30 Mei 2013 hari Kamis malam, Syaikh ‘Utsman tiba di Yogyakarta (dari Makassar), kemudian menginap di Kaliurang.

7.   Pembicara (rekaman 1) menyebutkan dengan jelas tentang adanya rencana pertemuan Asatidzah di Yogyakarta pada hari Jum’at pagi, 31 Mei 2013.

8.   Pembicara (rekaman 1) mengetahui dengan jelas bahwa Asatidzah sudah berkumpul di Veteran pada hari Jum’at pagi, 31 Mei 2013.

9.   Pertemuan Asatidzah di Yogyakarta pada Jum’at pagi (31 Mei 2013) tidak jadi dilaksanakan.

10. Pembicara (rekaman 1) menerima berita tentang isu kesiapan Syaikh ‘Utsman untuk datang ke Veteran dan ke Jember, namun dihalangi panitia.

11. Berdasarkan keterangan Pembicara (rekaman 1), Syaikh ‘Utsman memberikan keterangan bahwa beliau tidak memberikan janji dan tidak ada rencana mendatangi Asatidzah. Pembicara (rekaman 1) juga mengatakan bahwa tanggal 7 dan 8 [1] ditawarkan (alokasi waktu Syaikh, penulis) untuk Ikhwah di Jember namun belum ada tanggapan.

Sampai di sini, silahkan pembaca ikuti drama selanjutnya…

Kabutpun Tertiup ke Solo

“Dan malam itu.. Ini yang berikutnya.. ee..sebentar..ee.. saya tarik lagi kembali kepada yang hari Jum’at di Jogja itu.. Maka ini sekali lagi, tidak ada..ee.. istilahnya yang menghalangi dari panitia..ini.. Bahkan kan waktu itu..ee.. karena waktu itu saya dapet telfon dari Ustadz Miftah..ini.. yang ee.. memberikan informasi, katanya mendengar dari Ustadz Salman Bali..ini.. Dan Ustadz (na) Salman Bali katanya dapet informasi dari Mas Ayip..ya..Ini..katanya..ee..dihalangi sama panitia, katanya dan begini, begini, begini..ee.. Waktu itu saya ada di la..ee.. di Jakarta..eh..ehm.. “O..ndak bener ini. Ini..ni langsung aja.. Langsung aja..” Langsung..ee..telfon saya kasihkan kepada Ustadz Dzul. Ustadz Dzulqarnain. Dan beliau sendiri yang menjawabnya..ini.. Eh..ehm.. Bahwa semua itu tidak ada.. Bahkan kemudian..ee..kita sudah rencanakan di Jogja waktu itu memang tidak ada. Kalau memang mau, sudah nanti kita di Solo..ini.. Dan itu sudah diundang. Ustadz Dzul sendiri sudah ngeSMS bolak-balik. Dan kami yang di Solo ini juga diminta untuk me..ngundang kembali. Maaf-maaf, kemarin Pak Mardi..ini e.. Yang saya oyak-oyak itu Pak Mardi sama Pak Munajat..ya.. Karena saya sendiri juga ndak tahu.. apa namanya.. telpon-telpon mereka..ini..eh..ehm.. Walhamdulillah kayaknya juga..ee.. ada ya.. Pak Mardi..ya..e.. Ini juga diundang. Tapi yang jelas ee..Ustadz Dzul sudah ngundangi mereka. Eh..ehm.. Kita ketemu e..nanti sore ba’da..ee.. setelah dari apa.. dari Karanganyar itu di rumah saya. Dan itu sudah disiapkan semuanya..ya.. Sudah disiapkan semuanya itu ee.. di rumah saya. Ditunggu, ditunggu saya pun juga sem..saya pulang duluan untuk mempersiapkan rumah. Yang tadinya juga ee..saya pikir hanya untuk sekedar ini saja, ternyata ee..untuk acara itu.. rencana Ustadz Dzul..ya.. Yo wis..pokoknya kemudian saya pulang dan kemarin saya (ju) terus ngoyak-oyak Pak Junaedi untuk menyiapkan, karena rumah juga masih ee..itu kacau balau seperti itu, untuk menyiapkan yang agak adem-adem sedikit..ya..ini.. Walhamdulillah pun juga..ee.. insyaallah dengan a.. dengan ee..inipun juga siap..ya..sudah siap..ini.. Ee..ternyata ee.. menjelang Maghrib itu kalau nggak salah ya.. atau ba’da ‘Ashr (kur) lebih sedikit ya.. Ini Ustadz Dzul telfon saya.. bahwa sepertinya mereka tidak akan datang. Gitu lho.. Ya sudah akhirnya kemudian Masyaikh pun ee.. langsung dari Karanganyar, langsung ke pondok..”

[Rekaman 1 (30:06 – 33:17)]

Saya akan ringkaskan kembali agar antum nyaman membaca, dan penomoran poin melanjutkan bab sebelumnya, karena kedua penggalan kisah ini masih berhubungan.

12. Pembicara (rekaman 1) mengatakan dengan jelas bahwa Pertemuan Asatidzah di Yogyakarta (hari Jum’at, 31 Mei 2013) memang direncanakan tidak ada. Jika memang akan ada pertemuan, maka tempatnya di Solo.

13.     Pembicara (rekaman 1) mengatakan dengan jelas bahwa Ustadz Dzulqarnain telah melakukan SMS dengan Asatidzah yang diundang.

pamflet dauroh

Gambar 1. Waktu penyelenggaraan Tabligh Akbar di Karanganyar

15. Pembicara (rekaman 1) mengetahui dengan jelas bahwa orang yang merencanakan pertemuan dengan Asatidzah di rumah Pembicara (rekaman 1) adalah Ustadz Dzulqarnain.

16. Ustadz Dzulqarnain memberikan kabar ba’da ‘Ashr, bahwa Asatidzah yang dimaksudkan tidak akan datang. [Keterangan: yang dimaksudkan Pembicara (rekaman 1) adalah hari Sabtu, 1 Juni 2013 setelah jam 15.00 WIB. Sedangkan Asatidzah yang dimaksudkan adalah Asatidzah yang diundang].

Wallahu a’lamu bishowab..

Thoyib… Saya akan sampaikan beberapa hal yang saya ketahui, alhamdulillah.

kronologis

Gambar 2. Kronologis mulai hari Jum’at 24 Mei 2013 sesuai kalender nasional

Fakta yang Terjadi

Saya dapatkan keterangan dari sumber yang bisa dipercaya (yang tidak tinggal di Jember ataupun Yogyakarta), bahwa :

#  Memang benar Ustadz Luqman menerima undangan dari Syaikh ‘Utsman.  Undangan tersebut dikirim kepada email lama [2] seorang ikhwah yang saat ini tinggal di Medan. Perlu antum ketahui, bahwa sebelumnya ikhwah tersebut merupakan salah seorang santri Ma’had As-Salafy (Jember), dan email yang digunakan ikhwah tersebut jarang digunakan. Surat Syaikh ‘Utsman tersebut baru diterima oleh Ustadz Luqman pada hari Ahad sore tanggal 26 Mei 2013.

#  Ustadz Luqman baru memberikan jawaban atas surat Syaikh ‘Utsman pada hari Ahad (26 Mei 2013), karena kenyataannya surat Syaikh ‘Utsman tersebut terlambat datang (disebabkan proses pengiriman email yang kurang wajar), sehingga Ustadz Luqman baru bisa memberikan balasan pada sore hari Ahad (26 Mei 2013) segera setelah beliau menerima surat. Pada malam itu juga, surat balasan tersebut dikirimkan via email kepada Ustadz Abdul Malik (Tangerang).

