Beranda » Manhaj » Ustadz (Qila wa Qol) itu bertaubat dan mengakui kedustaan teman temannya

Ustadz (Qila wa Qol) itu bertaubat dan mengakui kedustaan teman temannya

sofyan-rurary-akui-kedustaan-kafilah-dzulqarnainSesungguhnya, diantara kejujuran orang ini dalam pernyataan taubatnya “yang ber-ekor” (akan ada insya Allah penjelasannya) adalah pengakuannya secara ”tersembunyi” (dan tulisan ini merupakan upaya untuk menyingkap suatu bentuk kehalusan adabnya dalam melindungi para pendusta – bukankah adab ini yang dia tuntut terhadap situs tukpencarialhaq dan atsarsunnah??! – ) bahwa Al Ustadz Abdul Mu’thi dkk. yang tergabung dalam kafilah Al Ustadz Dzulqarnain adalah para pendusta!!

Simak pernyataannya di bawah ini:

siapa yang dusta wahai sofyan..

Gambar 1. Screenshot salah satu point taubat ber-ekornya Sofyan Ruray.

Ada beberapa catatan terkait pernyataannya di atas:

Pertama,

tulisannya: “Sebagai bukti kami tidak menikam Asy-Syaikh Robi’ hafizhahullah jelas sekali terdapat dalam penafikan kami terhadap penisbatan ucapan tersebut terhadap beliau hafizhahullah”

Komentar: Taruhlah yang mengucapkannya bukan Asy Syaikh Rabi’, apakah hal itu menjadikan benarnya pemahaman rusakmu?

“Kemudian…masalah Ja’far Umar Thalib. Sampai kepada saya sebuah ucapan bahwasanya Syaikh Rabi’ mengatakan …tentang Ja’far Umar Thalib..nashahtu..nashahtu ..saya telah menasehatinya, saya telah menasehatinya..tidak ada harapan lagi, tidak ada harapan lagi atau kalimat yang semisal itu. Ini saya katakan sangat disayangkan sekali disampaikan kepada khalayak umum apalagi pendengar radio …sebab ini ucapan yang mengandung kebatilan …mengandung penyimpangan didalam masalah aqidah..”

Jika orang awam memahaminya keliru (dalam permasalahan yang lainpun tidak tertutup kemungkinan mereka juga keliru dalam memahami persoalan yang ada), bukankah menjadi kewajibanmu sebagai orang yang dipanggil dengan sebutan ustadz untuk meluruskannya? Dan bukannya malah sebaliknya, mendukung pemahaman yang salah dari orang-orang yang awam serta menguatkan pemahaman mereka yang salah tersebut dengan dalil-dalil dari Al Kitab dan Sunnah!! Demikiankah keteladanan sikap orang yang berilmu yang dielu-elukan sebagai murid ulama besar Ahlussunnah, Asy Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad?!

Firman Allah Ta’ala:

حَتَّى إِذَا اسْتَيْئَسَ الرُّسُلُ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ قَدْ كُذِبُوا جَاءَهُمْ نَصْرُنَا فَنُجِّيَ مَنْ نَشَاءُ وَلا يُرَدُّ بَأْسُنَا عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ (١١٠)

“Sehingga apabila para Rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para Rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami dari pada orang-orang yang berdosa.” (QS. Yusuf 110)

Semoga Allah merahmati salah seorang salaf yang mengatakan:

إِذَا رَأَيْت الشَّابَّ أَوَّلَ مَا يَنْشَأُ مَعَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ فَأَرْجِهْ وَإِذَا رَأَيْته مَعَ أَهْلِ الْبِدَع فَايئَسْ مِنْهُ فَإِنَّ الشَّابَّ عَلَى أَوَّلِ نُشُوئِهِ.

“Jika engkau melihat seorang pemuda di awal pertumbuhannya dia bersama Ahlus Sunnah maka harapkanlah kebaikannya, dan jika engkau melihatnya bersama ahli bid’ah maka putuslah harapanmu dari kebaikannya, karena sesungguhnya seorang pemuda itu sangat dipengaruhi oleh awal masa pertumbuhannya.”

Atsar ini disebutkan oleh Ibnu Muflih di dalam Al-Adab Asy-Syar’iyyah (3/577 –pent) dari Al-Imam Ahmad dan disebutkan oleh Ibnu Baththah (Al-Ibanah Ash-Shughra hal. 133 no. 92 –pent) dari Amr bin Qais Al-Mula’i.

