Beranda » Manhaj » Jawaban Syubhat Tahdzir Hanya Hak Ulama?

Jawaban Syubhat Tahdzir Hanya Hak Ulama?

 

Jawabansyubhat1b

FAWAID MANHAJIYYAH DARI ASY-SYAIKH AHMAD BAZMUL HAFIZHAHULLAH

PERTANYAAN KELIMA: Apa pendapat Anda tentang orang yang mengatakan bahwa kesalahan itu tidak dibantah kecuali oleh ulama?

Asy-Syaikh Ahmad Bazmul hafizhahullah wara’aah menjawab;
Kaidah ini tidak ada dalilnya. Termasuk manhaj salaf –semoga Allah meridhai mereka- dan termasuk amalan mereka, (bahkan kami mengetahui bahwa) mereka mengingkari perkara ini.

Ibnu Mas’ud a ketika didatangi Abu Musa al-Asy’ari a, saat itu Abu Musa baru saja melihat orang-orang yang berhalaqah (dzikir berjamaah), dan Abu Musa melihat suatu perkara yang diingkarinya (yaitu bid’ah dzikir berjama’ah yang mereka lakukan), Ibnu Mas’ud a bertanya, “Apa yang engkau katakan kepada mereka?” Abu Musa a menjawab, “Aku tidak mengatakan apapun, karena aku menunggu pendapatmu.” (atau yang semisalnya yang dikatakan oleh Abu Musa al-Asy’ari). Maka Ibnu Mas’ud berharap/berangan sekiranya Abu Musa al-Asy’ari a langsung mengingkari mereka, dan tidak perlu menunggu (pendapat)nya. Dan Abu Musa a termasuk murid Ibnu Mas’ud a.

Dalil ini sangat jelas menunjukkan bahwa  para Salaf , ketika mereka mendengar kemungkaran, mereka mengingkarinya secara langsung, mereka sendiri mengingkarinya, dan juga (demikian yang mereka harapkan dari/dilakukan oleh) murid-murid mereka.

Kemudian apa yang menjadi pendapat mereka terhadap keumuman makna hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

من رأى منكم منكرا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان أو كما قال عليه الصلاة والسلام

“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaknya ia merubahnya dengan tangannya. Bila ia tidak mampu, dengan lisannya. Bila ia tidak mampu, dengan kalbunya. Yang demikian ini adalah keimanan yang paling lemah”

Hadist ini umum, tidak hanya untuk para penuntut ilmu. Bahkan orang-orang awam yang melihat kemungkaran yang mereka ketahui bahwa perkara itu adalah kemungkaran di dalam syariat Allah ta’ala, hendaknya mereka mengingkarinya.

Jadi menggantungkan (pengingkaran) kemungkaran kepada para ulama adalah pendapat yang batil, ganjil, pendapat yang ditujukan untuk membela diri, dan perkataan yang ditujukan untuk mengunggulkan diri di dalam peletakan asas-asas batil yang nampak pada diri pelakunya. Semoga Allah memberkahimu, hadits ini umum dan mencakup bahkan orang awam sekalipun. Saya, misalnya saya orang awam, lalu saya melihat seseorang yang minum khamr, saya harus mengingkarinya, meskipun saya orang awam, karena perkara ini saya ketahui (kebatilannya).

Bila demikian, urusan para ulama adalah melakukan bantahan -dan bantahan ini dikhususkan bagi mereka di dalam permasalahan-permasalahan yang membutuhkan ijtihad dan pertimbangan yang cermat/mendalam, yang seorang penuntut ilmu tidak menguasainya. Adapun permasalahan-permasalahan yang zhahir bagi para penuntut ilmu dan permasalahan yang mereka bisa mengetahui (dan memisahkan) yang haq dari yang batil dengan dalil dan hujjahnya di dalam permasalahan tersebut, maka sikap diam terhadap masalah itu adalah dosa dan bencana bagi orang yang mampu mengingkarinya, yang tidak ada halangan baginya untuk mengingkarinya, dan tidak ada orang lain yang mengambil posisinya di dalam (menegakkan kewajiban mengingkari) perkara tersebut.

السؤال الخامس : ما رأيكم في من يقول أن الخطأ لا يرده إلا العلماء ؟

الشيخ أحمد بازمول حفظه الله ورعاه :

نعم هذه القاعدة لا دليل عليها من منهج السلف الله عليهم رضوا ومن تعاملاتهم بل نرى أنهم يعني ينكرون هذا الأمر.

ابن مسعود رضي الله عنه لما أتاه أبو موسى الأشعري وقد رأى أصحاب الحلق وراى أمرا أنكره قال ماذا قلت لهم قال لم اقل شيئا في انتظار رأيك أو كما قال فابن مسعود كان يأمل من أبي موسى الأشعري رضي الله عنهم أجمعين أن يرد عليهم مباشرة ولا ينتظره وأبو موسى كان من طلاب ابن مسعود فهذا الدليل واضح جدا في أن السلف كانوا إذا سمعوا بمنكر أنكروه بأنفسهم أو من طلابهم .

ثم ما رأيهم في عموم قوله صلى الله عليه وسلم :” من رأى منكم منكرا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان أو كما قال عليه الصلاة والسلام فهذا الحديث عام ليس فقط طلاب العلم حتى العوام الذين يرون المنكر مما يعلمون أنه منكر في شرع الله عز وجل ينكرونه فتعليق المنكر بالعلماء قول باطل شاذ قول يراد به الدفاع عن النفس قول يراد به رفعة النفس في ما يظهر لصاحبه هذه تاصيلات باطلة بارك الله فيك الحديث عام شوف حتى العوام أنا مثلا عامي وأرى رجلا يشرب الخمر أنكر عليه مع أني عامي لكن هذا الأمر معلوم لي.

إذا قضية العلماء نعم يردون ويكون الرد خاص بهم في مسائل الأجتهاد في المسائل التي تحتاج إلى إجتهاد ودقة نظر ولم يتأهل لها طالب العلم أما المسائل الظاهرة لطلاب العلم والتي يعلمون فيها الحق من الباطل بدليله وبحجته فإن السكوت هنا على من استطاع الإنكار وعدم المانع فإن سكوته إذا كان غيره لم يقم مقامه فإن سكوته إثم ووبال عليه .

Sumber :http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=136061

Dikumpulkan oleh Abu Muhammad as-Sunni al-Libi.
Diterjemahkan oleh Ummu Maryam Lathifah.

sumber :http://forumsalafy.net/?p=763

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s