#  Ustadz Luqman membalas surat Syaikh ‘Utsman, bahwa beliau memohon kepada Syaikh ‘Utsman waktu khusus untuk jalsah di Jawa Tengah. Tentunya dengan bahasa yang sopan dan beradab. Beliau pun juga menyampaikan udzur tidak bisa mengikuti Daurah. Surat balasan tersebut diserahkan langsung kepada Syaikh ‘Utsman oleh Ustadz ‘Abdul Malik pada hari Senin (27 Mei 2013) ketika masih berlangsung penyelenggaraan Daurah Asatidzah di Depok [3].

#  Pada Senin siang (27 Mei 2013) surat Panitia Tabligh Akbar Ulama yang ditujukan kepada Mudir Ma’had As-Salafy Jember tiba. Perlu antum ketahui,  surat tersebut dikirimkan via jasa titipan kilat dengan layanan semalam sampai (layanan kirim hari ini besok sampai, biidznillah) [4]. Dengan layanan ini, jika antum mengirimkan surat pada hari Kamis sore, maka surat akan  terkirim hari Jum’at, sementara hari Sabtu adalah hari libur nasional, maka kemungkinan besar surat baru tiba hari Senin. Itupun jika tidak ada musibah, biidznillah. Wallahu a’laam..

# Inti isi surat Panitia Tabligh Akbar Ulama untuk Mudir Ma’had As-Salafy Jember tersebut adalah “penawaran kepada Ustadz dan segenap asatidzah untuk turut andil dalam penyelenggaraan tabligh akbar di tempat yang ustadz inginkan”. Dalam surat tersebut disertakan pula agenda Daurah Syaikh dari tanggal 25 Mei 2013 hingga 11 Juni 2013 [5].

#  Pada Senin malam (27 Mei 2013), Mudir Ma’had As-Salafy Jember memberikan balasan atas tawaran tersebut [6]. Inti surat balasan adalah “dengan senang hati dan harapan besar Asy-Syaikh Utsman As-Salimi hafizhahullah bisa berkunjung ke Ma’had kami di Jember”. Dan Mudir Ma’had As-Salafy sangat mengharapkan untuk mendapatkan nomor yang digunakan Syaikh ‘Utsman di Indonesia, agar beliau bisa berkomunikasi lebih lanjut dengan Syaikh. Surat balasan tersebut dikirim via email.

# Tidak ada balasan dari Panitia Tabligh Akbar Ulama atas email kesiapan Ma’had As-Salafy untuk turut andil dalam menyelenggarakan tabligh akbar di tempat yang Mudir Ma’had As-Salafy inginkan. Bahkan pihak Ma’had As-Salafy berupaya menanyakan beberapa kali melalui SMS. Hasilnya sama saja, tidak ada tanggapan atas kesiapan Ma’had As-Salafy untuk turut andil dalam menyelenggarakan tabligh akbar di tempat yang Mudir Ma’had As-Salafy inginkan.

#  Pada hari Kamis (30 Mei 2013), Panitia Tabligh Akbar Ulama mengirim email kepada Ma’had As-Salafy Jember yang intinya adalah bahwa Syaikh sudah tidak berkenan menambah jadwal lagi. Namun Syaikh telah menyanggupi untuk berjumpa dengan Ustadz dan kawan-kawan di Jawa Tengah [7].

#  Maka, kisah selanjutnya adalah dilakukannya upaya komunikasi antara Asatidzah dengan Panitia Tabligh Akbar Ulama untuk menentukan waktu dan tempat pertemuan. Dalam penelponan disepakati waktu pertemuan  adalah hari Jum’at (31 Mei 2013), hari dimana Syaikh ‘Utsman mengisi di UGM (Yogyakarta). Pertemuan akan diadakan di Ma’had Al-Anshar, karena asatidzah sangat berharap Syaikh ‘Utsman bisa berziarah ke ma’had ahlus sunnah tersebut. Asatidzah memohon agar pertemuan dengan Syaikh ‘Utsman bisa dilaksanakan sejak ba’da shubuh. Namun dijawab oleh panitia :

+628114414X3

Syaikh memberi waktu insya allah besok jam 09:00 hingga jam 10:00. Tapi kalau antum ingin lebih baik, kita agendakan lusa di Solo dengan kehadiran Syaikh Abdullah.

   Mohon maaf, sengaja nomor telepon panitia tersebut tidak saya tampilkan utuh. Atas SMS panitia tersebut, Asatidzah menegaskan bahwa pertemuan tetap di Yogyakarta, karena besarnya harapan agar Syaikh ‘Utsman bisa mengunjungi Ma’had Al Anshar. Dan masalah tempat inipun sebenarnya telah menjadi kesepakatan dalam penelponan sebelumnya.

     Perlu antum ketahui, SMS tentang kesediaan Syaikh yang diinfokan oleh Panitia Tabligh Akbar Ulama tersebut dikirim pada hari Kamis malam (30 Mei 2013, pukul 21.31) [8].

#  Pada hari Jum’at (31 Mei 2013), Asatidzah dari berbagai daerah telah berkumpul di Ma’had Al Anshar, Yogyakarta. Pagi-pagi sekira pukul 07.15, Asatidzah menelpon panitia untuk mengonfirmasi ulang tentang kepastian waktu dan tempat. Namun, telepon tidak diangkat… Sekira seperempat jam kemudian, Asatidzah mengirimkan SMS kepada panitia. Inti isi SMS tersebut adalah bahwa Asatidzah telah banyak yang hadir dan mengharapkan kehadiran Syaikh untuk ziarah di Ma’had Al Anshar sesuai waktu yang telah disampaikan Panitia. Bahkan Asatidzah dalam SMS tersebut juga menawarkan untuk menjemput Syaikh. Asatidzah pun kembali menunggu… Namun SMS ini pun tak kunjung berbalas… Sekira satu jam kemudian, Asatidzah mengirim SMS menanyakan tentang perjalanan Syaikh menuju Ma’had Al Anshar sudah sampai dimana. Namun SMS ini pun tak ada balasan kejelasan… Hingga waktu yang telah disebutkan Panitia (pukul 09.00 – 10.00) tidak ada balasan apapun yang diterima Asatidzah, baik lewat telepon maupun SMS. Asatidzah pun kembali menunggu hingga ba’da Shalat Jum’at… Sementara ba’da Sholat Jum’at adalah jadwal Syaikh ‘Utsman untuk mengisi di UGM. Sehingga bisa dipastikan bahwa, pertemuan qabla Shalat Jum’at itu tidak akan terlaksana. Setelah itu sebagian Asatidzah berangkat ke UGM untuk menghadiri Daurah Syaikh, sebagian Asatidzah lainnya terpaksa memilih untuk kembali ke daerah masing-masing. Dan sebagiannya lagi masih bertahan menunggu kabar berikutnya dari Panitia.

#  Jum’at sore saat tiba waktu shalat ‘Ashar, masuk SMS dari Panitia :

Afwan, ana baru bangun tidur. Semalam Syaikh dah istirahat, dan tadi pagi beliau juga beristirahat dan baru saja makan pagi dan siap2 ke UGM. Saya Udah sampaikan bahwa Insya allah agenda pertemuan besok di Solo bada Ashar di rumah Ustadz Muhammad Naim. Harapan Syaikh Utsman dan Syaikh Abdullah serta harapan kami kehadiran seluruh Asatidzah. Jazakumullahu Khairan

        SMS ini, tertulis pada laporan pengirimannya pukul 9.30, namun kenyataannya diterima oleh  Asatidzah setempat pada waktu ‘Ashr. Wallahu a’laam… [9]

***

Ada Apa dengan Mas Ayip ?

“Walhasil pada Jum’at yang kedua.. Jum’at yang kedua pas di Jogja itu.. yang ee..katanya sudah pada kumpul di Veteran ya.. Dari Ustadz Luqman dan yang lainnya..ini..kemudian isu yang menyebar bahwa Syaikh itu sudah siap mau datang ke Veteran tapi katanya dihalangi oleh Panitia..ini.. Bahkan katanya Syaikh sudah menyanggupi untuk ke Jember.. Ini yang beredar ya.. tapi juga lagi-lagi katanya dihalangi oleh Panitia.. ini sama sekali tidak ada.”