Pernyataan di atas bukanlah ucapan Asy Syaikh Rabi’ wahai Sofyan dan sekarang bandingkan dengan ucapanmu:

“..tidak ada harapan lagi, tidak ada harapan lagi atau kalimat yang semisal itu… sebab ini ucapan yang mengandung kebatilan …mengandung penyimpangan didalam masalah aqidah….. Kalau kemudian kita memahami (maksudnya dirinya, bukan Ahlussunnah yang mengikuti pemahaman salaful Ummah-pen.) bahwa ucapan tersebut Allah tidak mungkin mengampuni Ja’far Umar Thalib maka ini ucapan berbahaya…sehingga kita harus memiliki pengharapan kepada Allah, jangan dikatakan tidak ada harapan lagi.…”

Jadi, pernyataan taubatmu bahwa engkau membawa “bukti” TIDAK MENIKAM ASY SYAIKH RABI’(!!!) dalam keadaan para ikhwah bisa dengan mudah mendengarkan suara vonis batilmu yang menggelegar dengan dasar berita dusta dari pendusta justru adalah bukti bahwa engkau masih terus berkeras kepala dan berhilah secara licik pula.

Kalaupun engkau masih tetap bersikukuh mengingkari tidak melakukan tikaman terhadap kehormatan Asy Syaikh Rabi’ (padahal Asy Syaikh benar-benar telah mengucapkannya!) apakah dirimu bisa mengelak bahwa ucapanmu itu (“..tidak ada harapan lagi, tidak ada harapan lagi atau kalimat yang semisal itu… sebab ini ucapan yang mengandung kebatilan …mengandung penyimpangan didalam masalah aqidah….. “) tertuju pula kepada Al Qur’an, para Rasul dan salafuna shalih seperti halnya yang termaktub di dalam Kitabullah dan atsar salaful ummah sebagaimana telah lalu penjelasannya?!!

Bukankah dirimu yang mengibarkan tinggi-tinggi bendera BAWALAH PERKATAAN SAUDARAMU KEPADA MAKNA YANG BENAR?? Ataukah kaidahmu ini hanya hanya engkau buat khusus untuk melindungi Karma Islaminya Al Ustadz Dzulqarnain, adapun terhadap kalam ulama, Asy Syaikh Rabi’ , terlebih ayatul Qur’an, atsar Salafush shalih maka kaidah ini tidak lagi berlaku dan sebagai gantinya adalah vonis ngawur lagi bahlul  ini ucapan yang mengandung kebatilan …mengandung penyimpangan di dalam masalah aqidah ???

Dan setelah itu semua,  masih pula engkau memberi embel-embel taubatmu dengan menuntut & mengajari tukpencarialhaq & atsarsunnah agar memiliki adab terhadap para da’i yang menyebarluaskan secara terbuka penyimpangannya wahai Sofyan?

Bagaimana engkau hendak membungkam bantahan-bantahan terhadap syubhat dan penyimpangan-penyimpangan mereka dengan alasan bantahan tersebut tidak adab?? Bukankah menyimpang itu sendiri, melemparkan syubhat dan kerancuan ke tengah-tengah umat adalah bukti rendahnya adab terhadap syari’at yang mulia ini? Bahkan yang wajib bagi dirimu adalah menyuruh mereka untuk memperbaiki adabnya terhadap Islam dan kaum muslimin, berhenti, rujuk dan bertaubat dari penyimpangan-penyimpangannya!! Duhai…dimana kejujuran?

Jadi lepas berasal dari siapapun yang mengucapkannya, tidak bisa bagi dirimu untuk mengelak bahwa ucapan, pemahaman dan vonismulah yang rusak, bathil dan menyesatkan.

Lalu dimana kami bisa mendapatkan taubatmu dari kelancangan yang sedemikian melampaui batas?

Kedua,

Secara tersembunyi Sofyan Ruray telah mengakui bahwa berita yang dia dapatkan dari kafilah Al Ustadz Dzulqarnain dalam jalsah Mekah yang mengingkari ucapan Syaikh Rabi’ “Aku telah menasehatinya, aku telah menasehatinya, aku telah menasehatinya, dan aku tidak berharap lagi.” adalah berita dusta!!