[Rekaman 1 (27:14 – 28:03)]

Ada dua kata kunci yang saya genggam yang ingin saya tunjukkan kepada antum : “isu yang menyebar” dan “katanya dihalangi panitia”. Saya mencoba mencari kejelasan siapakah yang dimaksudkan Pembicara (rekaman 1) telah menyebarkan isu bahwa panitia daurah Syaikh telah menghalangi sejumlah acara? Saya akan tunjukkan pula kepada antum, bahwa Pembicara (rekaman 1) telah menunjuk dengan jelas siapa orang tersebut.

“Dan malam itu.. Ini yang berikutnya.. ee..sebentar..ee.. saya tarik lagi kembali kepada yang hari Jum’at di Jogja itu.. Maka ini sekali lagi, tidak ada..ee.. istilahnya yang menghalangi dari panitia..ini.. Bahkan kan waktu itu..ee.. karena waktu itu saya dapet telfon dari Ustadz Miftah..ini.. yang ee.. memberikan informasi, katanya mendengar dari Ustadz Salman Bali..ini.. Dan Ustadz (na) Salman Bali katanya dapet informasi dari Mas Ayip..ya..Ini..katanya..ee..dihalangi sama panitia, katanya dan begini, begini, begini..ee.. Waktu itu saya ada di la..ee.. di Jakarta..eh..ehm.. “O..ndak bener ini. Ini..ni langsung aja.. Langsung aja..” Langsung..ee..telfon saya kasihkan kepada Ustadz Dzul. Ustadz Dzulqarnain. Dan beliau sendiri yang menjawabnya. Eh..ehm.. Bahwa semua itu tidak ada..

[Rekaman 1 (30:06 – 31:16)]

Thoyib

Jika saja Pembicara (rekaman 1) ini memaksudkan sosok “Mas Ayip” tersebut adalah Ustadz Ayip Syafruddin (salah seorang pengajar Ma’had Daarus Salaf, Sukoharjo Jateng), maka saya khawatir Pembicara (rekaman 1) sedang membuat “isu” sekaligus tuduhan tanpa bukti… Wallahu a’laam

Jujur saja, untuk bisa bertemu dengan “Mas Ayip” yang ini saya harus meluangkan waktu dan biaya… Alhamdulillah, tanpa harus memberatkan diri ternyata “Mas Ayip” telah menuliskan pers release bahwa beliau mengingkari penyebutan nama beliau, dan beliau tidak pernah berhubungan dengan Ustadz Salman Bali membicarakan hal tersebut. Dan Alhamdulillah, Ustadz Salman Bali masih hidup, sehingga silahkan bertanya langsung kepada beliau tentang hal ini. Apakah benar beliau menelpon “Mas Ayip” ataukah “Mas Ayip” yang menelpon beliau? Selesai.

Saya tidak mengetahui lagi, apakah ada sosok “Mas Ayip” lain yang dimaksudkan Pembicara (rekaman 1)? Apalagi penyebutan “Mas” tersebut menyiratkan kedekatan. Entah kedekatan nasab, kedekatan tempat tinggal ataupun kedekatan hubungan (baca: pernah berhubungan). Wallahu a’laam… Saya teringat tentang SMS yang dipublikasikan seseorang yang dicap “sembrono” di dinding facebooknya beberapa waktu lalu. Jika tidak salah, waktu itu Pembicara (rekaman 1) pulalah yang mengirimkan SMS kepada orang yang dicap “sembrono”. Dan tahukah Antum bahwa SMS tersebut adalah isi sms yang terkirim dari nomor hp “Mas Ayip” kepada nomor Pembicara (rekaman 1)?… Wallahu a’laam… Apakah boleh saya gunakan hal ini sebagai hujjah adanya “kedekatan hubungan” tersebut? Saya masih menyimpan bukti akurat tersebut, namun tidak perlu saya tunjukkan.

Seandainya benar Pembicara (rekaman 1) memang pernah berhubungan dengan “Mas Ayip”, bukankah lebih hikmah jika beliau mau melakukan konfirmasi kepada “Mas Ayip”? Toh, Pembicara (rekaman 1) tahu nomor handphone yang digunakan “Mas Ayip”, dan bahkan tahu dimana tempat tinggal beliau. Namun, ternyata beliau kembali terjerembab ke dalam lubang yang sama… Beliau tidak melakukan langkah penting “konfirmasi” : apakah benar, maksudnya bagaimana, atau pertanyaan lain yang intinya tabayun. Justru beliau menyampaikan hal tersebut kepada orang lain, yang belum tentu orang lain tersebut bisa bersikap hikmah, minimalnya faham permasalahan… Sebagaimana dahulu Pembicara (rekaman 1) pernah melakukan langkah kurang bijak dengan mengirimkan isi SMS kepada orang yang dicap “sembrono”. Allahul musta’aan… Cukup sekian…

***

Janji dengan Syaikh ‘Abdullah

“Sampai terakhir kemarin, mereka juga ee.. sudah datang di Jakarta, pun sudah di bandara, dan sudah memberikan informasi : “Kami berlima belas”..ini.. Memberikan informasi, “Kami kurang lebih 15 orang”..ini.. Ini pun juga tidak menemui Syaikh. Ya.. minimalnya menyalami sajalah. Padahal sudah disiapkan kamar, sudah disewakan ya.. disewakan hotel di bandara itu sendiri, karena kemarin.. yang terakhir kemarin ini kami nggak pergi kemana-mana, cuman di bandara saja.. ya.. Di bandara ini sudah ada hotel transit..ya.. Itu sudah disewakan.”

[Rekaman 1 (29:14 – 30:04)]

“Ha.. kemudian dibuat acara lagi.. Undangan..lagi-lagi undangan khusus dari Syai..ee.. Syaikh ‘Abdullah Al-Mar’ie. Dan saya tahu undangan itu ketika di Semarang, ditulis oleh beliau..ya.. dan dikirim. Dan di antara nama pertama yang disebut adalah ee.. Ustadz Luqman, Ustadz Muhammad As-Sewed, dan Ustadz Usamah Mahri. Kemudian supaya mengundang yang lainnya juga..ini.. Ini diharapkan untuk hadir..ya.. Ini undangan dari Syaikh ‘Abdullah Mar’ie. Jadi bukan kita yang mengacarakan..ini.. Panitia hanya sekedar panitia, menyiapkan uborampe..ya.. dan apa yang dimaui oleh Masyaikh..ini..ini.. A..kemudian ee.. hari..tanggal 4 itu kemarin..ya.. Tanggal 4..ya..tiba. Rencananya yang tadinya adalah tanggal..e..tanggal 5, kemudian di..ee..percepat. Ha..ini..sore tanggal..ee.. 4 sorenya. Ini..(tang) hari selasa sore, tanggal 4 itu..ya.. Ini..ee.. rencana mau ada acara dan juga Syaikh ‘Utsman pun juga sudah tahu. Dan mereka juga sudah mengabari ee..bahkan juga sudah diinformasikan ee.. kepada kita waktu itu juga diantaranya (ad) lewat.. ee.. lewat BBM..ya.. itu juga.. maka walhamdulillah Ustadz Qomar dan Ustadz Luqman sudah sampai di Jakarta. Na..ini.. Ada di antaranya informasi itu. Ha.. kemudian ada informasi lagi kami datang dengan ee.. kurang lebih lima belas orang. Dan itu sudah disiapkan ee.. semuanya. Namun, qodarallah wa masya’afa’al.. Menunggu, menunggu sampai ee.. apa namanya e.. sore pun juga nggak datang, kemudian mulai sore itu Syaikh, Syaikh ‘Utsman : Ayo e..datang ke kamar kami (kamar panitia), yuk.. naqro’ syai’an…”

[Rekaman 1 (34:18 – 36:23)]

“Ha.. kemudian, ini yang tidak kita duga.. Malam.. ee.. Syaikh ‘Abdullah pulang, mendarat dari Aceh.. ini ya.. di bandara, kemudian langsung ditemui oleh rombongan ini. Rombongan ustadz-ustadz ini.. Dan diminta atau.. apa.. di.. apa dibawa langsung ke Slipi, di markas mereka biasa mereka ngadakan (ta’) ee.. ta’lim di Jakarta, di Slipi. Kebetulan Slipi juga tempatnya saya tahu, karena itu juga deket dengan rumah Bulik saya, ya..ini.. di belakangnya persis ini… Di e.. jalan Anggrek Nelimurni. Saya juga tahu. Malam itu juga langsung dibawa ke sana. Padahal sedianya itu adalah supaya kumpul bareng-bareng di hotel transit yang sudah disiapkan..ya.. Dan ini hotel mahal.. Bintang Lima.. Semalemnya itu satu kamar satu koma sembilan..ini.. ya..ini..”

[Rekaman 1 (36:56 – 38:06)]

“Ini..ee.. malam itu ketika mendarat ..itu..ya.. langsung dibawa ke sana. Entah diapakan, pulang jam 3 pagi baru pulang. Dan Syaikh dalam kondisi letih.. capek.. ya.. ha.. Dan itu tanpa sepengetahuan kita. Kita ndak tahu.. Ya kita tahunya itu dibawa ke sana, ke Slipi..e..”

[Rekaman 1 (38:29 – 38:55)]

Thoyib

Kembali saya akan ringkaskan, biidznillah… Dan penomoran poin tetap saya lanjutkan.

17. Pembicara (rekaman 1) mengetahui dengan jelas, bahwa ketika di Semarang Syaikh ‘Abdullah Al Mar’ie menulis undangan untuk Asatidzah. Diantaranya kepada Ustadz Luqman, Ustadz Muhammad As-Sewed dan Ustadz Usamah Mahri.

18. Pembicara (rekaman 1) menyadari bahwa undangan tersebut adalah undangan dari Syaikh ‘Abdullah Al Mar’ie, bukan dari Panitia Tabligh Akbar Ulama.

19. Pembicara (rekaman 1) mengetahui bahwa Asatidzah sejumlah kurang lebih 15 orang telah berkumpul di Jakarta.

20. Pembicara (rekaman 1) mengatakan bahwa panitia telah menyiapkan dan menyewakan kamar di hotel transit di bandara.

21. Pembicara (rekaman 1) mengatakan bahwa ketika Syaikh ‘Abdullah tiba di bandara dalam perjalanan pulang dari Aceh, Syaikh ‘Abdullah langsung dibawa ke Slipi oleh Asatidzah.

Fakta yang Terjadi

Fakta-fakta ini pun saya dapatkan dari sumber yang bisa dipercaya (yang tidak tinggal di Jember).

#   Memang benar bahwa Asatidzah telah menerima undangan dari Syaikh ‘Abdullah Al Mar’ie. Namun tidak ada pemberitahuan dari Panitia tentang akomodasi yang telah disiapkan [10].

#   Memang benar bahwa Syaikh ‘Abdullah dibawa ke Slipi oleh Asatidzah (Lihat catatan kaki) [11]. Selesai.

***

Nasihat Emas Masyaikh

“Maka, sampai terakhir pun juga.. ee..ini mungkin sedikit ya.. yang sempat saya catat. Karena kemarin.. ee.. pada tausiyah yang terakhir kemarin.. ini.. tidak boleh ada yang merekam kecuali Ustadz Dzulqarnain saja yang dizinkan untuk merekam. Jadi rekaman ada pada beliau, releasenya dan juga nasihat-nasihatnya itu ada pada beliau.. ya..ini.. Hanya sedikit mungkin yang ee.. saya sempat catat ya.. Dari ee.. tausiyahnya Syaikh ‘Utsman Hafidzahullahu ta’ala.. ee.. eh..ehm.. Beliau.. apa namanya..ee.. menyebutkan..ya.. Pertama, mengingatkan kepada kita tentang ee.. eh..ehm.. permasalahan-permasalahan kaitannya deng.. apa.. dari perkara-perkara yang besar ini. Dimana perkara da’wah itu memang dibutuhkan kepada kesabaran..ini.. Dikatak.. kita boleh mengatakan Ad-da’watu tahtaaju ilash shabr, namanya da’wah ini adalah dibutuhkan kepada kesabaran..ini.. Maka kepada para da’i, ini hendaknya menjauh dari sebab-sebab yang akan menimbulkan perpecahan dan perselisihan. Sebenarnya nasihatnya masyaikh itu juga sama..ini..ini.. Kemudian.. dan khilaf..ini.. atau perselisihan pun juga kadang terjadi di antara para da’i. Namun hendaknya khilaf yang terjadi itu adalah khilaful afham saja, perbedaan dalam pemahaman. Pemahaman-pemahaman fiqhiyah..ya..ini..ini.. Dan kalau kemudian terjadi perbedaan, sekalipun dalam masalah fiqhiyah ini, maka beliaupun mengatakan, “Hendaknya kembali kepada hukum Allah subhaanahu wata’aala.” Kemudian beliau membawakan dalil-dalil dalam masalah ini..ini.., “Fainikhtalaftum bi syai’in fa hukmuuhu ilaallah” ..ya.. Jika kalian berselisih dalam suatu masalah, maka kembalinya adalah kepada hukum Allah.. Dan juga dengan ayat, “Wa intanaaza’tum bi syai’in farudduuhu ilaallahi warrasuul” ..ya..ini.. Kemudian.. ini khilaf ya.. dalam masalah fiqhiyah. Adapun kalau terjadi khilaf dalam masalah tadhad, khilafut tadhad maka harus untuk segera diobati.. ini.. Harus segera dicari solusinya..ini..ini.. Kemudian beliau menyarankan, “Wajib bagi para thalabatul ‘ilm (ya..ini..) untuk dikatakan an yasma’u al masyaaikh, agar mereka mendengar apa kata Masyaikh”..ini.. Karena permasalahan da’wah.. Ketika da’wah itu semakin meluas, maka akan semakin banyak masyakilnya..ini..ya.. Kendala-kendala pasti akan semakin banyak dan juga akan semakin banyak pula terjadi khilaf di antara syabab ya.. di antara yang masih-masih muda ini.. e.. yang masih muda-muda ini..ini.. Kemudian beliau menyebutkan, di antara sebab khilaf itu sendiri adalah aadamu qabuuli kalaamil masyaaikh, tidak mau menerima ucapan Masyaikh..ini.. Bagaimana tidak menerimanya, kata beliau..ini.. haitsu idzaa shadaral kalaam minal masyaaikh (ya..), dimana kalau ada satu pernyataan dari Masyaikh yang tidak sesuai dengan mereka, dengan keinginan mereka..ini.. dzahaba ilaa syaikhin aakhar, maka dia akan pergi kepada Syaikh yang lain lagi..ini..ini.. Ini kata beliau. Maka beliau mengatakan, “Tidak selayaknya ahlus sunnah seperti itu pemahamannya”..ini.. Tidak puas dengan Syaikh ini kemudian ee.. lari kepada Syaikh yang lain..ini.. Ini yang beliau ingatkan..ini.. Kemudian khilaf yang terjadi.. dan beliau juga merujuk kembali kepada apa yang sudah diungkapkan dalam ee.. Daurah Asatidzah juga yang.. apa namanya.. menukil dari perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di Fatawa-nya di juz yang kedua belas, kalau nggak salah kemarin ya.. Tentang masalah khilaf itu tadi. Syaikhul Islam. Beliau merinci di situ..ee.. rincian-rinciannya.. menukil dari perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah..ini.. Ini ee.. di antaranya..”