Untuk lebih jelasnya, siapa yang dimaksud berdusta oleh Sofyan Ruray:

“Sebelum itu saya katakan…. saya telah berusaha untuk bertanya kepada asatizah yang hadir dalam pertemuan bersama Syaikh Rabi’, apakah Syaikh Rabi’ mengucapkan ucapan tersebut tidak ada harapan lagi. Semua ustadz yang berhasil saya hubungi mengatakan tidak ada ucapan seperti itu…tiak ada ucapan seperti itu. Bahkan Ustadz yang memiliki rekaman yang nanti akan kita dengar insya Allahu Ta’ala akan dikirim ke saya, namun sampai saya berbicara di sini belum dikirim. Langsung mau dengarkan insya Allah kalau sudah dikirim saya perdengarkan. Ustadz tersebut yaitu ustadz Abdul Mu’thi…Abdul Mu’thi Jogja.. mengatakan tidak ada ucapan seperti itu. Tidak ada ucapan seperti itu dari Syaikh Rabi’ hafizhahullah…”

Demikianlah, Sofyan Ruray telah menjelaskan kepada kita semua bahwa pembawa berita dusta tersebut adalah:

  1. Semua ustadz yang berhasil dia hubungi (maksudnya kafilah Al Ustadz Dzulqarnain yang hadir dalam jalsah Mekah)
  2. Secara khusus dia menyebut nama Al Ustadz Abdul Mu’thi’ Al Maidani Jogja sebagai pembawa berita dustanya.

Ketiga,

Kebohongan mereka di atas (yang disebutkan oleh Sofyan Ruray dalam pernyataan Taubat ber-ekornya) telah ada bukti penjelasannya secara resmi sebagaimana rilis kesimpulan-kesimpulan pembahasan pada jalsah Mekah yang dihadiri oleh Asy Syaikh Khalid dan disetujui oleh Asy Syaikh Rabi’ sebagaimana link bukti di bawah ini:

siapa yang berdusta..

Gambar 2. Screenshot rilis resmi pembahasan terkait Ja’far Umar Thalib. Siapa yang dusta ya ikhwah?

Na’am, dengan bukti di atas, kami ingin mengilzam siapapun yang membaca tulisan ini (tak peduli sebenci apapun mereka dengan kalimat ilzam ini), gunakanlah akal sehat kalian karena sesungguhnya, diantara dua berita tersebut, yang satu mengingkari dan yang lainnya lagi menetapkan tak luput bahwa SALAH SATU PIHAK PASTI TELAH BERDUSTA!!!!

Apakah pihak kafilah Al Ustadz Dzulqarnain yakni pengingkaran semua ustadz yang berhasil dihubungi (terkhusus nama Al Ustadz Abdul Mu’thi Al Maidani yang disebut) oleh Sofyan Ruray ataukah penetapan asatidzah yang termaktub nama-nama mereka dalam rilis resmi nasehat Asy Syaikh Rabi’ dalam beberapa permasalahan manhajiyyah di Indonesia plus Syaikh Khalid Azh Zhafiri dan Asy Syaikh Rabi’ yang menyetujuinya?

Keempat,

Untuk sedikit memberikan wawasan terkait klaim (salah!!) mengenai tertutupnya pintu taubat Ja’far Umar Thalib, berikut sedikit cuplikan pada dialog di kediaman Asy Syaikh rabi’ hafizhahullah. Hal mana akan menjelaskan bahwa tudingan menutup pintu taubat terhadap Ja’far Umar Thalib (sebagaimana yang dikisahkan oleh Sofyan Ruray dan ditujukan kepada Syaikh Rabi’ sebagai tertuduhnya) sebenarnya tudingan yang sama telah dilontarkan kepada asatidzah. Berikut dialog antara al ustadz Dzulqarnain dengan Asy Syaikh Rabi’:

الأخ الأستاذ ذو القرنين:…… المشكلة الأخ لقمان كأنه يشعر للناس باب التوبة لجعفر مغلقة

الشيخ : كيف؟

الأخ الأستاذ ذو القرنين: كأنه يشعر للناس جعفر هذا ما يستطيع أن يتوب ولا يقبل توبته

الشيخ: …….يمرقون من الدين ثم لا يعودون إليه ……….. جعفر، أنا قد نصحته و نصحته و نصحته ما عندي أمل…………….. لأنه متبع لهواه وراء الدنيا …..ويبغى المناصب

Al Ustadz Dzulqarnain: “Masalahnya Al-Akh Luqman seakan-akan dia mengesankan kepada manusia bahwa pintu taubat bagi Ja’far telah tertutup (dan sekarang Sofyan Ruray yang berbicara bahwa Syaikh Rabi’ yang mengesankan kepada manusia pintu taubat bagi Ja’far Umar Thalib telah tertutup!! Perhatikan dan ambil pelajaran dari kesamaan tuduhan mereka ini ya ikhwah, hanya saja yang membedakannya adalah obyek penderitanya -pen.)”

(Nampak terdengar juga suara Hanan Bahanan yang sangat bersemangat ikut menimpali untuk  mendukung pernyataan Al Ustadz Dzulqarnain)

Asy-Syaikh Rabi’: “Maksudnya bagaimana?”