[Rekaman 1 (41:09 – 46:59)]

“Kemudian setelah itu Syaikh ee.. apa namanya.. Syaikh ‘Utsman memberikan isyarat kepada Syaikh ee.. ‘Abdullah. Dan kemudian Syaikh ‘Abdullah pun melanjutkan..ya.. Tausiyah yang kedua dari beliau..ini.. Dan di antaranya juga beliau.. ee.. menyebutkan dari apa yang dipermasalahkan..ya.. oleh para ustadz ini.. ee.. kaitannya dengan ta’amul dengan turotsyin..ya.. Orang-orang yang masih dengan Ihyaa’u Turats..ini.. Dan ini kemarin juga sudah di.. apa..ee.. dijelaskan yaitu insyaallah ada.. ada rekamannya..ya.. ini.. Bagaimana..ee.. dalam kita bermu’amalah..ya.. Dan tentunya istilahnya tidak gebyah uyah..ya.. Dan juga tidak..e.. tasalsul, mata rantai..ini.. Pokoknya tidak bersikap  kemudian disikapi seperti ini, misalkan ini..ee.. Si A yang menjadi agennya Ihyaa’u Turats..ini.. kemudian ada yang..ee.. mungkin bermu’amalah dengan ini hanya masalah dagang, masalah apa, kemudian ditahdzir atau kemudian dia berhubungan dengan ini dan seterusnya.. dan seterusnya.. Ha..ini.. kata beliau yang seperti ini ya.. ndak bener..ya..ini.. Ndak bener. Kemudian juga..ee..apa namanya.. kaitannya dengan tuduhan-tuduhan hizbiyyah ya..ya..ini juga..ini.. Ee.. demikian pula..e.. beliau juga, Syaikh ‘Utsman juga mengingatkan kaitannya dengan ta’amul dengan ashaabul madaarisil huk..ee..o..ee..ee.. ashaabul madaarisin nidzomiyyah..aa..ini.. mengincarnya kepada kita..ya.. khususnya adalah Al Madinah ini..ya.. Bagaimana ee.. kaitannya  bermuamalah dengan yang punya madrasah-madrasah nidzomiyyah. Ini juga..ee.. beliau jelaskan ya..ini.. Nanti release..apa..ee.. rinciannya insyaallah kita tunggu dari..ee.. terjemahan insyaallah dari Ustadz Dzul..ya.. Insyaallah ini. Ada itu juga..ini..yang mana.. –terdengar seorang bertanya kepada Pembicara (rekaman 1), namun suara tidak jelas– Iya..yang jelas ee.. he..he.. Yang jelas saya juga tidak mencatat secara rinci..ya..ya.. Secara rinci, tapi..ee.. beliau mengatakan bahwasannya ee.. sama seperti, kesimpulannya sama seperti..ee.. fatwanya Syaikh ‘Ubaid sendiri yang Ustadz Luqman sendiri yang nanyakan. Dan rekamannya Ustadz Jauhari masih nyimpan..ya.. Dulu sudah saya..apa ee.. saya terjemahkan..itu.. Waktu hasil ‘umrahnya Ustadz Luqman..ya..itu.. Itu dapat waktu Daurah di Jogja..ya di Veteran itu. Kita dapet kopiannya.”

[Rekaman 1 (47:32 – 50:58)]

“Aa.. itu di antaranya juga bahwa..ee.. Syaikh ‘Ubaid pun mengatakan, bahkan Syaikh mengatakan, “Kalau ada ikhwah, yang anaknya disekolahkan di sekolah negeri..ya jangan ditahdzir”..ini..jangan..ini.. Karena waqi’nya juga beda..ini.. Dan termasuk juga, Syaikh ‘Utsman pun juga tidak jauh beda seperti itu..ya.. Kaitannya dengan masalah ashab..ee.. madarisun nidzom..ee.. nidzomiyyah ini pun juga, tidak bisa..ini.. sembrono seperti itu..ya..ini.. Maka ini..ee..apa namanya.. dan eh ehm.. ee.. Syaikh ‘Abdullah sendiri di markasnya juga membuat madrasah nidzomiyyah..ini.. Bahkan eeb..ee.. Syaikh ‘Utsman ini pun juga mengatakan, “Semestinya bersyukur, kalian yang tinggal di Indonesia ini hendaknya bersyukur”. Karena banyak kemudahan-kemudahan dari Pemerintah (ya..) diberikan kepada kita. Sementara di negeri yang lain, ini ndak ada yang seperti ini. Hatta di Yaman juga ndak ada. Untuk membuat istilahnya sekolah sendiri, sampai ujian sendiri ndak ada. Paling banter mereka ya.. intisab..ini.. artinya nginduk saja..ya.. intisab saja.. Ya..ini.. untuk kemudian mereka membuat sekolah sendiri yang ini..ndak bisa. Maka kata beliau pun juga..ee.. harus bersyukur. Hanya kemudian mestinya kita juga..ee.. tetap dengan menjaga ya.. kredibilitas da’wah Salafiyyah..ya.. Dan juga ee..tetap menjaga ee..muru’ah..ya.. dan juga harga diri kita..ini.. Ini ketika bermu’amalah dengan orang-orang ee..seper..ee..orang-orang pemerintahan..ini..”

[Rekaman 1 (51:19 – 53:21)]

Saya ringkaskan kembali poin-poin penting dari bab ini :

22. Pembicara (rekaman 1) menyampaikan bahwa pada tausiyyah terakhir, hanya Ustadz Dzulqarnain saja yang diijinkan merekam.

23. Di antara nasihat Syaikh ‘Utsman antara lain : dibutuhkannya kesabaran dalam da’wah. Sehingga hendaknya para da’i menjauh dari sebab-sebab yang menimbulkan perpecahan dan perselisihan.

24. Pembicara (rekaman 1) faham bahwa perselisihan bisa terjadi di antara para da’i, dan faham bahwa perselisihan tersebut hendaknya adalah khilaful afham, perbedaan dalam memahami masalah fiqhiyyah saja.

25. Pembicara (rekaman 1) faham bahwa perselisihan yang berupa khilafut tadhad harus segera dicari solusinya. Dan Syaikh ‘Utsman memberikan jalan keluar “Wajib bagi para thalabatul ‘ilm untuk an yasma’u al masyaaikh, agar mereka mendengar apa kata Masyaikh”.

26. Pembicara (rekaman 1) menyebutkan bahwa Syaikh ‘Utsman mengingatkan di antara sebab perselisihan adalah tidak mau menerima ucapan Masyaikh (aadamu qabuuli kalaamil masyaaikh). Jika ada satu pernyataan dari Masyaikh yang tidak sesuai dengan keinginan mereka, maka dia akan pergi kepada Syaikh yang lain (Haitsu idzaa shadaral kalaam minal masyaaikh, dzahaba ilaa syaikhin aakhar).

27. Pembicara (rekaman 1) menyebutkan bahwa Syaikh ‘Abdullah menyebutkan hal-hal yang dipermasalahkan Asatidzah, antara lain : ta’amul dengan turotsiyyin, tuduhan hizbiyyah.

28. Pembicara (rekaman 1) menyebutkan bahwa Syaikh ‘Utsman mengingatkan tentang ta’amul dengan ashaabul madaarisin nidzomiyyah. Dan Pembicara (rekaman 1) menyimpulkan bahwa perkataan Syaikh ‘Utsman sama dengan fatwa Syaikh ‘Ubaid (atas pertanyaan Ustadz Luqman sewaktu Daurah di Veteran) tentang anak ikhwah yang disekolahkan di sekolah negeri.

Masyaallah… Sungguh nasihat yang indah di atas ilmu dan bashirah. Semoga Allah menjaga beliau berdua.. Amin.