Al Ustadz Dzulqurnain: “Seakan-akan dia mengesankan kepada manusia bahwa Ja’far ini tidak mampu bertaubat dan tidak akan diterima taubatnya”.

Asy-Syaikh Rabi’: “Mereka (orang-orang Khawarij –pent) keluar dari agama ini dan tidak kembali lagi. Adapun tentang Ja’far, aku telah menasehatinya, aku telah menasehatinya dan aku telah menasehatinya, aku tidak punya harapan lagi. Karena dia adalah pengekor hawa nafsu karena kepentingan dunia dan ingin mencari kedudukan.”

Mungkin diantara pembaca ada bertanya, dimana kami bisa mendapatkan bukti dialog tersebut?

Kelima,

Dustanya Pendusta yang didustakan oleh rekamannya sendiri!!!

Dan sungguh sangat menakjubkan keadaannya bahwa semua dialog di atas bisa kita dengarkan dari file rekaman jalsah Mekah yang direkam (sendiri!!!!!!!!!) oleh Kafilah Al Ustadz Dzulqarnain yang menurut persaksian Sofyan Ruray bahwa mereka yang berhasil dia hubungi yang hadir dalam Jalsah Mekah telah mengingkari penyataan Asy Syaikh Rabi’ terhadap Ja’far Umar Thalib sebagaimana telah termaktub pada uraian bagian ke dua!!

Simak audio berikut ini:

atau download di sini

(Sumber: File Liqa’ ma’a Syaikh Rabi’ yang direkam oleh kafilah  Al Ustadz Dzulqarnain, menit ke 28.49 – 29.22)

Apakah ada diantara pembaca sampai bisa berfikir sejauh ini betapa jauhnya kenekatan mereka dalam berdusta? Mereka adalah para ustadz yang mengaku berdakwah di atas manhaj Nubuwwah tetapi hawa nafsu telah membuat mereka lupa (daratan) karena menjadikan persoalan manhaj di Indonesia adalah semata urusan (yang sangat rendah dan hina) perselisihan/permusuhan dengan seorang Luqman sampai-sampai mereka yang merekam sendiri, mereka yang menyebarkannya dan mereka pula yang mendustakan isi rekamannya?! Berdusta atas nama Asy Syaikh Rabi’ hafizhahullah!!!

Jadi, kalaupun Sofyan Ruray mengingkari pengakuannya (bahwa semua ustadz yang berhasil dia hubungi dan secara khusus dia menyebut nama Al Al Ustadz Abdul Mu’thi’ Al Maidani Jogja) mereka adalah sebagai pembawa berita dusta maka hal ini tidak berpengaruh sama sekali karena di sisi kita ada bukti file Jalsah Mekah hasil rekaman mereka sendiri seperti yang telah kita dengarkan bersama.

Bagaimanapun, pada ekor taubatmu engkau telah menuntut agar kami beradab terhadap para pendusta itu, sungguh itu tuntutan yang jungkir balik yang tidak mungkin kami penuhi karena Syari’at Islam tidak mengajarkan kepada kami untuk menghormati dan memuliakan orang-orang yang berani berdusta, bersaksi palsu, khianat (kepada dirimu!) kepada umat apalagi atas nama ulama! Sungguh tuntutanmu itu merupakan bukti nyata akan kebaikan adabmu terhadap pendusta dan yang berani bersaksi palsu.

Firman Allah Ta’ala ketika menggambarkan salah satu sifat hambaNya yang mendapatkan kemuliaan:

وَالَّذِينَ لا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا (٧٢)

“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Fuqan: 72)

Allah Ta’ala juga berfirman:

… وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ (٣٠)

“…dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.” (QS. Al Hajj:30)

Dan bagaimana bisa engkau menuntut adab kami atas mereka sementara Allah Ta’ala telah menegaskan:

… إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ (٢٨)

“…Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.” (QS. Al Mu’min: 28)

Setelah semua buktinya kami sodorkan, lalu dimana kami dan segenap kaum muslimin bisa mendapatkan pengingkaranmu terhadap perilaku su’ul adab para pendusta itu wahai Sofyan sebagaimana yang engkau tuntut terhadap situs tukpencarialhaq dan atsarsunnah? Ataukah sikap diammu terhadap Para Pendusta (yang telah “bersepakat” memberimu kabar dusta!!) adalah adab mulia yang pantas untuk ditutup-tutupi dan dibela-bela dengan membawa-bawa nasehat Al Ustadz Muhammad As Sewed, Syaikh Abdullah Mar’i, Syaikh Utsman As-Salimi dan Asy Syaikh Abdullah Al Bukhari hafizhahumullah?? Duhai….

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s