Thoyib

#   Lihat ringkasan poin 23. Ini adalah nasihat yang sama dengan nasihat agung dari Masyaikh lain : hendaknya para da’i menjauh dari sebab-sebab yang menimbulkan perpecahan dan perselisihan. Kita tidak bisa menutup mata atas adanya perselisihan ini… Semoga Allah memberikan taufiqNya kepada kita untuk bisa melihat dengan jernih apa yang menjadi permasalahan, sebab munculnya dan bagaimana jalan keluarnya.. Amin. Kita pun tidak menutup mata atas jasa dan perhatian Masyaikh yang besar terhadap penyelesaian permasalahan di antara du’at Indonesia [12].

#   Tentang Madaarisin Nidzomiyyah, lihat ringkasan poin 28. Memang benar, bahwa tidak ada kemudahan yang diberikan pemerintah negeri lain sebagaimana kemudahan yang diberikan Pemerintah kita. Maka kitapun bersyukur dengan nikmat ini.

      Namun, saya khawatir Syaikh tidak memperoleh gambaran yang utuh tentang model pendidikan yang ada di Indonesia, khususnya model sekolah yang mereka selenggarakan. Hal ini nampak dari penyampaian Pembicara (rekaman 1) :

“Untuk membuat istilahnya sekolah sendiri, sampai ujian sendiri ndak ada. Paling banter mereka ya.. intisab..ini.. artinya nginduk saja..ya.. intisab saja.. Ya..ini.. untuk kemudian mereka membuat sekolah sendiri yang ini..ndak bisa”

          Apakah yang dimaksudkan dengan ‘membuat sekolah sendiri’ dan ‘ujian sendiri’? Membuat sekolah sendiri : apakah mendirikan fisik bangunan sekolah, ataukah menyusun kurikulum pendidikan?

      Ujian sendiri : apakah melaksanakan jadwal ujian yang ditetapkan Pemerintah dengan soal-soal dari Pemerintah, atau sekedar membuat soal Ulangan Harian, ataukah menyelenggarakan Ujian mandiri yang output hasil ujian tersebut diakui oleh Pemerintah?

      Maka saya katakan, saya khawatir Syaikh tidak memperoleh gambaran yang utuh tentang model pendidikan yang ada di Indonesia, khususnya model sekolah yang mereka selenggarakan. Jika kita pertemukan data ini dengan data rekaman 2, maka kita akan temui bahwa yang ditunjukkan kepada Syaikh adalah model pendidikan mereka yang menginduk kepada Kurikulum Pendidikan Nasional. Jika yang mereka maksudkan ‘membuat sekolah sendiri’ dan ‘ujian sendiri’ adalah mendirikan fisik bangunan sekolah dan melaksanakan jadwal ujian yang ditetapkan Pemerintah dengan soal-soal dari Pemerintah (atau sekedar membuat soal Ulangan Harian) maka ini adalah hal yang wajar di negeri kita untuk sekolah Swasta. Namun, jika yang mereka maksudkan adalah Menyusun Kurikulum dan Menyelenggarakan Ujian Mandiri, maka… sebentar ya ikhwah… Kita harus perjelas tentang hal ini.

      Fatwa Syaikh ‘Ubaid (yang ditanyakan Ustadz Luqman pada Daurah di Veteran) pun dalam hal ini tidak bisa dijadikan sandaran untuk menentukan hukum dalam masalah pendidikan di Indonesia. Wallahu a’laam… Sama sekali ini bukan bentuk perendahan terhadap beliau. Sangat mungkin, gambaran yang sampai kepada beliau pun belum lengkap. Menukil redaksi yang digunakan Pembicara (rekaman 1) :

“Kalau ada ikhwah, yang anaknya disekolahkan di sekolah negeri..ya jangan ditahdzir”

          Apakah negeri kita sama dengan negeri Saudi? Tentu tidak. Apakah dasar negara kita sama dengan dasar negara Saudi? Tentu tidak, negeri Saudi berdasarkan Tauhid maka pendidikannya pun di atas dasar Tauhid. Sedangkan negeri kita berdasar Pancasila, dan pendidikannya pun menekankan antara lain : Bagaimana bersikap toleransi terhadap Agama Lain. Maka, sangat mungkin fatwa Syaikh ‘Ubaid hafidzohullah tersebut terucap karena beliau memiliki gambaran tentang negeri Saudi. Wallahu a’laam…

      ***

Orang-orang di Balik Layar

 Di Jakarta saya lihat ya.. habis jum’atan selesai turun dari mimbar.. e.. selesai jum’atan itu.. menemui syaikh, menyalami syaikh. Kemudian ketika datang ke rumah juga ke tempatnya pak Mustaqim ini… Juga menemui, kemudian syaikh masuk. Kemudian duduk di depan saja.. Ndak ada pertemuan. Kemudian ketika di I’tishom juga datang lagi.. ini..”

[Rekaman 1 (13:01 – 13:31)]

Siapakah Pak Mustaqim? Dalam rekaman yang sama, Pembicara (rekaman 1) memperjelas bahwa di tempatnya Pak Mustaqim inilah Syaikh ‘Utsman menginap (ketika baru saja tiba di Indonesia). Dan di tempat Pak Mustaqim jugalah Ustadz Dzulqarnain dan Pembicara (rekaman 1) mengatur jadwal Syaikh pada hari Jum’at tanggal 24 Mei 2013.

Dari sumber yang bisa dipercaya dan pernah bertemu muka langsung dengan Pak Mustaqim, saya dapatkan gambaran sosok Pak Mustaqim. Dia seorang yang berbadan tinggi besar dan berambut pendek. Seorang pengusaha kaya yang memiliki usaha bisnis di Tanah Abang dan banyak membantu Asatidzah yang bersama Ustadz Dzulqarnain. Jika ada Asatidzah dari luar Jakarta, maka rumahnya sering digunakan untuk istirahat. Namun sayang, ikhwah tersebut pernah berbincang-bincang dengan Pak Mustaqim di sebuah rumah makan di Tasik, dan keluar dari lisannya celaan terhadap Ustadz Usamah Mahri. Ketika itu ikhwah tersebut tidak langsung mengingkarinya, karena melihat banyak perkara manhaj yang belum difahami Pak Mustaqim. Akhirnya, ikhwah tersebut bisa menilai bahwa Pak Mustaqim ini termasuk orang yang terfitnah dengan Radio Rodja. Bahkan bergaul dengan baik dengan kru Insan TV yang berkunjung ke rumahnya.

insan tv

Gambar 3. Perhatikan siapa pengisi Jadwal Siaran di Insan TV.

Di Semarang, penyelenggara acara Daurah ini adalah Caleg dari sebuah Partai Politik berlambangkan kepala banteng. Dalam edaran Undangan Resmi Daurah, tertera nama dan tanda tangan Panitia yang merupakan seorang Calon Legislatif dari partai

pamflet tablig akbar_resize

Gambar 4. Pamflet Tabligh Akbar Nasional, informasi 081393049000

Di Karanganyar, acara ini didukung oleh salah seorang panitia yang dari dulu hingga sekarang masih setia dengan usahanya. Beliau menjual alat-alat peraga mengajar (termasuk miniatur Gereja lengkap dengan salibnya), dan buku-buku cerita umum yang sebagiannya penuh khurafat.

hotline

Gambar 5. Screenshot nomor hotline Putri Cinderella pondokedukatif.com

dagangan..._resize

Gambar 6. Pengampu situs pondokedukatif (perhatikan dagangan na’udzubillah yang dijajakannya) adalah pendukung resmi acara sesuai yang tertera pada pamflet yang disebarluaskan dan ditempelkan dimana-mana.

Silakan diperhatikan bahwa data-data di atas telah lama diarsipkan yakni pada Rabu, 8 Mei 2013.

Wallahu a’laam… Saya harus sampaikan hal ini karena oleh-oleh dauroh telah secara resmi disebarluaskan dan bahkan digunakan oleh hizbiyin Halabiyin untuk menyerang Salafiyin dan mengelabui umat, inilah kenyataan yang ada.

***

Selesai Episode 1 : Bingkisan Syawal bagi yang Tak Tahu Hal Ihwal.
Ditulis oleh : Abul Mubarok.

Hamba yang lemah ini sungguh berharap semoga tulisan ini hanyalah amalan kecil yang berbuah barakah. Sungguh saya berdoa dan berharap, semoga Allah memperbaiki sikap perilaku kita semua, sehingga istiqomah di atas manhaj yang haq. Amin.

Catatan Kaki:

[1]Kemungkinan besar, Pembicara (rekaman 1) memaksudkan tanggal 7 dan 8 adalah pada Juni 2013.

[2]Email tersebut adalah email lama yang jarang digunakan. Entah hal apa yang mendorong Panitia Tabligh Akbar Ulama menggunakan alamat email tersebut sebagai tujuan pengiriman surat khusus dari Syaikh ‘Utsman yang sangat urgen. Padahal, Panitia Tabligh Akbar ‘Ulama bisa mendapatkan alamat email yang lebih jelas, lebih sering dan lebih aktif digunakan semisal email majalah Asy Syari’ah, atau alternatif lain misalnya dengan menelpon salah seorang ikhwah yang bertugas di majalah tersebut (Catatan : perlu antum ketahui, Ustadz Luqman masih aktif menjadi penasihat untuk majalah tersebut). Bahkan untuk “urusan menggunakan fasilitas telpon”, sebenarnya dalam kesempatan sebelumnya (23 Mei 2013) Panitia Tabligh Akbar ‘Ulama telah mengirim SMS yang ditujuan ke nomor handphone salah seorang ikhwah di Jember yang berisi undangan untuk menghadiri daurah Masyaikh  di Depok, sekaligus tawaran kunjungan Syaikh ‘Utsman As-Salimi ke Ma’had As-Salafy Jember. Perlu antum ketahui, nomor handphone tersebut adalah nomor telepon yang tercantum di situs resmi Ma’had As-Salafy Jember. Bukankah Panitia Tabligh Akbar ‘Ulama bisa bertanya melalui nomor handphone tersebut, email manakah yang digunakan dan aktif agar bisa segera  menyampaikan surat khusus dan urgen dari Syaikh ‘Utsman? Atau (bahkan) mengapa tidak menelepon atau SMS langsung kepada Ustadz Luqman, setidaknya untuk memberitahukan bahwa Panitia Tabligh Akbar ‘Ulama telah mengirim surat undangan via alamat email tersebut?

[3]Lihat ringkasan poin 5. Pembicara (rekaman 1) mengatakan bahwa undangan baru ada jawaban hari Selasa (28 Mei 2013). Jika pernyataan tersebut adalah sekedar salah ucap Pembicara (rekaman 1), maka mungkin hal tersebut tidak masalah. Namun jika hal tersebut terucap lantaran Pembicara (rekaman 1) tidak mengetahui bahwa surat balasan dari Ustadz Luqman telah diterima Syaikh ‘Utsman pada hari Senin (27 Mei 2013), maka kenyataan ini menunjukkan bahwa sebenarnya Pembicara (rekaman 1) tidak tahu permasalahan, namun sayang beliau terlalu berani berbicara. Entah bagaimana bisa Pembicara (rekaman 1) tersebut (ternyata) tidak tahu permasalahan… Allahul musta’aan.. Apalagi Pembicara (rekaman 1) memberikan penegasan  “ketika Syaikh mau berangkat ke Makassar” dan ”Daurah Asatidzah sudah selesai”,  sehingga hal ini makin menunjukkan kesalahan dan ketidaktahuan Pembicara (rekaman 1)…

[4]     Surat tersebut dikirim pada tanggal 23 Mei 2013 sore hari, tidak seperti yang disampaikan Pembicara (rekaman 1) bahwa surat tersebut dikirimkan pada tanggal 24 Mei 2013.

[5]     Juga antum harus ketahui, bahwa sebelum surat yang ditujukan kepada Mudir Ma’had As-Salafy Jember tiba, pada tanggal 23 Mei 2013 Panitia Tabligh Akbar Ulama telah mengirimkan SMS yang isinya tawaran kunjungan Syaikh ‘Utsman As-Salimi ke Ma’had As-Salafy Jember.

[6]Pada ringkasan poin 5, telah saya sampaikan bahwa Pembicara (rekaman 1) menyatakan bahwa undangan yang dikirimkan hari Jum’at (24 Mei 2013), baru ada jawaban pada hari Selasa (28 Mei 2013) ketika Syaikh ‘Utsman hendak berangkat ke Makassar. Nampaknya Pembicara (rekaman 1) tidak berupaya merinci balasan tersebut atas Surat yang Khusus ataukah Umum. Karena dalam kronologi yang saya sampaikan kepada antum, jelas bahwa balasan untuk Surat yang Khusus adalah pada sore hari Ahad (26 Mei 2013), sedangkan balasan atas Surat yang Umum pada hari Senin (27 Mei 2013). Sebagai akibat tidak adanya rincian ini, sangat memungkinkan adanya pendiskreditan diri Ustadz Luqman oleh pendengar maupun pembaca. Wallahu a’laam… Jika Pembicara (rekaman 1) memaksudkan “baru ada jawaban pada hari Selasa” adalah untuk Surat yang Khusus (Lihat ringkasan poin 11, Pembicara (rekaman 1) mengatakan bahwa Ikhwah di Jember belum memberikan jawaban atas tawaran (alokasi waktu Syaikh, tamb.penulis) tanggal 7 dan 8 (Juni 2013, penulis), maka saya khawatir Pembicara (rekaman 1) terjatuh dalam kedustaan. Semoga hal ini tidak benar… Kenyataannya, “Ikhwah di Jember” selaku Mudir Ma’had As-Salafy telah memberikan balasan penawaran (baca: Surat yang Umum, karena tidak ada surat lagi selain kedua surat tersebut) dari Panitia Tabligh Akbar ‘Ulama. Dan yang lebih disayangkan lagi adalah sebagian pernyataan Pembicara (rekaman 1) bertentangan dengan kenyataan korespondensi (baca: kesepakatan) antara Asatidzah dan Panitia, baik via email, telpon, maupun SMS. Apakah Pembicara (rekaman 1) sebagai panitia tidak mengetahui kesepakatan-kesepakatan tersebut? Tentu ini sangat disayangkan sekali… Ataukah tidak ada kesinkronan antar panitia? Tentu ini sangat menyedihkan… Ataukah beliau berdusta? Wallahu a’laam

[7]Silahkan antum lihat ringkasan poin 10. Apakah antum melihat kedua perbedaan ini? Apakah ini hanya isu?

[8]Antum lihat ringkasan poin 6. Saat itu posisi Syaikh ‘Utsman sudah di Yogyakarta, kemungkinan sudah berada di Kaliurang. Wallahu a’laam

[9]Banyak hal yang sangat disayangkan terjadi, terkait isi SMS ini : (1) Dalam SMS sebelumnya, Panitia menyatakan waktu yang diberikan Syaikh ‘Utsman antara pukul 09.00 hingga pukul 10.00. Sangat menyedihkan bila agenda pertemuan sepenting itu terlewat begitu saja tanpa ada persiapan dari Panitia untuk mengantisipasi. Apalagi dengan alasan yang mengagumkan : panitia “baru bangun tidur”. (2) Sebenarnya telah ada kesepakatan tempat pertemuan pada penelponan sebelumnya. Sementara rencana pertemuan di Solo adalah usulan yang belum ada kesepakatan. Hal yang aneh, sesuatu yang telah disepakati tidak diwujudkan, lalu memutuskan secara sepihak opsi yang belum ada kesepakatan. (3) Kalaulah kegagalan pertemuan itu disebabkan oleh minimnya Kepanitiaan Yogyakarta (yang disebutkan oleh Pembicara (rekaman 1) hanya 3 orang), bukankah Asatidzah telah memberikan opsi untuk menjemput Syaikh? Bukankah hal ini pula yang diharapkan : suasana penuh kekeluargaan dan kerja sama yang baik antar Ahlus Sunnah? Kendati ada kendala penyediaan tempat karena minimnya dana, tentu hal ini teratasi (biidznillah), karena pihak Ma’had Al Anshar telah siap sebagai tuan rumah. (4) Namun, jika kegagalan pertemuan tersebut memang sudah direncanakan (sebagaimana yang disampaikan Pembicara (rekaman 1) – lihat ringkasan poin 12. Tentu ini ajaib… Apalagi ditambah pers release Syaikh ‘Utsman yang dikisahkan Pembicara (rekaman 1) – lihat ringkasan poin 11. Apakah saya bermaksud mendustakan beliau, Syaikh ‘Utsman yang telah Allah muliakan dengan ilmu? Alhamdulillah, tidak! Justru saya khawatir Panitia tidak amanah, baik kepada Syaikh maupun kepada Asatidzah… Apakah ini isu? Silahkan buka kejujuran hati antum… Wallahu a’laam.. (5) Lihat ringkasan poin 16. Ketidakhadiran Asatidzah di Solo bisa dimaklumi. Pertama, memang tidak ada kesepakatan tentang pertemuan di Solo. Kedua, sebagian Asatidzah telah kembali ke daerah masing-masing sehari sebelumnya.

[10]Kenyataannya, tidak ada pemberitahuan dari Panitia tentang akomodasi yang telah disiapkan (termasuk kamar di hotel transit Bintang Lima di bandara), sementara Asatidzah dalam keadaan safar, sehingga wajar Asatidzah memang tidak berkumpul di bandara tersebut.

[11]Lihat ringkasan poin 18, bahwa undangan tersebut adalah undangan dari Syaikh ‘Abdullah Al Mar’ie dan sama sekali bukan dari Panitia Tabligh Akbar Ulama. Oleh karena itu, sejak Syaikh ‘Abdullah Al Mar’ie masih berada di Aceh, Asatidzah telah menghubungi beliau langsung dalam dua kali peneleponan. Sehingga, ketika di bandara (Jakarta) Syaikh ‘Abdullah telah faham dengan Asatidzah untuk dibawa ke Slipi. Tentang isi pembicaraan di Slipi, saya membatasi diri untuk tidak membicarakan hal tersebut. Saya berusaha menyadari kapasitas diri saya, Alhamdulillah.. Jika saya sampaikan hal tersebut dan ternyata akibatnya hanya menimpa diri saya, maka hal tersebut masih lebih bagus. Sehingga, bagi saya lebih utama untuk menjaga dan memuliakan diri Syaikh, wallahu a’laamInsyaallah akan saya nukilkan sedikit kisah tentang Pembicara (rekaman 2) [tulisan Episode 2] yang sedang menceritakan keadaan Syaikh, dan silahkan siapkan penilaian antum…

[12]Nampaknya sebagian permasalahan tersebut telah disinggung oleh Syaikh ‘Abdullah. Lihat ringkasan poin 27. Tentu tidak ilmiah dan dewasa, jika kita mengatakan perkataan semacam: “Jika tidak ada yang mempermasalahkan, maka tidak akan jadi masalah”. Sementara di sisi lain, hal-hal tersebut adalah hal-hal pokok dalam kancah da’wah Ahlus Sunnah. Tentang ta’amul dengan Turotsiyyin, Pembicara (rekaman 1) menyampaikan kaidah ‘yang agung’ : tidak gebyah uyah dan tidak tasalsul (mata rantai). Namun sayang sungguh disayang.. Ada kaidah ‘agung’ yang terlupa oleh Pembicara (rekaman 1) ini yakni : adanya Penjelasan. Umat butuh penjelasan, sehingga kaidah gebyah uyah dan tasalsul tadi menjadi sempurna. Jika boleh saya bertanya, apakah telah ada penjelasan siapa saja Turatsiyyin (oleh Pembicara (rekaman 1) diterjemahkan sebagai ‘Orang-orang yang masih dengan Ihyaa’u Turats)? Apakah Ustadz Badrussalaam, Ustadz Firanda, ataukah Ustadz Yazid  Jawwas, atau yang lainnya? Umat butuh penjelasan dengan siapa sajakah kita bisa berhubungan? Apakah dengan Ustadz Badrussalaam, Ustadz Firanda, Ustadz Yazid  Jawwas, atau yang lainnya? Umat pun butuh penjelasan apakah orang yang kedudukannya sebagai ustadz (yang melalui perantara dirinya ilmu diambil dan amalan akan dicontoh oleh umat) boleh dan syar’i berhubungan dengan mereka? Lantas umat pun butuh penjelasan, mu’malah yang bagaimana yang syar’i dilakukan dengan mereka? Walllahu a’laam. Selanjutnya, apakah permasalahan ta’amul dengan Turatsiyyin ini termasuk dalam lingkup permasalahan perbedaan pemahaman fiqhiyyah belaka ataukah ini manhaji? Jika mereka (Ustadz Badrussalaam, Ustadz Firanda, Ustadz Yazid  Jawwas, atau yang selainnya) adalah ‘Salafy Murni’, atas dasar apakah kita katakan dan saksikan hal itu? Sementara kita tidak bisa menutup mata dan telinga, bahwa mereka menjalin hubungan mesra dengan orang semacam Ali Hasan Al Halaby. Bahkan mereka gencar mempromosikan Ali Hasan Al Halaby di tengah-tengah umat, dan membelanya dengan penuh semangat ashobiyah ketika Ahlus Sunnah mengkritisinya. Walllahu a’laam. Tentang Tuduhan Hizbiyyah. Kembali sangat disayangkan… Tidak ada penjelasan dalam rekaman tersebut tentang hal ini. Apakah tuduhan tersebut dilayangkan kepada Asatidzah Ahlus Sunnah oleh da’i sunnah juga? Ataukah benar-benar ditujukan kepada hizbiyyin? Maka, saya sampaikan, “Mari kita tunggu hasil rekaman Nasihat Masyaikh yang ‘hanya boleh’ direkam oleh Ustadz Dzulqarnain saja.” Kita tunggu hasil terjemahan beliau, sekaligus rekaman aslinya… Wallahu a’laam…

     Sebenarnya pun tentang “sebab-sebab yang menimbulkan perselisihan dan perpecahan” ini telah dibawa ke hadapan Yang Mulia Asy Syaikh Rabi’ ibn Hadi Hafidzohullah. Saat itu duduk di hadapan beliau, Asatidzah dari kedua belah pihak. Di antara poin-poin pembicaraan adalah tentang Radio Rodja, Yazid Jawwas, Firanda, Ali Musri, Abu Ihsan, dll serta Ja’far ‘Umar Tholib. Bukankah hasil pembicaraan tersebut telah jelas? Lihat ringkasan poin 25 dan 26. Lantas, siapakah sebenarnya yang karena ‘tidak puas dengan penjelasan seorang syaikh, datang kepada syaikh lainnya‘? Siapakah yang menanyakan kepada Syaikh Muhammad Al Imam tentang Radio Rodja (yang sebenarnya sudah dijawab tuntas oleh Asy Syaikh Rabie’, bahwa Radio Rodja adalah radio hizbiyyin dan melarang Salafiyyin untuk mendengarkannya)? Entah apa yang mendorong mereka melakukan hal ini. Wallahu a’laam…  Silahkan buka pintu kejujuran di hati antum…

sumber :http://tukpencarialhaq.com/2013/08/21/bingkisan-syawal-bagi-yang-tak-tahu-hal-ihwal-episode-1/

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s